Blogger Perempuan

Blogger Perempuan
Kunjungi laman Blogger Perempuan dan baca tulisan saya melalui link berikut

Kamis, 27 Juni 2024

The Reasons Why...

I was scrolling through my timeline when the following post came by;

My mind immediately screamed, "TOTALLY TRUE! TOTALLY AGREE!"

Because many of us who have now become parents were raised by parents and families and were involved in an environment that did not prioritize at all and even tended to ignore feelings. Expressing disappointment, sadness, anger, self-doubt, and so on is considered excessive and strange. In fact, feelings are something that is experienced and felt naturally and just comes according to conditions and situations.

The reason why I provide more books about recognizing emotions and feelings for children, rather than general knowledge books such as science and mathematics is because I was in that phase; ignoring my own feelings just to not be told differently. This made me apathetic and cold, taking everything related to feelings for granted.

That's why apart from providing books with religious nuances to my children, I also facilitate books that discuss feelings and emotions. Because I want my child to grow up to be someone who is independent and prioritizes her own good, who understands herself, who is done with herself, and becomes an individual who has principles and is able to make decisions about important choices in her life. So that in the future, she can also respect other people's positions, not become someone who underestimates and excludes other people, does not consider other people's feelings important, does not empathize, selfish, has difficulty placing herself so that she becomes a hated individual.

I want my child to be a good friend in the future. Maybe even the best friend anyone can get. She is able to delve into even hidden emotions and deepest desires, she is asked for advice and visited as a listener. Who is not easy to judge and give judgments arbitrarily. I would tell her, that whatever she feels is valid and she is safe to express what is in her heart without fear of hurting and being hurt by whatever comes after.

This journey is still very long. However, the determination and mission to build a generation that is literate and intelligent in feelings and humanity must start from an early age. Trying as hard as possible to be close to perfection and idealism is an obligation as a parent. That's a form of responsibility. I hope that, in the future, my children can take various forms and spread across the face of the earth as the best version of themselves and everything this ummah needs.

Selasa, 23 April 2024

Urgensi Kemahiran Berbahasa Inggris di Era Modernisasi dan Globalisasi

Urgensi Kemahiran Berbahasa Inggris di Era Modernisasi dan Globalisasi
Sejak abad ke-18, bahasa Inggris ditetapkan sebagai bahasa Internasional. Beberapa negara selain Inggris bahkan menjadikan bahasa Inggris sebagai bahasa resminya.
Menurut data Statista, bahasa Inggris memiliki jumlah penutur paling banyak di dunia, yaitu mencapai angka 1,5 miliar.
Hal ini menyebabkan penguasaan dan kemampuan berbahasa Inggris dianggap perlu dan penting. Sayangnya, data Indeks Kemahiran Bahasa Inggris EF (EF EPI) tahun 2023 menunjukkan kemampuan bahasa Inggris masyarakat Indonesia masih tergolong rendah yakni menempati peringkat 79 dari 113 negara. Padahal, semakin banyak penutur dan penyebaran atas suatu bahasa, maka akan berlimpah pula informasi beredar menggunakan bahasa tersebut. Sehingga dapat dikatakan bahwa sebagian besar ilmu pengetahuan ditulis dalam bahasa Inggris. Keterbatasan berbahasa akan memengaruhi cara masyarakat dalam belajar, berpikir, dan berkomunikasi.
Masalahnya, peningkatkan kemampuan berbahasa Inggris menyasar seluruh lapisan masyarakat Indonesia terkendala oleh, di antaranya, akses pembelajaran di sekolah yang tidak merata dan kualitas pengajaran serta tenaga pendidik yang tidak seimbang di berbagai daerah.
Kita tentu tak ingin hal ini terjadi berlarut-larut. Oleh karena itu, mengajarkan bahasa Inggris kepada anak merupakan sesuatu yang krusial. Untuk menumbuhkan ketertarikan terhadap bahasa Inggris, orangtua sebaiknya mulai mendekatkan anak dengan bahasa tersebut sedini mungkin. Bisa dengan memperdengarkan lagu, bermain puzzle berbahasa Inggris, flash card, membacakan cerita dengan dua bahasa (bahasa Indonesia dan bahasa Inggris), atau mewarnai objek-objek tertentu sembari menjelaskan beberapa kata berbahasa Inggris.
Memasuki masa sekolah, orangtua juga dapat mempertimbangkan anak untuk mengikuti les bahasa Inggris agar memperoleh metode belajar yang lebih intensif dan terarah.

Orangtua kini dapat merasa lega, karena kursus/les bahasa Inggris telah tersebar di berbagai area yang memungkinkan anak untuk mengakses kesempatan mendalami bahasa Inggris sebagai bahasa Internasional. Mengapa les bahasa Inggris harus dimulai sejak dini? Menurut para peneliti dari Harvard University, anak-anak berusia di bawah 18 tahun umumnya lebih mudah menyerap bahasa baru selain bahasa yang dituturkan oleh ibunya (mother language) daripada kelompok usia lain. Sebuah studi menunjukkan bahwa anak-anak yang menguasai dua bahasa (bilingual) atau lebih (multilingual) umumnya memiliki kemampuan kognitif yang fleksibel, daya tangkap yang lebih cepat, dan ingatan yang lebih tajam. Hal ini rupanya berpengaruh terhadap prestasi akademik dan non akademik anak, lho. Mempelajari bahasa asing juga terbukti mampu menumbuhkan, mengasah, dan memperkaya kemampuan linguistik seseorang. Pada era modernisasi dan globalisasi seperti sekarang, individu yang terbiasa akrab dengan bahasa Inggris, akan lebih mudah beradaptasi di masa depan dan berkontribusi penuh di dalam masyarakat.Les bahasa Inggris anak bukan lagi menjadi pilihan, tetapi keharusan. Ketika pelajaran bahasa Inggris di sekolah saja tidak cukup untuk memenuhi wawasan dan pengetahuan anak tentang bahasa Inggris, orangtua baiknya memfasilitasi anak untuk mengikuti program seperti bimbingan belajar, kursus, atau les yang secara terus menerus mengasah kemampuan anak. Terlebih, dengan teknologi yang semakin mutakhir, opsi belajar bahasa Inggris sudah tak lagi terbatas jarak atau lokasi.
Era digitalisasi memudahkan manusia, membantu pekerjaan dalam membuat, mengubah, menyimpan, menyampaikan dan membagikan informasi secara lebih cepat, tepat, berkualitas dan efisien.

Saat ini banyak platform dan lembaga pembelajaran yang menyediakan kursus bahasa Inggris online dengan metode belajar yang fleksibel dan mandiri dengan biaya terjangkau. Anak dapat belajar di mana saja dalam pengawasan orangtua dan bisa mengikuti pelajaran sesuai kapasitasnya. Anak juga bisa mengulang kembali materi yang dipelajari kapanpun mereka mau. Salah satu lembaga yang bergerak secara online dan offline untuk mencerdaskan anak bangsa ialah KUMON.

Dengan program KUMON CONNECT, diharapkan minat masyarakat terhadap pembelajaran bahasa Inggris semakin tinggi.
KUMON CONNECT merupakan cara terbaru belajar Kumon secara digital, bertujuan untuk menjalin kedekatan anak-anak, orangtua, dan pembimbing melalui komunikasi yang intens serta hubungan personal yang erat. KUMON CONNECT adalah program belajar mandiri yang sama dengan saat mengerjakan soal menggunakan lembar kerja kertas Kumon. Cara ini bisa menumbuhkan rasa percaya diri, kemampuan belajar, dan memacu anak untuk memaksimalkan potensi mereka.
Dengan KUMON CONNECT, semua yang dibutuhkan anak-anak untuk belajar ada di perangkat tablet mereka. Sederhana, cepat, dan terukur. Tujuannya yaitu memberikan kesempatan yang sama bagi setiap anak agar dapat maju secara bertahap tanpa adanya perbedaan pembelajaran dalam proses belajarnya di Kumon.
Inovasi teknologi di bidang pendidikan, komunikasi, dan informasi adalah transformasi yang mendukung kemajuan kualitas sumber daya manusia. Anak-anak yang hari ini terpapar dampak positif teknologi akan dengan cepat membaur bersama dengan perkembangan zaman. Ilmu pengetahuan dapat diakses dengan begitu mudah sehingga cita-cita pemerataan pendidikan dapat segera terwujud.

Mari optimal dalam memaksimalkan potensi, minat, dan bakat anak. Persiapkan anak agar mampu bersaing sebagai global citizen, pemimpin, dan pionir perubahan.

Rabu, 07 Februari 2024

International Day of Zero Tolerance for Female Genital Mutilation

International Day of Zero Tolerance for Female Genital Mutilation

6 Februari 2024


International Day of Zero Tolerance for Female Genital Mutilation campaign is an effort to end the practice of female genital mutilation (FGM). In 2012 the UN General Assembly designated February 6 as the date to commemorate International Day of Zero Tolerance for Female Genital Mutilation. Reported by the Unicef ​​website, Unicef ​​is collaborating with UNFPA in the Elimination of Female Genital Mutilation program. This was established through interventions in 17 countries where the practice is common.


Tahun ini, peringatan Hari Anti Sunat Perempuan mengambil tema "Her Voice, Her Future".


Lebih dari 200 juta perempuan yang hidup saat ini telah mengalami mutilasi atau sunat. Tahun ini, hampir 4,4 juta anak perempuan berisiko terkena praktik berbahaya FGM, yang setara dengan lebih dari 12 ribu kasus setiap hari.


Data dari UNICEF tahun 2021 memperlihatkan, setidaknya ada lebih dari 200 juta perempuan termasuk anak-anak di 30 negara yang telah menjalani praktik FGM. Indonesia sendiri berada di peringkat ke-3 jumlah kasus FGM terbesar di bawah Mesir dan Etiopia.


Istilah sunat memiliki arti yang berbeda-beda dilihat dari sudut pandang penilainya. Untuk laki-laki, jelas sunat adalah tindakan memotong atau menghilangkan sebagian atau seluruh kulit penutup depan dari penis untuk kepentingan kesehatan. Yang terpenting, praktik ini WAJIB hukumnya dalam Islam.


Namun, berbeda ketika kita bicara soal sunat perempuan. Pengetahuan tentang pemotongan/penghilangan yang didapat dari istilah sunat laki-laki, menjadikan masyarakat kerap berpikir bahwa tindakan tersebut juga harus dilakukan SAMA PERSIS kepada perempuan. Padahal secara bentuk dan fungsi organ laki-laki dan perempuan memiliki perbedaan.


Para ulama pun memiliki perbedaan pendapat mengenai sunat perempuan. Ada yang mengatakan wajib, sunnah (dianjurkan), dan diperbolehkan (tanpa konsekuensi hukum).


Anjuran dalam Islam pun sudah jelas perihal sunat perempuan (bagi ulama yang memfatwakan bahwa tindakan ini terkategori WAJIB), yaitu; memotong atau melukai sedikit kulit penutup (prepusium) klitoris. Yang pada faktanya tidak dipahami oleh banyak orang. Terlebih, tidak semua anak perempuan mempunyai prepusium yang menutupi klitoris maupun saluran kemih, sehingga sunat dinilai tidak perlu dilakukan pada setiap perempuan.


Klitoris yang dipotong sebagian atau seluruhnya dapat menyebabkan perempuan alpa dalam merasakan rangsangan dan kenikmatan seksual, bahkan orgasme. Yang mana akan berdampak pada penurunan hasrat seksual, nyeri saat berhubungan intim, kesulitan saat penetrasi penis, serta penurunan lubrikasi selama bersanggama.


Sunat perempuan yang disamakan dengan sunat laki-laki, menyebabkan praktik mutilasi organ genital (female genital mutilation) menjamur terutama di daerah-daerah yang masih meyakini aktivitas keagamaan atau kepercayaan tertentu yang dilakukan secara turun temurun.


Tidak adanya pemahaman yang benar tentang sunat perempuan menurut syariat tanpa melibatkan adat istiadat, tradisi, upacara khusus, yang rawan penggunaan alat-alat tidak steril, dapat mengakibatkan penderitaan panjang bagi perempuan. Mulai dari pendarahan, kista, penyakit menular seksual, infeksi saluran kemih, keputihan, bakterial vaginosis, gangguan menstruasi, rasa sakit saat berhubungan seksual, serta peningkatan risiko komplikasi persalinan, dan kematian.


Sunat pada anak perempuan juga berarti menghilangkan dan merusak jaringan genital yang sehat dan normal. Hal ini tentunya berisiko mengganggu fungsi alami tubuh perempuan.


Praktik sunat perempuan dilanggengkan tidak terlepas dari kepercayaan masyarakat terhadap mitos yang banyaknya mengatasnamakan agama dan tradisi nenek moyang. Salah satu yang masih dipercaya hingga hari ini adalah bahwa sunat perempuan semata dilakukan untuk mengendalikan nafsu seksual atau syahwat perempuan. Tidak sedikit orangtua yang hidup di era modern, merasa harus menyunat anak perempuan mereka dengan dalih melindungi anak dari pergaulan bebas karena nafsu seksualnya telah tunduk sebab telah disunat sedemikian rupa. Orangtua percaya pada zaman dahulu, sunat perempuan menjadikan perempuan tunduk dan betah di rumah, tidak terlibat kehidupan bebas yang melibatkan aktivitas seksual di luar pernikahan atau perzinahan. Padahal, modernisasi telah mengubah zaman dengan teknologi yang di dalamnya terdapat internet, media sosial, platform edukasi, semakin banyak tenaga kesehatan yang mudah dijangkau, ilmu, alat, dan fasilitas kesehatan yang semakin berkembang, serta komunitas, forum, dan kelompok terdidik yang bergerak demi mencerdaskan kehidupan bangsa, menolak pembodohan, demi kemajuan dan peningkatan kualitas generasi penerus.


Orangtua harus berpikiran mengikuti zaman dan membesarkan anak agar mereka kelak dapat mengikuti perkembangan yang ada di sekitarnya. Pola asuh, kebiasaan, percontohan, adalah tanggung jawab orangtua dan merupakan perjalanan panjang yang akan berdampak pada bagaimana cara anak kelak akan berpikir, bertindak, dan mengambil keputusan, termasuk tentang lingkungan pertemanan dan pergaulan. Menjadi orangtua yang bijak, mengajarkan ilmu agama sedini mungkin, menerapkan batas, disiplin, dan mendengarkan anak, being present sehingga anak merasa dibersamai, didukung, diperhatikan, dan diberi kasih sayang. Hal-hal inilah yang akan menjauhkan anak dari pergaulan bebas, bukannya mutilasi pada alat kelamin mereka.

Kamis, 18 Januari 2024

Kita Merdeka untuk Memilih Termasuk dalam Membangun Rumah Tangga

Kita Merdeka untuk Memilih Termasuk dalam Membangun Rumah Tangga

(If you are planning to get married, maybe this is suitable for you to read)



Pernikahan adalah kumpulan janji, komitmen, kesetiaan, tanggung jawab, dan usaha. Bagaimana dua orang dengan perbedaan pribadi, latar belakang, asal usul, bahkan lingkar sosial memutuskan untuk membangun institusi rumah tangga dan bekerja keras bersama-sama untuk menyukseskan apa yang mereka yakini dan imani. Kompromi, saling mengerti, kepedulian, bahu membahu, saling melengkapi segala apa yang ganjil dan timpang pada jiwa serta kalbu masing-masing.


Untuk mencapai cita-cita dan destinasi yang telah disepakati, sepasang manusia harus rela pun bersedia mengoreksi, menyeleksi, dan mengeliminasi, menyatukan kepentingan, agar tidak ada kompetisi pun perbedaan pendapat yang berakhir saling menyakiti.


(Sebagian teks dihilangkan untuk keperluan percetakan)

Merespons Fatwa HARAM Vasektomi yang dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia

Sepekan lalu, MUI melalui akun Instagram resminya, merilis tanggapan mengenai kebijakan yang diberlakukan oleh Gubernur Jawa Barat, yaitu: m...