Blogger Perempuan

Blogger Perempuan
Kunjungi laman Blogger Perempuan dan baca tulisan saya melalui link berikut

Senin, 03 Desember 2018

Hidup (dan) Saya

Jadi, karena beberapa waktu belakangan banyak sekali hal yang terjadi, dan kepala saya jujur saja tidak bisa menampung segalanya dengan baik (karena saya juga tidak terlalu suka banyak bercerita tentang detail kisah pada orang-orang), saya memutuskan untuk menuliskan beberapa keping yang semoga tidak disatukan dengan cara yang salah oleh siapapun yang membaca.



1. Kenapa banyak manusia malah makin tertantang ketika dilarang?
Karena sifat alami manusia adalah bangga dalam penaklukan. Ketika ia mampu menyelesaikan sesuatu, ketika ia dapat melakukan banyak hal entah yang baik atau buruk, saat ia bisa memamerkan hasil dari jerih payah jemarinya pada banyak orang dan mendapat pengakuan, ia akan merasa menjadi manusia paling luar biasa dan terhebat yang pernah ada.

2. Kenapa banyak orang tidak suka dikekang?
Saya pun tidak suka dikekang sama sekali. Sebagai manusia yang terlahir merdeka, jelas kita semua sepakat untuk berbuat sesuka dan sebebas yang kita inginkan. Tapi, merdeka yang benar adalah dengan tetap tunduk dan patuh pada satu kuasa; Allah. Kita mungkin bisa membalikkan badan, menutup telinga bahkan mata pada manusia, namun kepada Allah, kita tidak pernah mampu untuk bersikap seolah tidak tahu.

3. Senioritas?
Saya lebih suka menyebutnya tata krama. Kita bisa menghormati orang lain sekedarnya, asal tidak melebihi rasa hormat kita terhadap Allah. Kaum muda identik dengan sopan santun yang memudar, beralasan bahwa dunia ini tidak dihuni untuk merendahkan kepala terhadap manusia, tidak dibuat untuk membungkuk dan bermuka dua terhadap yang lebih tua. Namun, kita harus mengerti, bahwa bahkan Rasul pun menaruh kerendahan hati dan menjunjung tinggi tata krama terhadap sosok-sosok yang lebih tua dalam segi usia dibanding dirinya. Lantas, mengapa kita tidak?

4. Hanyut dalam kesibukan yang menyiksa atau diam dalam kelapangan yang membuat resah?
Sibuk. Sibuk. Sibuk.
Saya tidak pernah bisa diam dalam waktu yang lama tanpa melakukan apa-apa. Give me jobs, please! Haha....

5. Pengabaian manusia?
Sejak awal, saya tidak pernah menaruh ekspektasi atau harapan apapun pada manusia sejak pertama kali bertemu dengan siapa saja. Karena dulu sekali saya pernah dilempar sampai nyaris berguling-guling oleh kenyataan, dan itu menyakitkan. Jadi, ketika diabaikan, saya hanya akan tersenyum dan menggumam, "Cukup tahu."
Marah? Kecewa? Tidak.
Hanya sekedar, "Cukup tahu." selamanya.

6. Dendam?
Entah orang lain, tapi saya tidak. Saya hanya tidak akan lupa. Itu saja.

7. Membalas atau Let It Flow?
Let it flow, lebih baik. Yang sepakat bisa makan di kantin terdekat. Disponsori oleh dompet masing-masing. *Garing
Untuk apa mengotori tangan kita demi membalas keburukan orang lain. Toh, ketika kita bersikap bodo amat, hidup akan terasa lebih menenangkan.

8. Wanita karier atau ibu rumah tangga?
Wanita karier.
Karena saya tumbuh dalam keluarga yang seperti itu dan saya telah sangat akrab dengan kesibukan yang menyenangkan dari orang-orang di sekitar.

9. Jadi anak rumahan karena mager atau...?
Mager. Malas melakukan segala sesuatu yang tidak mendesak, apalagi sekedar jalan entah ke mana. Mending di rumah dan produktif. Produktif balas chat WhatsApp juga salah satunya, jangan salah sangka.

10. Wattpad atau Blog?
HECK!
BOTH OF COURSE!

11. Kenapa selalu ada uname Instagram di seluruh quotes yang dibuat?
Percaya atau tidak, karya saya di zaman SMP pernah di plagiat oleh orang lain. Pada saat itu saya tidak ambil pusing karena merasa saya juga cuma nulis karena suka, bukan untuk diseriusin. Tapi, semakin lama plagiarisme ternyata makin berkembang dan saya yang saat itu fokus untuk test masuk Sekolah Menengah Atas sedang sibuk-sibuknya menyiapkan diri, lantas memutuskan untuk vakum sejenak. Begitulah, agak rumit. Semakin dewasa, saya merasa bahwa yang namanya hak cipta memang amat sangat penting. So, taulah sendiri ya, kalau posting hasil karya orang, sertakan sumber yang jelas. Jangan asal comot.

12. Tentang lincah?
Saya lincah, dulu. Sekarang? Masih. Tapi, saya tahu bahwa tidak semua orang mampu menerima kelincahan saya. Lantas, saya mulai membatasi segalanya, dengan pedoman, "Karena terlalu lincah memiliki peluang lebih besar dan sangat mungkin untuk terbuang." Jadi, saya sebisa mungkin menahan diri.

13. Hal yang nampak repot-repot akhir-akhir ini adalah hal yang disukai?
Tentu. Saya menyukai segala hal tentang apa yang saya lakukan dan segala yang saya pikirkan. Percayalah, ketika kamu melakukan sesuatu yang kamu sukai, lelah, penat, letih, akan terganti dengan kepuasan ketika segalanya berakhir baik.

14. Definisi 24 jam dalam sehari?
Saya membagi diri saya menjadi banyak peran; mahasiswa, seorang anak, seorang mbak, pembimbing, penulis, pendidik, seorang perempuan, dan manusia yang kebetulan aktif di suatu tempat. Jadi, dua puluh empat jam saya adalah menjadi sisi-sisi itu, dengan seadil-adilnya.

15. Pusat perhatian atau memusatkan perhatian?
Fokus pada tujuan.

16. Syarat memilih lagu?
Ballad, punya arti yang bagus, suara penyanyinya sesuai dengan yang saya harapkan.

17. Sesuatu yang tiba-tiba menggelitik logikamu?
WOW, IT'S DECEMBER!

___

Indralaya, 3 Desember 2018
Siti Sonia Aseka

Minggu, 25 November 2018

Hari Anti Kekerasan Perempuan Internasional

#KAMPANYE16HARIANTIKEKERASANTERHADAPPEREMPUAN

Secara fisik, perempuan jelas jauh lebih lemah ketimbang laki-laki. Tidak perlu banyak argumen atau debat kusir mengenai hal ini. Kelemahan itulah yang menjadikan Perempuan rentan mendapat pelecehan bahkan kekerasan di berbagai tempat di belahan bumi. Sayangnya, dari berbagai tindak pelecehan maupun kekerasan tersebut, hanya sedikit sekali perempuan yang berani melaporkan tindakan tidak menyenangkan yang ia terima kepada pihak berwajib. Alasannya? Karena mereka malu dan takut. Malu merusak nama baik keluarga serta takut menghancurkan reputasinya sendiri di masyarakat. Padahal mereka sadar, melepaskan pelaku pelecehan dan kekerasan begitu saja hanya akan memberikan mereka ruang untuk melakukan pelecehan dan kekerasan serupa terhadap pihak lain. Ini artinya, secara tidak langsung, perempuan yang mengalami pelecehan, mengizinkan pelecehan atau kekerasan yang sama terjadi kepada perempuan lain. Ironi, bukan?

Komisi Nasional (Komnas) Perempuan mencatat sebanyak 348.446 kasus kekerasan terhadap perempuan terjadi di Indonesia baik yang dilaporkan maupun di tangani sepanjang tahun 2017. Sebanyak 335.062 kasus tersebut bersumber pada data kasus yang di tangani oleh Pengadilan Agama (PA), 13.384 kasus ditangani oleh 237 lembaga mitra pengadaan layanan yang tersebar di 34 provinsi. Di tahun 2017, kekerasan tertinggi terjadi di ranah privat/personal. Data PA menunjukan ada 335.062 kasus kekerasan terhadap istri yang berujung perceraian. Sementara 13.384 kasus masuk dari lembaga mitra pengadaan layanan, dengan kekerasan yang terjadi di ranah privat/personal sebanyak 71% atau 9.609 kasus. Ranah publik/komunitas 3.528 atau 26% kasus dan 247 atau (1,8%) itu di ranah negara.

Data tersebut hanyalah data yang berhasil dihimpun di Indonesia. Dengan kata lain, adalah kemungkinan besar bahwa di belahan bumi berbeda, angka kekerasan dan pelecehan terhadap perempuan lebih tinggi dan ekstrim. Yang harus digaris bawahi, perempuan perlu memiliki pemahaman mengenai jenis-jenis pelecehan dan kekerasan, tidak boleh menganggap remeh bila diperlakukan demikian dan harus melawan. Diam saja tidak akan mengubah apapun. Diammu bukan lagi emas ketika hak pribadi untuk bersuara dan melindungi diri hanya sebatas kata-kata.

Sekitar dua bulan lalu, pemikiran tentang keterampilan bela diri bagi perempuan merangsek masuk dalam kepala saya berkali-kali, menjadi cikal bakal renungan, menunggu eksekusi pasti barangkali. Dan saya sepakat juga luar biasa mendukung kaum hawa mengembangkan serta melatih keterampilan tersebut sebagai bentuk perlindungan dan penjagaan diri. Karena seperti yang telah saya sebutkan di awal, kelemahan fisik perempuan menjadi tameng bagi pelaku kekerasan dan pelecehan untuk melancarkan aksi kejinya.

Jadi, anggapan bahwa perempuan hanya boleh bersikap lembut dan penuh kasih tidak semata membodohi perempuan untuk terhenti di tempat, dengan mengabaikan fakta bahwa perempuan perlu memiliki kesempatan dan peluang melawan penindasan.

Catatan penting, ironi lain yang saya dapatkan setelah membaca dan memperoleh informasi seputar kasus-kasus pelecehan dan kekerasan terhadap perempuan, bahwa terkadang sesama perempuan sendirilah yang seolah menyalahkan korban dengan berbagai alasan. Mengomentari cara berpakaian, cara berbicara, dandanan, juga lain sebagainya. Padahal, sungguh bukan penghakiman semacam itu yang dibutuhkan oleh korban pelecehan dan kekerasan. Mereka memerlukan dukungan tanpa batas, serta diyakinkan untuk bersemangat dalam meraih kembali hak yang telah dirampas. Kehilangan simpati tidak akan menjadikan kita manusia suci, justru sebaliknya; menekan pribadi kita sampai pada titik tidak memiliki hati.

Perlu diingat dan diresapi, entah memiliki makna mengena atau tidak sama sekali, tidak ada kasus pelecehan maupun kekerasan terhadap perempuan yang patut dikesampingkan demi kasus lain sejenis. Kita haruslah adil, menuntut setara kasus semacam itu dan tidak membedakan atas dasar kepentingan individu atau kelompok saja. Seperti masalah #KitaAgni juga #UntukBaiqNuril. Jelas, tidak ada namanya kasus prioritas, tidak ada kasus yang lebih penting untuk diurus dengan meninggalkan kasus yang lain. Kedua kasus tersebut harus mempunyai porsi sama, tak beda. Maka, bila satu mendapat kejelasan, yang lainnya pun berhak atas kejelasan yang sama.

Sebagai penutup, saya teringat kata-kata yang menjadi penguat Geng Gullaby asal India untuk terus bergerak melindungi korban pelecehan dan kekerasan di negara mereka; "Jika hukum tidak dapat melindungi perempuan, maka perempuanlah yang harus melindungi diri mereka sendiri."

Palembang, 25 November 2018
Memperingati Hari Anti Kekerasan Perempuan Internasional

Rabu, 31 Oktober 2018

Di Balik Layar

Tentu saja aku lega. Setelah semua terjal jalan kita permalukan, jelas aku merasa bahagia luar biasa. Harapan dan perjuangan, tak sekedar pendar samar berupa keributan kecil dalam kepala. Hari ini, semuanya nyata di depan mata, berkelebat dalam bentuk paling riuh dan penuh warna.
Kita sampai, pada pemberhentian pertama, bersiap naik pada bus selanjutnya yang entah akan mengantarkan kita kemana, mungkin tempat yang berbeda-beda, bisa jadi sebuah lahan kosong dan perlu diisi segera. Atau bahkan pelabuhan yang meminta berlayar dan berperang dengan hingar bingar kapal, sebelum sampai pada tujuan sebenarnya.

Tapi...
Setelah semua euforia ini, mengapa mendadak aku merasa kehilangan sesuatu, ya?

__

Pesta Demokrasi kampus telah usai.
Agenda besar tahunan yang rutin menjadi pusat perhatian itu tuntas lugas pada pekan terakhir di bulan Oktober, dua purnama menjelang pergantian tahun.

Jejak lentera masih ada, belum redup benar. Peralatan perang dan baju besi sudah mulai ditanggalkan. Langkah kaki, hentak seruan, sigap gerak bahkan pikiran yang terselotip erat dengan berbagai macam sumber tenaga entah apa, menjadi saksi bahwa ada yang meletup dan nyaris meledak.

Aku ingat masa itu.
Ketika banyak mata menatap curiga, saat sebuah kata tak mampu mendesak percaya, ketika saling menodong senjata adalah hal yang biasa.

Biarlah.

Nanti, setelah habis semua drama berkualitas tinggi ini, kita mungkin menyadari betapa sepele hal-hal sejenis menjatuhkan lawan atau mencari kelemahannya hingga tanpa sisa, macam kacang rebus yang dijual di pinggiran jalan malam minggu.

Lucu.

__

Terlepas dari peran-peran penuh sorotan, ada yang lebih patut mendapat pengakuan dan jelas apresiasi istimewa.

Pemeran utama mungkin nyaris sempurna, tetapi mereka tentu bukan apa-apa tanpa kru yang bertugas di belakang layar.

Untuk teman-teman yang entah bagaimana cara paling tepat mendeskripsikan kalian satu persatu, terima kasih telah bertahan dalam rinai bernama amanah. Terima kasih telah bersedia menjadi alasan bergeraknya poros kebaikan hingga sampai tujuan.

Kepada perempuan paling tangguh, yang tanggung jawabnya jelas bukan tentang dirinya saja tetapi kami semua, terima kasih. Untuk perempuan yang kami panggil bunda, terima kasih pula telah menyeimbangkan segala bentuk kegilaan dan perbuatan tanpa pikir panjang kami. Kepada dua perempuan yang ku panggil bidadari, terima kasih karena telah dengan aman terkendali menjadi pendingin hati kala emosi berapi-api. Untuk perempuan yang ku panggil kembaran, tetaplah menjadi perempuan kuat yang bisa melakukan nyaris segalanya. Jadilah dirimu sendiri. Di sini, aku pun berusaha untuk terus mencintai diri sendiri sebelum apapun. Tsundere-ku yang awalnya membuat bertanya-tanya dan menebak-nebak bagaimana cara menghadapimu, terima kasih juga karena telah menjadi perempuan paling peduli dan mudah dicintai. Untuk perempuan yang memiliki dominasi emosi meledak-ledak tak terkendali sepertiku, kamu juga takkan terganti. Terima kasih karena telah bersedia ku repotkan bahkan sampai hal-hal paling pribadi, membayarkan pembelian buku online-ku salah satunya, haha.

Untuk lima orang lain yang akan selalu dirindu, semoga kita segera mengolah segala bentuk kangen ini menjadi temu. Sebab, bila terlalu banyak rasa yang bergumul jadi satu, dalam medis, tentu bukan hal yang bagus, bukan begitu?

Dan tentu saja, kepada sekelompok manusia zaman entah kapan, terima kasih banyak karena telah menanggung lebih banyak beban serta tanggung jawab. Maaf karena kami seringkali malas menyiapkan makanan, maaf karena bahkan kami terlalu banyak tak di tempat saat kalian butuh (terutama aku), maaf karena belum bisa menjadi ibu-ibu bijak nan lemah lembut, maaf pula sebab kami terlalu banyak mengomel dan berubah cerewet pada banyak bagian waktu, maaf seringkali berbicara hingga menggurui kalian yang mungkin malah terdengar menyebalkan setengah mati.

Yah, pokoknya, terima kasih banyak.

Walau kalian juga punya ragam maaf yang ingin sekali kami dengar, hahaha.. Tapi, sungguh. Tulisan ini sama sekali tak meminta balasan.

Khusus dariku, untuk kalian yang merasa pernah melihat bahkan merasakan sendiri bagaimana judesnya aku, harap maklumi dan lupakan saja bila perlu. Lebih dari sekedar menyebalkan, memang.

__

Segala keindahan itu terlihat, sebab kita yang berbeda-beda ini dipaksa untuk beradu menjadi padu bagai warna-warni pelangi selepas hujan.

Agak drama, tentu.

Selamat dan sukses!
Barakallah wa Innalillah, saudaraku Wawan dan Tio yang telah dideklarasikan sebagai Presiden Mahasiswa dan Wakil Presiden Mahasiswa terpilih Universitas Sriwijaya periode yang akan datang.

Aku sungguh menanti gagasan #GerakBersama demi Universitas Sriwijaya dan menunggu kemajuan serta gebrakan baru di masa depan.

Kita bisa bila bersama!
Mahasiswa Universitas Sriwijaya, jangan lupa, KAWAL!

__

Siti Sonia Aseka
Palembang, 31 Oktober 2018

Jumat, 26 Oktober 2018

Being 'Today'

Saat kanak-kanak dulu, aku ingat betul. Ketika ayah, ibu, bahkan guru-guru bertanya, apa cita-citaku, maka dengan lugas aku menjawab, "Menjadi dokter!"

Yeah, terdengar klise sekali, kan?

Di tahun terakhir kuliah, di tengah hectic penyusunan skripsi dan tugas akhir, aku mulai berpikir, "Kenapa dulu aku ingin sekali jadi dokter, sih?" lalu seketika terbahak.

Sebenarnya, masalah cita-cita dan harapan masa depan semacam ini selalu jadi denyar agak ganjil. Apalagi untuk anak-anak yang "Hidup untuk hari ini" sepertiku.

Masa lalu? Apa sih, yang membuat orang-orang terkadang membandingkan sepanjang waktunya dengan hari-hari yang berlalu, dan berakhir dengan harapan tentang kembali ke masa itu? Konyol.

Juga masa depan. Tak peduli seberapa banyak kau menginginkan kehidupan yang lebih baik, bukankah harusnya memaksimalkan apa yang tampak di hadapan malah lebih baik?

Bagiku, waktu paling penting dalam hidup adalah ketika aku berjalan di detik ini saja, tak repot memikirkan apa-apa. Sejenis itulah.

Karena terlalu mengkhawatirkan banyak hal tentu menghabiskan sisa tenaga, bukan? Yeah, iyakan saja tanyaku satu itu, retoris.

Omong-omong soal hidup, datanglah ke ruangan kantor seseorang, dan kau akan temukan seluruh jiwanya di sana. Singgahilah rumah-rumah dan akan kau dapati kudapan enak serta ruang tengah yang nyaman.

Seperti aku, di tengah hiruk-pikuk ruang guru.
Aku seorang pengajar, ternyata.
Wow... Bertahun yang ku habiskan dengan bergulat dalam bilik-bilik kelas, coba tebak apa yang bisa lebih baik?

Mejaku ada di baris kedua dari pintu masuk. Dilapisi penutup meja bergambar sebuah rumah yang kehujanan. Hasil lukisan seorang siswa yang kini entah telah menjadi apa, bertahun-tahun lalu.

Komponen yang memenuhi meja itu sudah jelas sekali; buku latihan siswa yang bertumpuk-tumpuk, segelas teh hangat, tiga bunga mawar plastik di dalam vas yang berdebu, serta beberapa buku cetak milikku sendiri, sebagai pegangan.

Jadi, pagi ini, setelah mengantarkan dua anak dan 'teman' sepanjang usiaku sampai di depan pintu untuk berangkat sekolah dan pergi bekerja, aku gegas bersiap dan meluncur ke tempatku menghabiskan lebih dari setengah dari waktu dua belas jam.

Kelas pertamaku dimulai pukul 8.20 hari ini. Jadi, melirik jam tangan berwarna abu-abu pudar, aku menghela nafas. Masih pukul tujuh. Tidak buruk. Aku bisa menghabiskan waktu dengan menyiapkan bahan ajar, memeriksa buku soal atau menyelesaikan bacaan yang beberapa hari terakhir menemani waktu-waktu senggangku. Soal game yang kata orang bisa menghilangkan stress bahkan, aku tak peduli. Bagiku, alat pengalih perhatian sejenis itu sungguh bukan alternatif. Sama sekali nol besar.

"Selamat pagi. Hari yang cerah, ya."

Aku menatap tak habis pikir. Mendapati sosok perempuan tiga tahun lebih tua dariku tengah menarik kursinya, bersiap duduk. Kemudian, mataku menangkap sisa-sisa air hujan yang mengalir di jendela. Menarik nafas jengah.

"Mendung begini, bu?"

Aku meyakinkan perempuan yang menampilkan rona merah pada wajahnya.

"Mendung pun tampak indah di mataku, kau tau?"

Aku tersenyum sok mengerti. Memalingkan wajah pada keadaan di luar sana sekali lagi.

Ya, ya. Mungkin aku memang butuh sudut pandang selalu berbaik sangka semacam itu, beberapa persen saja.

__

Ada beberapa perjanjian di dunia ini yang tidak perlu menggunakan materai. Seperti ketika aku berjanji pada ibu untuk tidak bermain di tengah hujan sampai basah kuyup, berjanji pada ayah untuk melapor ke mana dan dengan siapa pergi tanpa ia yang mengantar, atau sebuah janji yang terlontar sebelum aku memutuskan untuk mengikat sebentuk persahabatan seumur hidup dengan seorang lelaki.

"Aku akan bekerja. Mengabdi sebagai guru sampai nyaris habis usiaku."

"Berarti, kita sama, ya?"

Aku mengangguk pasti. Tersenyum. Membiarkan sebuah petang berakhir dengan ia yang pamit pulang dan kesepakatan bulat tanpa embel-embel tuntutan sama sekali, "Bekerja; menjadi guru, menjadi istrinya, menjadi ibu dari anak-anaknya."

Perjanjian itu berjalan telah lama sekali.
Hingga hari ini, ketika bahkan terkadang aku lupa untuk menjadi seseorang yang memprioritaskan keluarga saja, berhenti menjadi lelah atas diri sendiri, tanggung jawab untuk mengabdi itu masih cukup besar hingga membelah pribadiku menjadi dua.

"Kita tidak boleh berakhir mengorbankan salah satu demi yang lain, sayang. Kita hadir untuk menyeimbangkan keduanya. Untuk kasusmu, jadi tiga."

Ya, aku mengerti.
Aku memang harus melakukan ini. Selama yang ia restui, sepanjang yang aku sanggupi. Tidak boleh menyerah, tidak boleh.

__

"Bu, kenapa guru suka sekali memberi tugas kepada murid?"

Suatu ketika putriku bertanya, menghentikan kegiatan menulis di atas buku Matematikanya. Menatapku, mengharapkan jawaban.

"Agar kalian bisa terus mengulang pelajaran di rumah, sayang."

"Kenapa harus diulang?"

"Agar ingat, tidak lupa. Sampai pintar."

Kepala kecil itu mengangguk-angguk, merasa cukup. Meraih kembali pensil hijau tuanya dan memasang raut serius, menyelesaikan sesuatu yang memang harus ia selesaikan.

Deja vu.

Jauh sebelum hari ini, aku sepertinya pernah mengalami hal serupa. Kapan, ya?

__

Siti Sonia Aseka
Palembang, 26 Oktober 2018

Kamis, 30 Agustus 2018

Sirius Menjelma Venus

Dalam kotak kacaku,
di sisa rintik setelah hujan hari itu,
kursi kayu yang biasa kau duduki,
Latte hangat yang rutin kau reguk,
kacamata yang tak lekang dari hidungmu,
lalu...
aku yang setia menunggu.

Suatu ketika,
kau bercerita.
Tentang dongeng sebuah bintang,
yang begitu terang tak terhalang.

Ia meminta pada Tuhan;
cahaya tanpa lawan,
api tanpa banding,
juga teman bukan lawan.

Tuhan mengabulkan.
Memberi bintang itu sebanyak yang ia minta.

Tetapi, sang bintang melupakan satu,
permintaan sederhana
namun menjadi sesal selamanya...

Ia lupa meminta umur panjang.

Lantas, ketika ia menjadi yang paling terang,
menghasilkan api tak habis dalam sekejap mata,
dikagumi oleh sesama kawan...

Ia tau bahwa sempurnanya takkan bertahan selama yang ia suka.

Sama sepertimu.

Seandainya, aku di sana saat kau membutuhkanku...
harusnya aku masih mendengarmu memohon tunggu...
mestinya aku di sisimu kala tamat segala cahaya itu.

Ya, harusnya aku tak meninggalkanmu.

Hanya karena aku lelah dengan sinar yang kau punya,
hanya tentang ironi bayang-bayang,
hanya sebab aku ingin berhenti menjadi sekedar satelit penghantar...
hanya biar aku memenuhi keegoisan tentang pembuktian...

Padahal, aku tak bisa berhenti mencintai Siriusku yang pergi, Sabtu malam itu.

Kini, bersama sisa bayangmu
aku sadar...

Syukuri segala cukup,
maksimalkan tenggat waktu,
jaga segala beri,
lalu, berhenti menuntut lebih

Melihatmu pada eksistensi Venus senja hari,
singkat namun berarti, bahwa ketika bumi mengitari porosnya, kita selalu bertemu.

Walau tak tampak wujudmu,
walau begitu lemah presensi hadir yang ku tunggu,
Tetap...
aku membutuhkan itu.

Merespons Fatwa HARAM Vasektomi yang dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia

Sepekan lalu, MUI melalui akun Instagram resminya, merilis tanggapan mengenai kebijakan yang diberlakukan oleh Gubernur Jawa Barat, yaitu: m...