Blogger Perempuan

Blogger Perempuan
Kunjungi laman Blogger Perempuan dan baca tulisan saya melalui link berikut

Selasa, 16 Februari 2021

Bergamot Essence

 

BERGAMOT ESSENCE

 

"Kapan terakhir kali kamu menangis?"

 

Seseorang di depanku memulai sesi 'diskusi' kami dengan satu pertanyaan sederhana, "Kapan terakhir kali kamu menangis?"

 

Well, tidak sulit.

 

"Bulan lalu."

 

"Kenapa?"

 

"Karena sebuah fiksi menyedihkan di Wattpad dan karakternya menyebalkan setengah mati."

 

Dia terlihat tersenyum geli, sementara aku mempersiapkan diri. Pertanyaan yang dilontarkan biasanya akan semakin rumit. Meski demikian, 'temanku' ini selalu tahu, jawabannya tersedia; hanya mulutku seringkali kelu hingga diam jadi niscaya.

 

"Selain itu?"

 

Aku memiringkan kepala. Menatap langit-langit ruangannya yang berwarna putih gading, mengolah sebuah pola cepat untuk menjemput ingatan. Pandangan kami lalu bertemu dalam satu garis lurus.

 

"Tidak ada."

 

"Yakin?"

 

Aku mengangguk pasti. Membenahi posisi duduk yang mulai tak nyaman, menyesap secangkir teh hangat yang uapnya mengangkasa pelan-pelan.

 

"Kalau begitu, kapan terakhir kali kamu menangis karena seseorang… yang nyata?"

 

Aku menghentikan ketukan tanganku pada permukaan meja kaca, mengerutkan dahi.

 

'Karena seseorang…'

'Kapan?'

 

"Tidak tahu."

 

"Kamu tahu."

 

"Lupa."

 

Satu detik, dua detik…

 

Jemariku saling meremat di pangkuan. Keringat dingin mulai muncul di pelipis. 'Temanku' lagi-lagi tersenyum, ganjil. Aroma bergamot dalam ruangan ini kian pekat ketika jemari kakiku yang terlepas dari sepasang sandal menyentuh dinginnya lantai.

 

"Kamu tahu aturannya, bukan?" iya berdiri tanpa suara, beranjak menuju sebuah dispenser di sudut ruangan dan memulai ritual; membuat kopi hitam tanpa gula yang anehnya tak pernah muak ia telan.

 

"Kita tidak akan bergerak ke mana pun jika tidak lagi memedulikan kejujuran. Kita sudah sepakat, bukan?" Ia berbalik tiba-tiba, menatapku lembut meski nada suaranya berkebalikan.

 

Aku masih bungkam. Tetapi sesaat setelah benang kusut kembali menghantam dan dadaku seolah diremat kuat, sesak, kutemui sekotak tissue didorong mendekat.

 

"Air matamu." katanya, pendek.

 

Buru-buru kutarik sepasang, lantas menghela napas cukup keras meski tak terisak.

 

"Ada seseorang," aku mulai bicara. "dia mengungkit kapabilitasku, main-main dengan prinsipku, menertawakan keberadaanku, dan menciptakan lelucon tentang… diriku."

 

"Temanmu?"

 

"Ya."

 

"Berapa lama kalian saling mengenal?"

 

"Dua tahun? Entahlah, aku tidak yakin."

 

"Apa kalimat terakhir yang dia katakan padamu?"

 

"Kami tidak seharusnya saling mengenal. Dia… dia bilang, itu bagian dari salah satu kesialan hidup. Bagian yang sayangnya besar."

 

"Lalu?"

 

"He thinks that… I'm a difficult person."

 

Suara ketikan pada keyboard laptop di depan sana masih terdengar. Aku menyeruput tehku lagi. Sudah tak sehangat pertama kali cangkir mampir di hadapan, namun aku masih tetap memerlukan sesuatu untuk melegakan kerongkongan.

 

"Lalu, apa yang kamu pikirkan tentangnya?"

 

"Orang baik namun jauh dari kata bijaksana."

 

"Begitu?"

 

Aku mengangguk. 'Temanku' menghembuskan napas, jemarinya tetap menari dan pandangan itu makin serius seolah tengah membabat habis segala kemungkinan buruk.

 

"Orang baik tidak akan menggores hati siapa pun dengan sengaja."

 

Aku menunduk, sedikit mengangguk sebab sepakat.

 

"Tetapi dia memang orang baik."

 

"Beri aku satu alasan."

 

"Dia pendengar yang sabar."

 

"Then, why he kicked you out?"

 

"Mungkin… mungkin karena aku berbeda. Aku tidak pantas, tidak layak atas perlakuan manusiawinya. Dia berbuat menyenangkan pada semua orang, kecuali aku. Dia membantu banyak orang tanpa pamrih kecuali denganku. Dia… dia melalukan segala hal dengan sempurna dan tepat sasaran."

 

"He kicked you out."

 

"He did."

 

"Dan menurutmu, dia tetap orang baik?"

 

"Ya, aneh bukan?"

 

Kami saling pandang. Aku yakin sepasang netraku yang redup telah kembali diisi badai, sementara miliknya seperti biasa, kelabu, dihantui mendung. Ada pahit yang perlahan merangkak dan kusesap.

Sesi hari ini berakhir begitu saja dengan PR kecil, "Bisa bantu aku mengidentifikasi kembali makna baik dalam kepalamu? Kita bertemu lagi besok. Jaga kesehatanmu."

 

Mendadak, aku dihajar pening.

 

***

 

Bara masih duduk tegap sembari mengamati layar maya di hadapan, menampilkan data dan coretan-coretan kecil yang sengaja ia buat demi mempermudah peta pertanyaan, sampai konklusi setiap sesi terapi yang harus ia selesaikan setiap hari. Daftar nama, rincian masalah, hingga analisis terbaru yang kini tengah ia susun dan sebentar lagi rampung.

‘Teman ngobrol’ terakhirnya sore ini adalah Calla Lily, atau Bara sendiri kerap memanggilnya Calla, alih-alih Lily seperti yang si perempuan minta sejak awal pertemuan. Sesuai namanya, setangkai bunga musim panas; terlihat tanpa cacat, meski pada waktu-waktu tertentu, ia akan jatuh dan nyaris patah. Bara menghela napas, walau tak sampai dua detik kemudian gegas merapikan peralatan dan meja kerjanya, buru-buru pulang. Perkara Calla akan ia pikirkan lagi nanti. Sebab besok, mereka akan bertemu kembali, dan Bara butuh persiapan matang apabila ingin mendapat jawaban. Calla selalu tandang pada sesi konsultasi paling buruk sekali pun. Mata sembab, wajah pucat, atau saat ia berkata belum tidur berhari-hari dan lupa kapan menelan sesuatu. Perempuan tersebut tidak pernah ingkar, dan Bara bersyukur.

 

***

 

Bergamot, atau Citrus Bergamia merupakan antidepresan paling kuat karena memiliki sifat stimulan; merangsang lepasnya hormon serotonin dan endorfin yang memicu perasaan bahagia. Bergamot bisa menciptakan perasaan sukacita, meningkatkan kesegaran, dan energi. Secara tidak langsung juga mampu meningkatkan sirkulasi darah dalam tubuh. Spesifiknya, bergamot mampu menjadi obat alami untuk kegelisahan dan meredakan gelombang kecemasan.

Calla mendorong knop pintu berwarna putih bersih yang pelan-pelan akrab dengannya sejak tujuh bulan terakhir. Mengakrabi kembali aroma campuran kopi, kamomil, dan bergamot yang mau tak mau menghantam indera penciumannya tanpa tedeng aling.

Ia meletakkan ranselnya di atas sofa navy untuk kemudian mendudukkan diri di hadapan sebuah meja kayu tak seberapa panjang.

 

“Aku tidak ingin teh.” alis Calla menukik saat Bara meletakkan secangkir teh hangat seperti yang sudah-sudah. “Aku ingin kopi.”

 

Tak terlihat terkejut sama sekali, Bara menarik kembali teh hangat yang belum tersentuh tersebut dan mengganti dengan gelas kopi miliknya sendiri.

 

“Menikmati makan siangmu?” Bara tersenyum. Rautnya selalu ramah sekaligus sopan.

 

“Sedikit. Hari ini menunya seafood, aku tidak suka.”

 

Bara terkekeh, menemukan Calla menatapnya kesal, lalu mulai menyalakan kembali laptop. Membuka file yang ia perlukan, lalu menyesap teh untuk meredakan kering di kerongkongan.

 

“Jadi, sudah menemukan jawabannya?”

 

“Tentu.”

 

Kali ini, Calla melipat kedua tangan di atas meja, persis murid yang siap menerima pelajaran dari gurunya. Mata bulat yang agak cekung itu beberapa kali melempar tatap pada jendela kaca ditutupi gorden berwarna biru langit.

 

“Jadi?”

 

“Baik adalah saat sesuatu tidak pecah meski digenggam erat-erat.”

 

Bara kembali menatap Calla yang masih tenang di kursi. Ia mengangguk dua kali meski tak merasa jawaban tersebut memuaskannya.

 

“Maka seseorang yang baik adalah?”

 

“Orang baik itu tidak ada.” perempuan di hadapan Bara kini berkaca-kaca, menarik sekotak tissue yang hari ini sengaja diletakkan tepat beberapa jengkal dari tangannya. Bara memang pengertian.

 

Bara tertegun, ia masih belum mengetikkan apa pun. Layar maya di hadapannya masih kosong melompong. Mungkin, ia akan pilih mengesampingkan benda tersebut dan tetek bengek peralatan terapi lainnya hanya demi menyelami lekat-lekat isi kepala Calla, dan pertanyaan atau carut marut apa yang mungkin kerap perempuan tersebut simpan sebab tak juga menemukan jawaban.

Tetapi Bara tahu, akal sehatnya selalu berlawanan dengan kehendak hati yang terkadang lepas kendali. Ia di sini untuk membantu Calla dengan cara yang benar, dengan metode yang tepat, bukan malah menambah masalah. Calla juga bukannya butuh kepedulian menye-menye tanpa landasan. Perempuan itu perlu sembuh.

 

“Calla,” Bara mengedip beberapa kali. Bergerak lamban mematikan laptopnya dan menghabiskan secangkir teh hangat yang barangkali bisa membakar lidahnya. “Bisa kita cari tempat lain untuk bicara?” si lelaki tersenyum, meredakan detak tak beraturan sepanjang napasnya.

 

Alih-alih menjawab, Calla malah menatap tak mengerti.

 

“Kamu pernah bertanya aromaterapi apa yang kupakai di ruangan ini, kan?”

 

Calla mengangguk, kepalanya dimiringkan sejenak.

 

“Bergamot. Pernah dengar?”

“Tidak.”

 

“Nah, akan kujelaskan tentang hal satu itu.” Bara berdiri, menggulung lengan kemejanya hingga siku, lalu tersenyum. “Sekarang, kita perlu turun dan makan sesuatu.”

 

“Aku sudah-”

 

“Bukan seafood.” Bara meyakinkan, ia tidak boleh patah semangat dalam memaksa Calla mengembalikan akal sehatnya.

 

Lagipula, siapa yang bisa berpikir saat perut kosong, benar kan? Bara paham, ia harusnya tak melupakan fakta bahwa Calla kerap menghukum dirinya bila tak berhasil melakukan sesuatu sesuai target yang ia buat sendiri. Contohnya, mengabaikan rasa lapar, sengaja kelaparan, lalu sakit.

Bara harusnya ingat, pekerjaan rumah yang ia berikan, tidak boleh melampaui kemampuan pasien, sebab jika tidak, yang kembali padanya jelas bukan kabar baik.

 

“Ayo, Calla.”

 

***

Palembang, 16 Februari 2021

Siti Sonia Aseka

Senin, 08 Februari 2021

Pengelana & Perjalanan

 

Bagi para pengelana, tebing curam, lautan berombak tinggi, hingga badai melibatkan angin dan hujan menumbangkan pohon-pohon, adalah cita rasa hidup yang harus tetap dilalui meski raga kelelahan serta jiwa meronta enggan.

Padang pasir bahkan hutan rimba sekali pun memiliki karpet merah demi mengizinkan siapa saja masuk. Gelombang panas dan udara beku menggandeng tangannya demi menuntun mereka tetap bergerak maju.

Dari sekian perjalanan, tak sedikit dari kita bertemu di pertigaan, perempatan, puncak gunung, tepi pantai, salah satu ruang pada gedung pencakar langit, atau kebetulan mampir pada rumah-rumah ibadah. Berdiri dalam barisan yang sama, duduk di satu bangku panjang, atau malah mengantri demi sebuah kesempatan vertikal berbincang dengan-Nya. Gema beduk ditabuh, lonceng berdenting, hingga aroma dupa yang dibakar. Terlihat berbeda, tampak bertolak belakang. Namun, sama-sama tahu harus berbuat apa; menunduk, merapal doa-doa, menginsyafi dosa dan memeluk harapan tentang satu muara; pengampunan.

Palembang, 3 Februari 2021
Siti Sonia Aseka

Selasa, 02 Februari 2021

Ketinggalan Kereta

 

Kadang datang masanya kamu merasa nggak paham apa-apa tentang yang terjadi dalam hidup. Kayak semuanya bergerak super cepat dan kamu tahu-tahu ketinggalan kereta. Bengong dulu, nggak jarang memaki diri sendiri kenapa bisa luar biasa terlambat, atau malah mencari-cari objek yang sekiranya dapat disalah-salahkan. Hidup yang katanya nggak abadi juga punya pola; cepat-lambat, turun-naik. Dan dari semuanya, kita belajar (atau lebih tepat disebut 'dipaksa') untuk selalu mampu beradaptasi.

Tapi, tenang. Kereta selanjutnya selalu tersedia. Kamu bisa memesan tiket baru, lalu menaiki gerbong lain untuk sampai tujuan. Atau beranjak pulang ke rumah lagi, mengobrak-abrik daftar agenda yang sudah kamu susun untuk satu hari, demi melampaui spasi berisi kegiatan itu-itu saja. Kadang, kesialan sejenis sebenarnya menyediakan ruang sejenak bagimu untuk bernapas.


Dunia nggak semerta berakhir ketika kamu gagal mengejar satu hal. Dunia juga nggak mendadak menghakimi ketika kamu sedang merasa ada di fase bodoh-bodohnya.

Tentu, apapun opsi yang kamu pilih, semesta selalu menjejalkan makna-makna baru, salah satunya tentang esensi menunggu.


Meski begitu, walau waktu seolah mengejar sampai ujung horizon sana, kita selalu punya zona tenang untuk tidak buru-buru dan mengambil kesempatan demi bersantai dahulu.

Palembang, 1 Februari 2021
Siti Sonia Aseka

Merespons Fatwa HARAM Vasektomi yang dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia

Sepekan lalu, MUI melalui akun Instagram resminya, merilis tanggapan mengenai kebijakan yang diberlakukan oleh Gubernur Jawa Barat, yaitu: m...