Blogger Perempuan

Blogger Perempuan
Kunjungi laman Blogger Perempuan dan baca tulisan saya melalui link berikut

Minggu, 17 Maret 2019

Toxic Person

Malam semakin naik, rembulan entah bagaimana terlihat begitu bulat berlomba dengan pekat, menemani gemintang yang tampak berkelip ribuan bahkan jutaan kali. Angin berhembus tak main-main,  menghantar dingin, membekukan nyaris sampai ke tulang. Perempuan dengan sweater sewarna daun tua yang nyaris gugur itu menghela napas, mengeluarkan uap tebal di detik berikutnya sebab intensitas suhu udara yang kian turun. Langkahnya pelan, tubuhnya kelelahan setengah mati, tapi sepasang mata yang seringkali menatap tanpa banyak berkata tersebut masih tetap bersinar, penuh energi umpama bunga-bunga sakura musim semi, ratusan kali mampu mengangkat berton-ton beban setidaknya bagi seseorang.



"Ramai kota, sepi kita." Perempuan tersebut menggumam, lantas tersenyum kecil, menyambung, "Kau ingat puisi Kota Kita itu? Puisi yang pernah kau bacakan di depan kelas dulu."

Pemuda di sampingnya tampak mengangkat kedua alis sebelum tertawa lucu. Ah, puisi, ya? Dia ingat. Ingat sekali.

"Tentu. Kau mau aku bacakan lagi puisinya sekarang?"

"Jangan konyol." Perempuan tersebut tampak kelabakan, hampir melotot besar-besar. "Hal-hal manis macam itu mungkin romantis bagi sebagian orang, tapi untukku… ew. Jangan coba-coba."

Si pemuda dengan tawa bahagia itu menghentikan langkah, memegangi perut, jelas sekali tidak mampu mengendalikan perasaan entah apa yang membuat mulas sampai merinding tak tahu malu.

"Well, tidak terdengar buruk juga. Mengingat kita bahkan pernah bermain-main dengan setangkai mawar dan sekotak cokelat."

Mereka berdua berpandangan sejenak sebelum berbagi tawa lagi. Kenapa ya, kenangan selalu luar biasa mengundang rasa tak habis pikir dan keindahan tanpa tanding dalam satu waktu? Barangkali, bila diminta mengulang masa lalu, mereka tegas menggelengkan kepala, berkata tidak keras-keras. Namun, bila diajak mengingatnya bersama… yeah, bersyukur dan gemas pernah mengalami hal-hal semacam itu adalah hal pertama yang mencuat dalam benak.

"So, how was your day?"

Laki-laki dengan topi hitam dan mata yang sama pekat dengan malam tersebut memandang beberapa detik, sebelum mengarahkan seorang di sampingnya untuk merapat pada pagar pembatas. Mereka tengah memandangi sungai paling terkenal di kota dalam sudut pandang dan kemiringan tepat, menurut perhitungan mereka, setidaknya.

"Menurutmu, bolak-balik sampai tiga kali dalam jarak rumah-kantor itu bagaimana rasanya?"

"Buruk sekali. Pasti melelahkan."

"Tepat. Aku nyaris pura-pura pingsan bila tidak ingat pekerjaanku bisa bertambah dua kali lipat jika meliburkan diri."

Mereka terkekeh, menyaksikan riak air dan samar bunyi kendaraan merambat masuk ke telinga.

"Tenang, beberapa bulan lagi dan semuanya akan selesai dalam sekali kedipan mata. Yang perlu kau lakukan hanya bersabar."

"Ah, ya. Benar. Berdoa saja aku masih hidup hingga saat membahagiakan itu tiba."

"Hey, tidak biasanya kalimatmu pesimis begitu? Seperti pohon tua yang nyaris mati, tak disiram berminggu-minggu, layu."

"Benarkah?" Perempuan dengan mata yang selalu tampak hidup tersebut mendekap tubuhnya sendiri lebih erat, menghalau dingin yang makin menggigit. "Aku hanya lelah saja menghadapi jenis manusia yang tidak ingin kuhadapi." Cicitnya, sarat akan keputusasaan.

"Begitu, ya?"

"Coba pikir, melempar senyum, menyapa, menghadapi mereka berjam-jam, sampai kelu lidah, sampai lelah isi kepala, dan hal-hal macam itu hanya demi profesionalitas. Agar tidak ada sesuatu yang dibatalkan dan mengakibatkan kerugian, agar nama baik perusahaan tetap terjaga. Perlakuan normatif semacam itu saja. Selebihnya, tidak ada."

Perempuan tersebut membalik badan, bersandar pada pagar pembatas. Mendongak demi memandang luasnya langit malam.

"Orang-orang semakin mudah melompat-lompat, seperti kelinci. Mendekat pada yang dianggap tinggi, menyisihkan yang mereka anggap tidak punya kedudukan, tidak penting. Padahal, orang yang terlihat tidak tahu apa-apa, mereka yang banyak berdiam ketimbang bicara barangkali malah lebih tahu segalanya. Manusia jenis demikian sungguh membuat muak. Bagaimana mungkin mereka hidup dengan sebuah topeng demi diterima dan pengakuan sesama saja?"

Pemuda itu tertawa pelan. Mereka membiarkan hening menguasai untuk beberapa menit yang habis dimakan tanya.

"Kau tahu, bahkan ada yang terang-terangan mendeklarasikan diri sebagai bagian dari satu kelompok lalu merendahkan kelompok berbeda. Berpikir kelompoknya yang paling hebat. Bagi mereka, sesuatu seperti itu bukanlah dosa besar yang akan membawa ke neraka. Padahal justru sikap demikian mampu menghancurkan manusia lain tanpa sisa, minimal membuat retak sebelum berubah jadi serpih dan terbang ke udara. Belum lagi berhadapan dengan orang bermental sok kuasa. Sungguh, lebih dari dipaksa memakan seafood atau bertemu toxic person begitu, aku malah lebih memilih opsi pertama. Setidaknya seafood yang tidak akrab dengan lidah dan membuat mual lebih bisa diterima ketimbang mati terkapar kehabisan stok kesabaran menghadapi pongahnya mereka."

Lelaki yang tadinya menatap hamparan sungai itu tertawa kecil. Menghela napas sama lelah dengan perempuan di sampingnya.

"Benar. Setidaknya Bima Sakti ini terasa lebih baik ketika kita menemukan seseorang yang bisa diajak memaki dan membenahi bersamaan."

Mendengus, seorang yang tadi baru saja mengeluarkan setiap penat itu berkata nyaris terbawa angin, "Seperti kita?"

"Ya, seperti kita."

Pemuda tersebut melepas topinya, memandang benda tersebut sebentar lalu berkata lagi, "Tahu tidak, orang-orang semacam itu sebenarnya hanya menyembunyikan ketidakmampuannya saja? Meninggikan diri sendiri, menganggap rendah orang lain, semata agar dirinya mampu sedikit saja merasa berharga. Mencari-cari kebahagiaan di atas pengakuan manusia di sekitarnya. Padahal, jauh dalam benak, ia benar-benar dibalut kecewa dan ditenggelamkan oleh kebencian atas kekurangan yang bahkan tak pernah dapat mereka bagi atau ucapkan."

Lelaki tersebut menatap arloji cokelat di tangannya sekilas. Mengerjap sebelum melontar tanya, meminta kepastian.

"Sudah larut. Ingin pulang sekarang?"

"Aku kehilangan rasa kantuk." Perempuan di sampingnya menatap sepasang mata pekat itu beberapa waktu sebelum tersenyum, memulai penawaran.

"Bagaimana kalau mencari camilan? Ada mini market dua puluh empat jam tak jauh dari sini."

"Dasar tukang makan."

Mereka berdua melanjutkan langkah. Mencoba menghalau lelah yang menumpuk sepanjang minggu, berusaha menghadirkan pikiran positif sebab akhirnya akhir pekan yang kelewat singkat telah datang menunggu.


Siti Sonia Aseka
Palembang, 17 Maret 2019

*Puisi "Kota Kita" merupakan penggalan caption seorang teman di Instagram 

Sabtu, 16 Maret 2019

Sang Bulan

Siti Sonia Aseka
Palembang, 16 Maret 2019

"Perempuan adalah bulan; senantiasa menemani kala mentari yang bersinar terang itu lelah menyinari."



Matahari dengan Bulan.
Saling berbagi, saling memberi, sinergi.
Saat yang satu pergi, maka yang lain rela menjadi pengganti, tak membanding siapa lebih besar dari siapa, atau siapa paling terang dari siapa, juga menuding soal, "Ini cahaya milikku bukan kau."

Mereka seolah menulis ulang semesta untuk satu sama lain. Agar tak ada hukum apapun yang mampu memisahkan, biar tak ada penjara yang harus mereka rasakan.

Barangkali.

Tapi, semua rekayasa dalam bahasa paling indah itu hanya sekedar picisan yang disukai banyak orang, bahkan dijadikan pilihan untuk memperhalus istilah pembagian peran antara laki-laki dengan perempuan.

Padahal, tanpa banyak menyinggung kesetaraan yang jadi keributan serta memicu ricuh perdebatan, kita semua mampu menakar sendiri, apa sih tugas kita dan sesuatu macam apa yang mampu kita jadikan tolok ukur keberhasilan atas aksi, lantas menyulut reaksi?

Maka, mari kita uraikan satu per satu, sebagai perempuan, sebagai manusia yang punya hak untuk memenuhi kewajiban sebelum menuntut dan memaksakan kehendak.

1. Jadilah perempuan merdeka sebelum segala sesuatu. Tidak dijajah oleh paham bahkan doktrin tertentu. Punya hati nurani, gunakan! Sudah menetapkan pilihan? Bersetialah. Jangan gamang, lurus dan jalankan saja.

2. Mandiri! Jangan terbiasa menunggu bantuan dan berlindung atas dasar kelemahan. Kita punya kekuatan, kita bisa bila mau. Jangan jadikan sedikit hambatan sebagai besaran pemberhentian.

3. Jangan manja! Lakukan apa yang dapat dilakukan, tidak terantuk kemalasan apalagi ketergantungan. Malu sama kucing.

4. Please, stop menye-menye. Kita tangguh, tidak perlu memerdukan suara apalagi sengaja dilembut-lembutkan untuk menarik perhatian.

5. Jangan selalu pakai hati! Tolonglah, kemerdekaan bangsa ini tidak lahir dari rasa tidak enak dan takut menyinggung lawan. Selagi benar, hantam saja.

6. Kenali kapasitas diri, agar tidak terkesan menahan dan berlebihan. Semaksimalnya, terus ditingkatkan, TIDAK berusaha sampai mati-matian, berdarah-darah.

7. Love, face and speak yourself!

8. STOP jadi perempuan ribet dan menyusahkan! Framing semacam ini nih, yang membuat perempuan sulit mendapat tempat. Mari perlahan kita hapuskan anggapan demikian. Mau kelihatan cantik itu manusiawi sekali, tapi kalau jadi tampak ribet dan malah menyusahkan diri sendiri, mending pikir-pikir lagi.

9. Learning by doing, jangan banyak tanya, bikin pusing! Ketika akan melakukan sesuatu, plisss... Perhatikan dulu, baru tanyakan. Jangan mulut berkicau, tapi gerak nol besar.

10. Kalau suka lakukan, kalau tidak tinggalkan. Jangan jadi beban orang-orang. Jangan menyita ruang pikir sesama, cukup dirasakan oleh diri sendiri saja.

11. Jangan pernah jadi sok kuat. Lagi sakit, ngaku sajalah! Jaga diri, minum obat, istirahat. Jangan mengharap sembuh tanpa berbuat apa-apa dan malah makin menyiksa diri sendiri.

12. Banyak mendengar, lalu tulis dan ciptakan panggung untuk bicara

13. Wibawa itu segalanya. Pencitraan apa lagi. Tapi yang terpenting adalah jadi diri sendiri

14. Don't ever try to copying anyone! Ini menyebalkan sekali, serius.

15. Temukan cahayamu sendiri, jangan coba-coba mencuri cahaya milik orang lain.

16. Jangan puas dengan sekedar menjadi bayangan. Tunjukkan pesonamu, pada tempat dan waktunya

17. Role model? Boleh saja. Asal tidak mengikis habis dirimu yang sesungguhnya

18. Jadi sukses, kaya, pintar dan diidamkan itu bagus. Tapi lebih penting ketika menjadi orang baik. Attitude beats tallent!

19. Di rumah, jadilah seorang anak, saudara, kakak, adik, bahkan istri. Di kampus, jadilah pelajar, aktivis dan penggiat perubahan. Di lingkungan masyarakat jadilah berguna dan berharga.

20. Punya prinsip itu wajib! Harus memiliki pendirian, jangan gampang digoyang!

21. Jangan sering jaim-jaim, bisa bikin mati!

22. Setiap pergaulan punya batas, setiap jauh pasti punya dekat. Intinya, jangan berlebihan terhadap beberapa orang dan kekurangan pada beberapa yang lain. Anggap semua orang sama rata. Cukup.

23. Pilih-pilih teman itu sesuatu yang harus mulai dijadikan kebiasaan

24. Yuk, mulai temukan tempat terbaik lalu berhenti mencari-cari dengan melanglang kesana kemari. Tidak capek, apa?

25. Baca, baca, baca! Hari gini malas baca? Omonganmu sekedar karbondioksida saja, dong?

26. Eh, cuek ternyata dibutuhkan juga, loh.... Karena keseringan meletakkan hati memiliki kemungkinan besar untuk disakiti.

27. Sesekali, cobalah bercermin, cari kesalahan dan kekeliruan diri, niatkan untuk berubah lalu mulai berbenah. Sebelum kritik orang lain menghampiri dan melukai hati. Tidak ada yang siap disalahkan, tidak ada yang bersedia dihakimi.

28. "I'm sorry I'm bad. I'm just the way I am." Dianggap buruk? Dikritik? Ah, biasa! Jalan terussss....

29. Singkirkan kebaperan, bangun kesehatan logika!

30. Melindungi dan mendukung sesama perempuan itu wajib! Asal jangan melanggar rambu-rambu saja, ya....

31. Mahalkan perhatian, tunjukkan kepedulian, tingkatkan kepekaan, demi kemajuan bersama.


Fiuh....
Banyak, ya?
Iya.
Harus dipatuhi semua?
Harus.

Sebab, menjadi perempuan seutuhnya dengan segala tanggung jawab tertunaikan tuntas adalah tujuan dari setiap langkah dan kebaikan pilihan.

"A good road leads to the beautiful destination."

Ini jalan kita.
Tujuannya? Ya surga.

Selagi diberi ruang, berkaryalah. Selagi memiliki tempat, manfaatkan sebaik dan sebisanya.
Awas, jangan terlena.
Segala sesuatu tidak akan bertahan dan berlangsung selamanya.

Mari jadi perempuan hebat.
Buat mereka mendekat tanpa pandang pangkat.
Berwawasan sehat, berjiwa kuat, tidak bikin orang-orang muak.

Let me ask you, "how are you? How was your day?"
I hope you will always be fine, as always.

A long day, isn't it?

Kamis, 28 Februari 2019

Jadi, Kita Pulang?

Hari ini, pukul sepuluh pagi.



Perempuan itu tak pernah mengerti mengapa secangkir kopi bisa luar biasa memberi dampak seperti sengatan listrik bagi beberapa orang. Kecuali fakta bahwa minuman pekat satu itu ternyata membawa sebongkah kenangan usang, nyaris membatu pada relung hati yang pecah jadi seribu.

Apa yang membawanya datang?
Sebuah undangan dari nomor tak dikenal, keinginan untuk menjemput penjelasan, atau memang karena ia hanya sekedar lupa meletakkan kemarahan dan kebencian pada tempat yang seharusnya?

Pada detik ketika kepala seolah dihantam tanpa ampun, Kina seketika membeku kala suara lonceng dari pintu masuk mendadak tersalur cepat memasuki rongga telinga. Tidak banyak orang sudi menghabiskan waktunya dengan duduk-duduk sembari menikmati sarapan di sebuah kafe, perempuan dengan mata sendu ini juga salah satunya. Tapi, untuk beberapa alasan, ia harus melakukan hal-hal menggelikan semacam itu demi janji bertemu seseorang.

Seseorang yang penting, barangkali.

Kursi dihadapannya ditarik mundur sekejap. Kina entah bagaimana bisa merasakan udara sekitar tiba-tiba menyusut tanpa sisa. Pada detik berikutnya, ketika perempuan itu mengangkat wajah yang setengah mati dibuat biasa, ia bisa dengan leluasa menangkap raut yang telah sekian lama lenyap dari jangkauan.

"Ingin memesan sesuatu atau hanya berniat duduk di situ tanpa melakukan apapun?"

Kina membulatkan mata tak percaya. Bermenit-menit yang habis dilibas canggung, laki-laki dengan surai hitam legam tersebut hanya menatap dan menghela napas berat untuk beberapa waktu yang tampak kalut.

Mengapa mereka ada di sini?
Kenapa bisa sampai berjumpa lagi?

"Secangkir kopi."

"Tanpa gula?"

"Ya, tolong."

Kina bisa merasakan atmosfer mendadak jadi dingin sekali. Perempuan itu bahkan memilih bangkit tanpa menunggu instruksi ke sekian kali. Memilih menjauh sejenak, mengatur degub dan detak. Sebab selalu ada yang bertalu tak normal sejak lama, bahkan kala ia merasa hal-hal semacam itu telah sirna dari bayangan.

"Secangkir kopi, tanpa gula." Kina tersenyum tipis kala pelayan mencatat pesanan, berkata tunggu sebentar, lalu menghilang dari pandangan. Perempuan itu memandang kosong ke depan, tanpa berniat mencari tahu apa yang tengah dilakukan oleh pria yang baru tiba di meja mereka.

Mereka harusnya membuka pertemuan dengan sapaan paling akrab, seperti pelukan atau paling tidak jabat tangan lalu bercakap mengenai banyak hal. Tentang kota yang telah ditinggalkan, soal memori yang mendadak mampir lalu menggoda, atau bahkan membicarakan perasaan satu sama lain kala harus hidup berjauhan.

Namun ternyata semua hal-hal manis itu hanya harus tetap tinggal lebih lama dalam kepala.

"Ini dia. Selamat menikmati."

Kina habis-habisan mengutuk diri kala tersadar dari lamunan dan harus menghadapi kenyataan di depan mata. Bangun, Kina. Batinnya, mengusir sekian keinginan untuk lari, menghilang. Menyembunyikan diri di balik selimut di dalam kamar, tertidur panjang. Mungkin tidak bangkit dari ranjang untuk satu pekan adalah ide bagus dalam keadaan super kacau begini.

"Apa menu sarapanmu pagi ini?"

Kina menahan napas tatkala mata bulat itu menatap lekat. Secangkir kopi telah diletakkan. Uapnya sebentar saja memenuhi udara, bercampur lalu terbang ke angkasa.

Perempuan itu mengerjap, tersenyum tipis lalu mengetuk pinggiran cangkir miliknya.

"Hanya latte saja."

"Kau harus berhenti memblock makanan di pagi hari, kau tahu?"

Kina tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Omelan, nasihat, argh…. Perempuan itu mendadak diterpa pusing tepat di kepala.

"Berlin tampak luar biasa bagimu?"

Kina melontar tanya setelah mereka puas berargumen dengan tuduhan dan pembelaan. Laki-laki di hadapannya menyesap kopi sekali lagi hingga tandas. Memalingkan pandang ke luar jendela, lantas melempar tatapannya lurus lagi, tepat pada manik mata sendu yang selalu ia rindukan setengah mati.

"Berlin memang luar biasa. Tapi, kau tahulah, di antara dua tempat, selalu hanya ada satu yang bisa menarikmu kembali. Dan perasaan semacam itu faktanya tidak hadir saat aku ratusan mil jauh dari Berlin."

Kina tertawa kecil. Nyaris menggoda sebelum gendang telinganya kembali menangkap getar suara disusul deru napas yang begitu berat.

"Entah bagaimana, saat ini aku sungguh merasa pulang."

"Tapi, kau bahkan belum tiba di rumah."

"Memang." Laki-laki tersebut tertawa, menyipitkan mata lalu menyambung, "Aneh, 'kan?"

Kina mengangguk kecil. Merasakan dadanya seolah ditekan kuat. Ingin sekali ia mengeluarkan suara, berkata betapa selama nyaris bertahun, perempuan itu bahkan tak menemukan satupun tempat untuk pulang. Ia telah kehilangan rumah lamanya, sesuatu yang tiba-tiba saja tak mampu ia temukan di mana-mana.

Tapi, hari ini, sama seperti pemuda itu, mengapa ia mendadak merasa pulang?


Palembang, 28 Februari 2019
Siti Sonia Aseka

Selasa, 26 Februari 2019

Pada Tempat dan Waktunya

Perlu saya runut bagaimana saya bisa berada di sini? Melalui terjal jalan, tikungan tajam, ratusan rambu lalu lintas, gedung-gedung, rumah-rumah, perkebunan, sawah dan hutan.



Kesimpulannya, semua yang saya lewati demi tiba di tempat ini bukan sesuatu yang dapat dikatakan mudah, ajaib saja, bahkan tanpa membutuhkan usaha. Saya yakin semua orang memiliki momentumnya sendiri, arena yang tidak sama dengan orang lain. Kesulitan, masalah, beban, segala kepahitan itu bersatu dan membaur sedemikian padu sampai pusing kepala.

Nah, jadi, setelah segala jatuh bangun itu, ternyata masih ada oknum yang tidak dapat mengerti dan semena-mena dalam laku.

Terkadang, kadang saja, saya merasa bahwa manusia memang lahir dan menghadapi fase ingin bergerak cepat tak peduli menghantam apapun di depan sana. Baik, buruk, halal, haram, yang penting tujuan yang ia inginkan tercapai secara sempurna, tanpa cela. Termasuk juga dengan tidak memikirkan orang lain, dzholim, mengharapkan hal besar dengan hanya berbuat kecil, memaksa orang lain padahal masih memanjakan diri sendiri, menjelaskan keinginan, menuntut, tanpa mau mendengar harapan dan permintaan sesama.

Ini yang perlu diluruskan, sebenarnya.

Siapapun jelas ingin cepat dalam menggapai obsesi. Siapa sih yang tidak? Tapi, segala hal punya cara. Manusia masih perlu diperlakukan dengan baik tanpa dibuat menderita oleh kita sebagai alasan.

Nanti, di hari akhir, alangkah lucunya ketika dalam antrian perhitungan amal, orang beramai-ramai menunjuk kita sebagai si menyebalkan yang suka memaksa-maksa, memerintah sesukanya, otoriter, dominan keras kepala, apa lagi? Ah, si tekak bantah juga, barangkali.

Ayolah, memikirkan orang lain tidak akan membuat kita kesusahan. Memudahkan orang lain juga tidak akan mendadak menjadikan kita kerepotan. Biasa saja, apa adanya. Jangan jadi pribadi yang dihindari sebab tidak nyaman diajak bicara. Jangan sampai konten perkataan kita hanya berisi perintah, instruksi dan paksaan. Halo? Coba berhenti sejenak dan berdamai dengan lingkungan, lalu pahami keadaan.

Yang lebih lucu lagi, fenomena yang mungkin bisa membuat kita ingin ngakak sekaligus menangis, adalah ketika seorang katakanlah anak buah yang bertingkah seolah lebih pintar, lebih tahu segalanya, lebih mengerti dan lebih kuasa ketimbang sang pemimpin.

Well, are you okay, dear?

Miris? Sangat.

I don't even know what he/she think about his/her leader and what's really happened between them. Perhaps, I will never know. But, come on! He/she is your leader, he/she is your representation, your role model. Don't be too much. Clear your job, do your own responsibility, enough. Don't blame anyone because of your anger to yourself.

Saya berkaca dari diri saya sendiri.
Sebab, pernah pada satu sisi saya merasa saya bisa melakukan lebih baik dari yang dilakukan oleh orang yang posisinya berada di atas saya.

Tapi, perasaan tersebut faktanya cukup untuk dinikmati sendiri saja. Karena, makin mendewasa, saya sadar bahwa pemimpin memang tidak berjalan selamanya sebagai sosok sempurna. Itulah guna kita sebagai bawahan; mengingatkan, bergerak bersama, memahami, memahamkan dan meraih harapan serta tujuan itu bersama juga.

Start from now, please, please... stop complaining, stop judging. Just be fine with everything, even if you are not feeling well, just keep silent. You can speak up when your time comes. Really.

Belajarlah untuk menghargai orang lain, terutama orang yang memiliki posisi, usia, pengalaman lebih tinggi ketimbang diri.

Kalau memang ingin memimpin, nanti.
Akan ada waktunya, akan datang saatnya. Sekarang, selagi masih diberi kesempatan sebagai yang dipimpin, maka nikmati dan jalankan dengan semaksimal dan sebaik-baiknya. Agar nanti kala menjadi pemimpin, kita bisa memahami dan mengerti posisi mereka yang kita pimpin.

Okay, I'm out over the place, anyway.

But, yeah. That's all.
Happy to see everyone in their own best place.

Fyuh~~

Siti Sonia Aseka
Palembang, 25 Februari 2019

Jumat, 25 Januari 2019

HARI INI

Satu lagi hari buruk dengan lipat ganda suasana hati super tidak kooperatif.



Kemarin, semuanya berjalan lancar.
Kelewat lancar, malah.
Penuh tawa, canda, tersenyum sepanjang waktu, bahagia tanpa cela, lingkungan yang bersahabat dan instruksi lebih ramah serta tenggat manusiawi tak menyebalkan sama sekali.

Memang. Harusnya, diluar segala kenyamanan itu, aku mampu lebih cerdas mengantisipasi tiap senti luka yang bisa saja terjadi akibat gesekan dan saling singgung. Well, terlambat, sih. Sebab malamnya, ketika aku haruslah menyelesaikan apa yang terjadi dengan senyum dan perasaan lega karena segala hal perlahan usai terlewati, aku malah harus dihadapkan dengan jenis manusia yang mesti kuhindari setengah mati. Dan coba tebak? Aku gagal mengatasi yang satu ini, lalu berakhir dengan pura-pura tampak baik walau di dalam penuh lebam dan hancur sekali lagi.

Ah, benci.

Mengapa harus hari ini?
Padahal, terlepas dari segala kegaduhannya, yang mana memang merupakan kebiasaan selama nyaris bertahun, aku memiliki tanggung jawab untuk wajib dijalankan walau hati terasa ingin pergi, lari, sembunyi.

Faktanya, aku kembali menjadi sosok menyebalkan. Tak ingin bertemu siapa-siapa, tak mau mendengar apa-apa, tak hendak membuka suara. Hanya berdiam saja. Nyaris menenggelamkan diri hingga tanpa sisa, sukses mematahkan hati menjadi dua saking sekaratnya.

Psikosomatis yang terulang entah ke berapa kali dalam satu bulan ini.

Pusing dan pening yang jelas bukan hal biasa dan tanpa sebab. Fisik kelelahan, hati yang seolah diremas kuat, pikiran yang tak lagi menemukan akal sehat. Huh, terdengar nyaris redup dan membeku, bukan?

Jadi, mengawali pagi dengan harap-harap cemas, jadwal agenda yang dirombak ulang, mengirim pesan terburu pada beberapa orang, perizinan terlampau alot, permintaan kelewat sulit, juga argumen yang bertarung sengit melayang di atas kepala, aku seperti nyaris tercekik dan kehilangan kadar udara untuk beberapa detik. Hasilnya? Tenagaku terkuras habis walau jarum jam belum mencapai angka sepuluh.

Nah, jadi lebih rumit, kan?

Kesimpulannya, hari ini, aku menyerah lagi. Kalah.

Mengendalikan apa yang tak bisa menyenangkan hati memang bukan perkara enteng. Bahkan mengantri arena bermain pada pasar malam tahunan atau stand makanan di festival kembang api mungkin jauh lebih mudah ketimbang harus berperang melawan diri sendiri.

Hei, segalanya akan baik-baik saja, bukan?

Walau aku sendiri tak mengerti mengapa memerlukan jawaban atas tanya paling klise sepanjang zaman macam itu, sepertinya jauh di dalam, setelah segala pelarian yang membuat perut lebih mudah lapar, aku memang hanya butuh seseorang berkata, "Tenanglah. Tak mengapa. Ambil saja istirahat sebanyak yang kau mau, sisihkan saja kesendirian sepanjang kau ingin. Aku akan mengambil alih. Aku akan menyelamatkannya untukmu. Jadi, tetap di sini dan jangan membahayakan diri sendiri, oke?"

Mimpi.

Ha, memangnya ada jenis pahlawan kemaghriban begitu? Kalau ada, simpankan satu untukku, tolong. Dengan karet dua, ya. Agar tak tertukar dengan yang lain.

Di sudut kamar, di bawah temaram lampu, bersama sebuah buku dan dua porsi mie goreng lezat, aku meringkuk mengobati luka perlahan. Menyambungkan sekali lagi hati yang patah, menempelkan remah-remah berserakan, memeluk harapan serta doa agar besok segalanya membaik seperti sedia kala.

Karena sungguh, seharian berbicara pada diri sendiri, mengoreksi apa yang salah dan mendapat jawaban dari rotasi akal menari-nari, aku memang tidak bisa menemukan objek malang apapun untuk dimaki atau disumpahi.

Sebab jauh di dasar, nyaris ke inti, aku menyadari bahwa dari sekian amarah dan perasaan kesal, setengah atau kurang bahkan lebih, andil ikut serta diri kita sendirilah yang meletakkan tangannya, mengacaukan, membuat patah.

Tahan amarah.
Jangan meledak.
Padamkan letupan.

Tidak mudah, jelas. Namun, tetap harus dicoba, kan?



Indralaya, 25 Januari 2019
Siti Sonia Aseka

Merespons Fatwa HARAM Vasektomi yang dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia

Sepekan lalu, MUI melalui akun Instagram resminya, merilis tanggapan mengenai kebijakan yang diberlakukan oleh Gubernur Jawa Barat, yaitu: m...