Blogger Perempuan

Blogger Perempuan
Kunjungi laman Blogger Perempuan dan baca tulisan saya melalui link berikut

Selasa, 19 Oktober 2021

Yang Sama (ternyata) Berbeda

 

Shakila masih perempuan yang sama, yang payung biru pudarnya mekar di bawah langit kelabu dan hujan sesorean itu. Shakila yang selalu berada di sampingnya meski barangkali kalbu si perempuan memaki habis-habisan. Pertemanan adalah sebuah relasi paling aneh melibatkan dua orang bahkan lebih, tak tertulis, tak memerlukan materai atau perjanjian-perjanjian sejenis, hanya dijalani saja, sembari pintu terus dibuka, mengizinkan yang hendak tandang pun pergi keluar-masuk sebagaimana garis waktu dan kesempatan mempertemukan hingga memisahkan manusia.

Akbar mencopot kacamatanya, melirik kopi yang kehilangan uap, lalu meletakkan kepala di sandaran kursi, memejam sejenak. Ia pening bukan main.

"La, ada persediaan aspirin, nggak?"

Lelaki itu mengintip kubikel sebelah yang hening meski cahaya komputer menyala terang, serta suara tak tik terdengar tanpa henti.

"Pusing lagi?" Shakila mengerutkan dahi, namun tangannya segera bergerak membongkar isi tas demi menemukan wadah penyimpanan berisi obat-obatan pribadi yang kerap ia bawa ke sana ke mari.

"Iya, nih."

"Belum makan, kan? Kebetulan aku mau nyemil. Pop mie aja, mau?"

Shakila berdiri, tak peduli pekerjaannya yang setengah nanggung terabaikan beberapa waktu. Perempuan tersebut buru-buru berjalan ke pantry, mendidihkan air, menyeduh dua gelas pop mie untuk dirinya dan Akbar, sekalian membuka kulkas dan meraih sekantung besar roti yang ia bawa dari rumah tadi pagi. Masih tersegel, belum dibuka.

Akbar yang menjelma workaholic sejati membuat Shakila kadang lelah sendiri. Sebagai teman, ia merasa punya tanggung jawab mengawasi Akbar, apalagi menilik orangtua mereka punya hubungan tak kalah dekat. Akbar adalah tetangga masa kecilnya, teman sepermainan, selalu memasuki sekolah yang sama, bertemu di kampus yang sama pula meski berbeda fakultas, sampai hari ini, menjadi dosen di salah satu Universitas Negeri terkemuka di kota mereka.

"Aku bawa roti juga, karena satu cup pop mie doang nggak akan cukup. Kalau kebanyakan, justru nggak sehat."

Akbar terkekeh lemah, menganggukkan kepala sepakat. Shakila memang benar.

"Sebentar lagi Ashar, sebaiknya kita pulang. Kamu jangan lembur dulu hari ini." Shakila berkata setelah mendudukkan diri di sisi temannya, menarik satu kursi terdekat, memecah keheningan ruang dosen yang hanya menyisakan tiga orang, termasuk dirinya dan Akbar.

"Kerjaan masih banyak banget. Sampai jam delapan malam aja, sih. Nggak begitu larut."

Shakila menghela napas, mengalah. Akbar selalu sulit meninggalkan apapun berkaitan dengan pekerjaan. Padahal dulu, ia tak segila kerja ini.

"Okay, kabari kalau kamu sudah pulang. Jangan bohong!"

Akbar nyengir, mengangguk patuh seperti anak kecil terhadap perintah ibunya. Mereka menghabiskan makanan sembari mengobrol kecil, membahas media kelas atau mahasiswa yang membolos, memberi saran sekaligus bertanya.

Baru dua menit mereka kembali ke tempat masing-masing, Adzan berkumandang memenuhi ruangan dari speaker yang sengaja dipasang pada sebuah sudut. Shakila tersentak, ditertawakan oleh Akbar yang sudah siap dengan sandal jepit dan kopiah hitam.

"Aku salat sekalian pulang, deh."

Shakila memberi isyarat tunggu dengan jemari, tergesa menyimpan peralata  dan merapikan mejanya sembari menunggu komputer redup hingga menyisakan sedikit cahaya senja dari celah ventilasi di atas jendela.

Lorong-lorong fakultas terasa sepi. Beberapa mahasiswa masih sibuk dengan laptop di ruang-ruang kelas tanpa suara; fokus, serius. Tangga yang menghubungkan lantai satu dan dua terletak di ujung kanan dan kiri, mengizinkan penghuni gedung memilih untuk turun-naik melalui sisi yang mana.

"Ternyata Alfaro sudah di bawah."

Shakila menginformasikan, sementara Akbar memaksakan sebuah senyuman. Ia mengangguk formalitas, kemudian mengucap istighfar kencang-kencang dalam hati. Walau sudah bilangan bulan berlalu, perasaan yang bercokol kuat dalam dada tak jua begitu saja lenyap ditelan keterbiasaan.

"Udah lama?"

Shakila menyambut Alfaro dengan pandangan dan raut yang demikian cerah sekaligus teduh begitupula sebaliknya.

"Nggak, kok. Tadi kebetulan bertemu Niru, jadi ngobrol dulu di depan."

Shakila mengangguk, kemudian pamit untuk mengambil wudhu, meninggalkan Akbar dan Alfaro yang saling melempar tatap canggung.

Padahal semua sudah selesai dan lembaran baru telah dibuka. Tetapi mengapa rasanya masih seolah baru kemarin?

Akbar tahu, Shakila telah memilih. Alfaro, lelaki yang kini rambutnya basah sebab air wudhu, yang mengimami salat setelah sedikit saling 'menumbalkan' dengan Akbar, yang selalu menang sekian langkah di depannya terutama soal Shakila, yang namanya selalu disebut dengan ekspresi kasih tak terbendung oleh perempuan itu.

"Jangan pulang malam banget, ya!" Shakila sekali lagi mengingatkan setelah mereka semua selesai menunaikan salat. Akbar mengangguk, disusul tanya oleh Alfaro yang dibalas, "Biasalah, Akbar cinta banget sama kerjaan, jadi tepar."

Pasangan suami istri tersebut berlalu setelah pamit dengan salam, meninggalkan Akbar yang masing menatap kedua punggung mereka; nanar lagi getir. Sisa-sisa keberatan dan ketidakterimaan itu masih ada, masih jelas terasa. Tetapi keikhlasan, seperti yang kerap ia rapal tanpa sudah bak mantera, adalah keharusan dan niscaya.

"Bukankah manusia pasti diuji dengan dua hal?"

Akbar ingat, Ibunya menasihati pemuda itu dengan lembut dan hati-hati.

"Terhadap hal-hal yang disukai dan tidak disukainya, Akbar."

Ibu benar.
Lantas mengapa ia masih larut dengan tanya yang juga sudah jelas jawabannya? Mengapa ia masih tak dapat beralih meski Shakila telah memutuskan untuk lupa dan menganggap mereka tak lebih dan tak kurang seindah kala SMP tanpa bumbu-bumbu lainnya? Mengapa hanya Akbar yang tertinggal di belakang bersama segala kenangan?

Adalah kerinduan, membuat manusia menggila sekaligus sembuh. Pun realitas, menyadarkan manusia; tak mungkin ada dua dalam satu.



Palembang, 19 Oktober 2021
Siti Sonia Aseka

Senin, 27 September 2021

hari yang cerah

 



Pada hari yang cerah, mentari bersinar dari kedua matamu, dan lautan berombak landai menggantung dari sepasang lesung pipi, mengantarkan kapal-kapal nelayan sampai pesisir


Di hidungmu yang kecil manis, anak-anak berlarian memegang pesawat kertas, mendaki ketinggian bernama tabah, lalu rebah pada puncak bukit, menikmati awan putih di langit yang warna warni


Salah seorang dari mereka menghampiri rentang tanganmu, kemudian berbisik, "Bisakah kita bangun sebuah bahtera yang mampu arungi segala jenis samudera?"


Kadang, jeda adalah aamiin paling dalam sekaligus ratap tanpa muara. Namun kau ternyata mengangguk; tak ragu, samar dari kalut


Lantas doa-doa, kau rapalkan dari bibir yang terkatup, dilepaskan melalui hati yang membumi, serta penantian rimbun pula kokoh


Sepasang kakiku berkenalan dengan rumput hijau, menyaksikan sebuah mungkin melangit disaksikan tekad; manusia dan mimpi-mimpi, kau dengan janji-janji


Betapa mulia jemari manusia, menangkup serumpun harapan dan menggenggam ketiadaan untuk hidup dalam rute masa depan.



Palembang, 22 September 2021 
Siti Sonia Aseka


Selasa, 31 Agustus 2021

Syair Suaka


Seperti Rembulan dan Mentari, Bumi juga menyebut dirinya perempuan; yang mendamba, memuja, mencari-cari atensi demi setitik afeksi. Perempuan, seperti yang kerap Rembulan lontarkan, ialah entitas dengan kapasitas lebih besar dan takkan habis sampai rentang selamanya. Dalam berbagai hal, Mentari menambahkan, selalu.


Tetapi, sudah sepatutnya syair-syair yang ditulis pun dibacakan tidak terlampau dibubuhi rasa. Kalau-kalau seorang penyair lupa bagaimana puisi seharusnya utuh menyentuh sanubari pembaca, bukan membunuh si penulis, alih-alih menghidupkannya kembali.


Harapan dan rindu, dua hal ini mampu mengubah segala biasa jadi istimewa. Penantian, angan, serta gravitasi takdir. Suaka dipenuhi angkara sekaligus pengampunan, tak cuma menampung luka dan rasa sakit, tetapi juga sesak oleh euforia dan oasis.


Samudera membalik badan, menatap mahasiswanya satu per satu. Beberapa sigap duduk tegap setelah nyaris ketahuan tertidur dengan mata terbuka.


"Apabila harap dan rindu berhasil disembuhkan, apakah penyair paling mahir sekalipun akan berhenti berkarya sebab segala bentuk komponen magis yang membakar sekaligus mengisi jiwanya telah berhasil labuh pada telapak yang kemarin kerap hampa?"


Bumi mengangkat tangan, menggeleng yakin. "Bukan demikian cara kerjanya."


"Lantas bagaimana seharusnya?" dosen pengampu mata kuliah Teologi Sastra Roman tersebut menaikkan alis, menatap tajam nan mendramatisir.


Seisi kelas menahan napas, ganti berganti melirik Bumi yang bersiap menjawab percaya diri. Bagaimanapun, semua orang iri dengan sikap yang ditunjukkan si gadis.


"Ketimbang menganggap rindu dan harapan sebagai penyakit, saya lebih suka menyebut mereka bahan bakar yang menjadi penyokong gerak dan fungsi. Dengannya, suatu benda dapat bekerja. Tanpanya, akan selalu ada bahan bakar pengganti. Pada tempat dan waktunya, semua hal jadi pantas dan tepat."


"Bisa Anda sebutkan apa bahan bakar pengganti itu?"


Kembali, seisi kelas menatap Bumi, menunggu. Tetapi, lebih dari lima detik kemudian, bahkan sampai Samudera, dosen mereka yang dingin melebihi kulkas lima pintu berjalan menuruni podium, Bumi masih menerawang separuh tercekat.


"Siswa nomor tiga puluh tiga, Bumi."


"Ya?" Bumi kembali dari lamunan, separuh skeptis.


"Apa jawaban Anda? Sebutkan bahan bakar pengganti yang Anda maksud."


"Luka." sahut Bumi, lantang.


"Lalu?"


"Angkara… dan pengampunan."


Rembulan menendang tungkai Mentari di bawah meja. Berpandangan mereka sebelum mengamati gerak Samudera yang kepalang canggung.


Atmosfer seketika berubah. Samudera berdeham, tersenyum simpul.


"Point tambahan untuk siswa nomor tiga puluh tiga." katanya, kalem.


Kelas tersenyum sumringah, bertepuk tangan dalam hati, turut senang akhirnya moment menegangkan itu berakhir happy ending.


"Tetapi, bila Anda tidak keberatan," Samudera berujar setelah menutup pertemuan, "datanglah ke ruangan saya setelah kelas Anda usai hari ini."


***



Palembang, 31 Agustus 2021

Siti Sonia Aseka

Rabu, 18 Agustus 2021

VIRUS MERAH JAMBU




Kenapa disebut Virus Merah Jambu?

Berdasarkan ilmu medis, Virus adalah agen infeksi berukuran kecil yang bereproduksi di dalam sel inang yang hidup. Ketika terinfeksi, sel inang dipaksa untuk menghasilkan ribuan salinan identik virus asli dengan cepat. Virus tidak memiliki sel, sehingga pembentukan virus-virus baru berlangsung dalam sel inang yang terinfeksi.


Merah jambu sendiri identik dengan perasaan romansa dan melibatkan aksi sampai reaksi.


Secara sederhana, Virus Merah Jambu ialah agen infeksi yang menyerang hati, dan lama kelamaan memaksa untuk menghasilkan ribuan salinan identik euforia hingga berkali lipat. Inilah mengapa, seseorang yang jatuh cinta, selalu punya pemakluman, pengecualian, hingga pengabaian terhadap apa-apa yang dianggapnya benar, walau orang lain mengatakan salah. Seperti istilah, "Dua orang yang paling sulit menerima nasihat adalah pendukung partai politik dan manusia yang tengah jatuh cinta."


Cinta adalah kecenderungan rasa untuk mengejar kesenangan yang kekal di dalam hati. Tanda-tanda bahwa kita mencintai sesuatu atau seseorang menurut Ibnu Qayyim adalah: pertama, menyenangi atau mencintai apa yang dicintai oleh kekasihnya. Kedua, bersiap dan rela untuk melakukan pengorbanan. Ketiga, selalu mendahulukan sang kekasih daripada apapun dalam kondisi bagaimanapun.


Ibnu Qayyim pernah berkata, "Seseorang tidak dapat membagi-bagi cintanya secara adil." Prinsip ketunggalan cinta ini diterapkan oleh Ibnu Qayyim dalam kecintaan kepada Allah semata. Ucapannya mengenai hal ini berbunyi, "Dalam kalbu seseorang tidak mungkin terdapat dua cinta. Demikian halnya di langit tidak terdapat dua Tuhan."


Maka ketika Virus Merah Jambu menyerang, manusia berbondong-bondong mencari pembenaran demi melanggengkan kesenangannya. Yang berbahaya adalah, VMJ bisa menjadikan seorang insan melakukan hal-hal yang dilarang. Misal, mulai bertabaruj atau berlebih-lebihan. Bisa jadi dalam hal berdandan, berpakaian, berbicara, dan sebagainya. Lalu coba-coba melakukan ikhtilat atau bercampur baur tanpa disertai dengan menundukkan pandangan, berulang-ulang, berkelanjutan, hasilnya; nyaman. Kemudian tak dapat dihindari berlanjut pada khalwat atau berdua-duaan. Di dalam benak suspect, tentu ia merasa benar dan tidak melakukan kesalahan.


Padahal sudah jelas di dalam Islam, "Jangan sekali-kali seorang lelaki menyendiri (khalwat) dengan wanita kecuali ada mahramnya. Dan janganlah seorang wanita bepergian kecuali bersama mahramnya." (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, Ibnu Majah, Tabrani, Baihaqi, dan lain-lain).


Apa bahaya dari segala tindakan di atas? Sudah pasti barang tentu, ialah Zina. Nauzubillah.


Virus Merah Jambu sudah terjadi jauh sebelum Virus Corona dan virus-virus berbahaya lain eksis di muka bumi. Pelakunya, datang dari berbagai lapisan dan lini. Sebabnya, jelas karena kelalaian dalam menjaga dan melindungi hati, iman sedang lemah, futhur, kurang menerima suplemen, lantas berakibat pada semakin lemahnya ruhiyah dan semangat untuk selalu beribadah pada Allah SWT.


Lantas ada yang berkata, "Lho, memang mencintai itu salah ya? Bukankah VMJ lebih baik daripada benar-benar berpacaran."


WAH, GAWAT pemikiran begini!


Seperti yang saya sampaikan di awal, dalam Virus Merah Jambu ada aksi dan reaksi. Kalau sekadar cinta saja dalam diam, dengan semakin menjaga diri, meningkatkan ruhiyah, tak mau dimanipulasi setan, itu bagus.


Tetapi yang digaris bawahi adalah saat seorang hamba mencintai hamba-Nya yang lain, lalu mencari dan menghalalkan segala cara untuk mendekati dan membuat kekasih yang ia damba melakukan hal yang sama sepertinya.


Ingat, pacaran merupalan implementasi. Tetapi perilaku dari berpacaran bisa dilakukan siapa saja tanpa status pacaran sekalipun.


Orang pacaran, berdua-duaan dengan pacarnya.

Orang yang kena VMJ, berdua-duaan juga, bedanya kalau ditanya, "Antum tadi jalan dengan siapa?" Jawabnya adalah, "Ah, teman doang."


Ngenes, woi!


Apa bedanya? Tidak ada. Sama-sama dosa, sama-sama mendekati zina!


Masih mau mencari-cari pembenaran lagi?


Yang juga membuat miris adalah saat perilaku ini menyebar dan mulai diwajarkan. Seolah pada menutup mata nih orang-orang. Bahkan sampai ada yang menyamakan perilaku menyimpang berlandaskan VMJ sebagai, "Ikhtiar dalam mencari jodoh."


LUAR BIASA!

Memang dunia sudah gila!


Astahghfirullah…

Nauzubillah…


Jangan ya, cantik, ganteng.

Jangan takut nggak dapat jodoh. Jangan sampai kegigihan dan harapan kita demi mendapatkan manusia, menjadikan diri lupa untuk bertaqwa kepada Allah.


Sudah-sudahlah, jadi-jadilah.

Berhentilah!

Bertaubat kepada Allah.

Puasa, tahan hawa nafsu.

Berdoa, aktualisasi diri. Jangan terlampau sibuk dengan misi, "Menikah sebelum tahun berganti." Cukup, ya ukhti, ya akhi.


Tugas kita banyak; berdakwah, menebar kebaikan, menanamkan manfaat. Menjadi sebaik-baik makhluk.


Jangan direcoki dengan penyakit-penyakit dan perilaku tak perlu.


Sekian.

Terima kasih.

Stay sane!




Palembang, 18 Agustus 2021
Siti Sonia Aseka

Selasa, 03 Agustus 2021

sebuah cerita dari selatan



SOLITUDE

"Andai jarak mampu dilipat
sesederhana bangau kertas di tepian jendela.
Barangkali pada satu garis lurus,
pandang kita dapat bertemu,
melucuti sekian praduga dan ragu-ragu.
Lantas dengan begitu,
mampu kubaca sungguh-sungguh
betapa netramu merapal luka lebih lantang
ketimbang kata-kata."


***

Satu tahun yang bahkan tak mampu mengubah letak rak sepatu di sisi kiri pintu rumahku. Kalau-kalau seseorang lupa, atau sengaja menganggap rasa sakitnya tiada, keberadaan lini masa sosial media selalu dan akan terus jadi pusat gravitasi informasi terbaik. Termasuk saat beranda menampilkan fotomu tersenyum lebar dalam ruangan yang kutebak sebagai kantormu di sisi timur pulau ini. Dipublikasikan dua puluh menit lalu, disukai oleh beberapa orang, dan terdapat tiga komentar kecil berisi seluruhnya candaan.

Pukul sembilan malam dan aku mendadak didera kantuk. Buru-buru kututup aplikasi Instagram setelah meninggalkan jejak berupa tanda hati berwarna merah, memeriksa dan membalas pesan penting di aplikasi chatting, lalu berdoa dalam benak, terbuai alam mimpi yang akan membawaku bangun di pukul empat pagi seperti biasa.

Aktivitasku masih tak berbeda, tetap diisi setumpuk agenda itu-itu saja; mengajar, berjalan-jalan kala senggang, atau sekadar metime di kamar kontrakan bila akhir pekan menyapa; menonton film jadul hingga series terbaru, mendengarkan begitu banyak podcast, atau video-video lucu di YouTube.

Kadang, aku masih bertemu beberapa orang, teman-teman sewaktu di kampus. Mengobrol, nongkrong di kedai kopi, bertukar kabar, disambung nostalgia. Kadang pula, satu-dua kali namamu mampir dalam percakapan. Lantas aku harus mati-matian bertingkah sewajar mungkin, menimpali seadanya, tidak boleh sedikit saja terlihat terlampau bersuka cita.

Tentang kita, tidak ada yang tahu.

Biarlah, biar kisah itu diziarahi ketika rindu sudah kepalang menggebu dan mendobrak sisi peduli. Aku jelas masih sering memutar kuncinya demi menerobos pintu menuju masa lalu. Duduk di sana, merenungkan waktu-waktu terlewat tanpa satu pun dari kita berani buka suara. Kita sudah usai, aku tak pernah mampu mengatakan hal tersebut keras-keras, tak berani kuungkap betapa sesal masih menghantui malam-malam.

Satu tahun lalu, kita adalah dua yang coba merangkak menuju tunggal.
Namun, gagal.


***


Indralaya
Sebuah kabupaten tiga puluh dua kilometer dari ibukota provinsi,
2017

Auditorium universitas seperti biasa ramai sebab parade kelulusan yang dijadikan sebagai ajang mengabadikan moment dan beramah tamah. Pelataran disesaki pengguna toga, melebar sampai kawasan rektorat. Ucapan selamat mengudara, tawa marak tertangkap telinga di tiap sudutnya, juga ratusan pasang mata melempar pandang, mencari-cari, atau sekadar mengamati untuk kemudian menyimpan panorama dalam laci memori.
Farah tiba setelah belasan panggilan tak terjawab di ponsel, menyisipkan satu pesan ter-pop up di layar dari nomor yang sama: Kamu di mana, dengan siapa, sekarang berbuat apaaa??? Yang wisuda udah pada keluar audit, antrean foto panjang begini, buruan! Nanti ditinggal, tahu rasa!
Perempuan tersebut terbahak setelah kakinya menjejak halaman rektorat yang melingkari sebuah kolam berhias batu-batu alam dengan undakan tangga kecil. Mengutarakan maaf yang tak sungguh-sungguh niat dilontarkan. Si pengirim pesan menatap Farah sebal, sekaligus lega. Sesi foto lembaga bisa dimulai segera saat yang ditunggu-tunggu tiba entah dari misi menyelamatkan bumi bagian mana.
Di tengah hiruk pikuk, seseorang menepi. Matanya cemerlang, berkilau karena berhasil menemukan satu sosok yang lama dinanti. Hangat merayap menyebabkan rona merah di wajah, senyum tersungging tanpa mampu dicegah. Sebuah dorongan berteriak lantang menyuruhnya maju. Sepercik rasa takut menyebabkan si lelaki terjebak diam yang melecut utuh ragu-ragu.
“Abiyan! Ayo, foto sini, dong!”
Lelaki tersebut tersentak, lamunannya pecah. Rautnya kembali diatur sedemikian rupa. Agar tak timbul curiga, supaya tak perlu ada resah melibatkan banyak kepala. Lagipula, setelah hari ini, ia sudah harus pergi, bukan?


***

Hadiah untuk seseorang.
Semoga bahagia senantiasa menyertai langkah.
Yang patah tumbuh, lukamu niscaya sembuh.

-Siti Sonia Aseka

Merespons Fatwa HARAM Vasektomi yang dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia

Sepekan lalu, MUI melalui akun Instagram resminya, merilis tanggapan mengenai kebijakan yang diberlakukan oleh Gubernur Jawa Barat, yaitu: m...