Distro makanan cepat saji dekat kampus yang dilaunching dua hari lalu masih lumayan ramai. Maklum, potongan harganya sampai tujuh puluh persen. Worth it pula dengan cita rasa dan WiFi kencang, cocok mahasiswa ambis yang tiap hari kerjanya bikin tugas, atau buat mahasiswa semester santai yang doyan download drama Korea bercucuran air mata.
Itulah pula kenapa Kinan nyasar ke sini. Tentu tidak sendiri. Di hadapannya sudah duduk manis perempuan berjilbab pastel yang pekan lalu baru saja dipinang dengan bismillah seperti judul sinetron yang ngetop beberapa tahun lalu, bikin baper. Kinan dapat traktiran khusus yang buat dia bahagia setengah mampus. Katanya imbalan tutup mulut, sebab sukses tidak membocorkan proses menuju pernikahan salah satu asisten lab kesayangannya yang juga alumni Universitas mereka.
Sebagai mahasiswa semester akhir yang aktivitasnya sekedar bertemu dosen dan revisi, Kinan sih oke-oke saja diajak bertemu mendadak. Apalagi tawarannya gratisan, secepat kilat dia bersiap meski baru tidak sampai setengah jam menerima proposal dalam keadaan penuh coretan. Ya sudahlah, pikirnya. Mau rebahan dulu, siapa tahu bangun tidur langsung wisuda. Ngawur!
"Sehat kamu? Masih doyan oppa-oppa, nggak? Ini aku selamatkan nih dari Waktu Jomblo Bagian Bucin, daripada kamu teriak heboh di kost karena nonton si Jungkook-Jungkook itu. Makasihlah sini, jangan pelit."
Kinan terbahak, nyaris tersedak green tea latte yang baru diseruput masuk kerongkongan.
"Tahu aja mereka baru comeback dan MV barunya keluar tengah malam tadi. Capek streaming, proposalku habis dicoret pula, katanya banyak kesalahan penulisan. Bodo amat, deh. Jungkook membuat bening otakku yang lagi butek."
Kinan tertawa kecil, menyesali kebodohannya sok-sok siap bimbingan padahal revisi dua pekan lalu saja masih dibiarkan teronggok tanpa minat disentuh.
"Mbak Hana sendiri beneran nih? Nggak sama mas Faridz?"
Kinan celingak-celinguk. Kali-kali matanya siwer dan tidak sadar sedari tadi ada sosok tidak asing yang mojok sambil ngopi, nungguin istrinya nongki.
"Ya nggaklah, dia kerja. Yakali berdua mulu, lebay."
"Kan musimnya begitu. Baru nikah, foto mesra di sosmed bertebaran, profil akun berubah jadi foto cincin dan buku nikah, ke mana-mana pegangan tangan kayak truk gandeng."
Hana jelas-jelas tertawa lebar. Membenarkan dalam benak. Iya, dulu saat dirinya belum menikah, banyak sekali dia saksikan fenomena seperti itu. Jadi seperti kebiasaan. Segalanya dilakukan berdua, diposting, entah apa tujuannya. Sampai dia sendiri bertanya-tanya, apa nanti setelah menikah, dia akan tertular virus itu juga?
"Kamu bisa mengecualikan kami kok, Nan. Nggak ada deh itu posting-posting foto berdua mulu di akun personal pula. Capek, emang ngarep apa coba? Didoain netizen? Ya Alhamdulillah deh kalo memang benar. Tapi, kan, banyaknya malah orang-orang risih, termasuk kamu salah satunya, kan?"
Kinan mengangguk. Mau menyahut namun tertahan oleh nampan makanan yang melayang dihadapannya. Harum kentang goreng bikin selera makan meningkat pesat.
"Bagus deh kalau logika Mbak masih sehat. Akhirnya ada sepasang manusia yang nggak latah ngikutin trend macam itu."
"Lagian nih ya, kadang kita pikir membagikan kebahagiaan di sosial media atau di hadapan orang-orang adalah sesuatu yang bisa memotivasi dan membuat yang melihat turut merasakan bahagia. But, the fact is not. Kadang memang kebahagiaan itu cukup kita sendiri yang simpan, nggak perlulah seisi dunia ini ikut mengakui kebahagiaan kita, apa pentingnya coba?"
Kinan sepakat. Jemarinya mencomot kentang goreng dan mulai mengunyah.
"Yang berlebihan dan terlalu meledak-ledak memang nggak pernah baik sih, Mbak."
"Yup, seratus. Seperlunya aja, secukupnya. Suami-istri juga tidak berarti kita harus benar-benar selalu masuk ke kehidupan salah satunya. Aku punya kegiatanku sendiri, mas Faridz juga. Kami saling menyemangati, mensupport, tapi tidak akan terjun terlalu jauh sampai cenderung ikut campur. Ya simplenya, itu memang prinsip yang kami pegang; we own each other in heart not only hands."
"Ah, bijak banget sih istri orang satu iniii…."
"Alah, jijik, Nan. Hush, jauh-jauh sana."
Hana mengernyit, geleng-geleng kepala menyaksikan keajaiban adik tingkatnya yang suka tak terduga ini.
"Tapi ya, Mbak, salut banget aku sama orang-orang yang menahan euforianya tanpa kelepasan membagikan ke publik. Like, dude… di mana coba ada yang begitu di zaman begini?"
"Balik lagi ke prinsip tapi sebenarnya. Kamu menikah buat apa? Atau yang sederhana nih, foto kelulusanmu nanti. Kamu posting itu di medsos, dilihat semua followers, lalu kolom komentar penuh ucapan selamat. Kamu senang, jelas. Tapi, barangkali ada yang sesak hatinya melihat foto kamu, bertanya-tanya kapan gilirannya, kapan dia ada di posisi yang sama, mengenakan toga, tersenyum sempurna dengan berbagai hadiah dalam pelukan? Well, itu hak kamu sih untuk membagikan, hitung-hitung juga ucapan terima kasih ke orangtua yang sudah mengucurkan beasiswa mereka buat anak bandel kayak kamu gini. Tapi nggak perlu juga fotonya diposting berkali-kali atau nyaris setiap hari sampai bikin keki."
Kinan bertepuk tangan umpama badut ulang tahun sembari ngakak saking gelinya.
"Iya mbak, iyaaa.. nanti kuposting foto wisuda sekali ajaaa, nggak banyak-banyak. Tapi sekali posting sampai ngalahin slideshow sidang skripsi. Hahaha…."
Hana menggeplak lengan Kinan, gemas. Ini bocah satu kalau ngomong main-main sukanya diseriusin, soalnya.
"Aduh, sakit tahu, mbak. Canda ajaaa… serius amat, elah."
"Udahlah, jadi bahas beginian kita. Pulang dari sini langsung revisi kamu, jangan rebahan lagi. Kasian dianggurin begitu, mumpung anget. Biar besok bisa bimbingan lagi. Biar cepet itu toga dijemput, nggak masuk dalam mimpi doang."
Kinan meringis miris. Tahu aja ini Mbak Hana, pikirnya. Niat hibernasi mendadak lenyap kalau sudah ditampar dengan kata-kata begini.
"Iya mbak, iyaaa. Nanti kucicil revisinya. Pokoknya wisudaku Mbak harus datang, ya. Jangan sok sibuk."
"Halah, masih lama juga kalau kerjamu macet-macetan begini. Keburu nanti dibalap adik tingkat, tahu rasa."
Kinan nyengir tak enak hati. Diam-diam bertekad menyudahi segala drama skripsinya yang mengalahkan episode serial Bollywood favorit ibu di rumah.
"Tengah tahun ini fix lho, mbak. Makanya doain banyak-banyak, sampai semesta muak dan pilih mengabulkan."
Hana terkikik, "Sok puitis kamu."
Kinan manyun. Begini ini, nih kalau berhadapan dengan yang sudah sering makan gombalan. Nggak mempan lagi!
"Ashar di masjid kampus aja ya, Nan. Terus nanti kuanter kamu pulang ke kost. Masih nggak bawa motor, kan? Beraniinlah, dek. Kapan lagi. Ya kalau ojol selamanya ada. Kita kan nggak tahu, nanti bisa jadi segala macam yang online-online itu dihapuskan, bisa stress kamu susah keluar rumah. Mau minta antar-jemput siapa?"
"Ish, bawel beud dah mbak. Iya, iya. Ini lagi belajar. Sekarang jarak berkendara yang pendek-pendek aja, jauh-jauh belum punya nyali."
Hana mencibir.
Kinan inilah adik tingkatnya yang bandel sekali dan susah dibilangin. Dengar nasihat kayak makan kerupuk, lewat saja.
"Kuy, otw sekarang mbak."
Kinan menatap piring ayam gepreknya yang sudah kosong melompong. Menyeruput sampai tandas green tea latte yang sudah banyak kehilangan embun.
"Mbak jangan sombong-sombong, yaaa…. Jangan susah diajak ketemu pokoknya."
Hana menggerutu kecil, beralih menuju kasir untuk membayar pesanan dan membiarkan Kinan di belakang sana mengekori kayak anak sapi terhadap induknya.
"Dasar bocah."
Palembang, 5 Maret 2020
Siti Sonia Aseka
Kamis, 05 Maret 2020
Selasa, 03 Maret 2020
The Truth Untold
Hai, kita tidak bertemu lagi, tetapi aku barangkali dirasuki sesuatu sampai memikirkanmu, meski harusnya tak perlu tumbuhkan nyali untuk sekedar ziarahi masa lalu.
Kau masih sama.
Bicaramu besar, ambisimu, ide gilamu, candaanmu yang terkesan tepat sasaran, apalagi ucapanmu tentang rindu. Nah, yang satu itu sama sekali tidak berubah sejak dulu.
Tetapi, aku tentu bukan seseorang yang bisa kau raih hanya kala butuh, atau saat mendadak kau ingin tahu apakah aku masih simpan cerita-cerita tentang betapa kita pernah saling berbagi sisi manis sebelum juga saling melupakan.
Kau pergi pada malam itu bersama ungkapan cinta dan aku tahu, berakhir sudah jadi takdir; aku harus anggap selesai saat kau mulai bangun kisah yang baru, bersama orang lain, tentu.
Hei, aku tidak katakan kau jahat.
Sama sekali tidak, dan barangkali memang tidak akan pernah.
Saat itu, aku hanya kesulitan sebab tak biasa sendiri, tak akrab dengan kekosongan dan memang tidak siap dengan hampa yang kau suguhkan tanpa tedeng aling.
Aku hanya kebingungan harus bagaimana dan kebetulan, satu pintu terbuka lantas kuputuskan masuk tanpa banyak berpikir.
Sesederhana itu.
Baiknya, waktu juga membawa kita berjalan jauh tanpa perlu repot menoleh.
Kala itu, aku sedikit ingin kau datang.
Sedikit saja.
Demi jelaskan mengapa dan selesaikan, sebab masih banyak yang tersisa di belakang.
Kau harusnya mengerti, aku tak bisa tinggalkan tempat itu sebelum kau angkut barang-barangmu, lalu biarkan aku putuskan untuk tetap tinggal atau turut pergi menyusulmu.
Kau mestinya paham, aku cukup punya tanggung jawab sebab ikut membangun harapan atas masa depan yang kau gadang-gadang diwariskan semesta kepada kita, walau nyatanya tidak dan memang mustahil kejadian.
Tetapi, kau memang tak berniat melakukan apa-apa.
Entah karena telah muak, atau memang pada dasarnya hanya aku yang berpikir kita belum utuh usai.
Aku agak marah, ingin membenci, dan jelas kecewa.
Aku pernah terluka, pernah disakiti, pernah berdarah-darah, ialah saat kau hadir di sana menyaksikan, lantas menawari sebuah atap tanpa dinding.
Katamu, nanti kita susun bersama, nanti berupaya bersama.
Tetapi lagi-lagi, semua memang tinggal kenang dan aku sedikit merasa; kita lebih baik tidak usah sok hebat lantas beralasan mampu saling menyembuhkan.
Butuh beberapa waktu bagiku untuk merasa baik-baik saja.
Butuh setidaknya semua hal baru jauh darimu, jauh dari keping yang buat kita kembali terhubung, jauh dan benar-benar jauh.
Aku sibuk dan itu membantu.
Aku lelah dan itu juga pertolongan menyenangkan.
Aku begitu banyak berpikir sampai sengaja tak sisakan ruang demi menangisi yang sudah lalu.
Aku berjanji untuk melepaskan dan melangkah ringan, seperti kala kau minggat dariku, seolah kita tidak pernah ada, seolah segalanya memang hanya mimpi yang hilang kala kau bangun lalu melebur bersama udara.
Semudah itu.
Akhir-akhir, aku masih hidup dengan baik.
Aku melakukan segala hal yang kusukai.
Aku mengejar apa yang pantas kuusahakan.
Aku menggenggam segala sesuatu dalam kepalan tangan.
Namun, kupikir barangkali kau tengah berada dalam kondisi paling buruk, sebab mampu membongkar kotak usang dalam memori berkarat hanya demi menyapaku.
Aku tidak keberatan, sungguh.
Tetapi, harusnya kita tahu batas dan paham di mana mesti berdiri, bukan?
Melangkahi garis yang tidak dibuat untuk dilalui bukankah namanya pelanggaran dan kau harus mendapat hukuman?
Aku tidak keberatan, lagi-lagi kukatakan demikian.
Sama sekali tidak merasa disakiti atas luka yang masih basah bahkan kembali berdarah.
Aku baik-baik saja.
Lukanya sudah hilang, tak berbekas, bahkan nyaris benar-benar kulupakan bersama kau yang menggoresnya.
Aku sungguh baik-baik saja.
Tetapi, mengetahui fakta bahwa kau masih mengungkit 'kita' lalu berujar seolah aku akan tetap berharap banyak, bukankah memang sudah sampai pada titik aku harus memperingatkanmu bahwa segala hal punya limit?
Kasarnya, 'kita' dalam kepalamu telah menjelma basi bagiku.
Segalanya pernah begitu magis sampai kau sendiri yang batalkan sihirnya.
Kau sendiri yang patahkan tongkat ajaib, lantas pilih menjadi pangeran atas istana kerajaan.
Kau tidak lagi tertarik pada dongeng ibu peri dan aku cukup mengerti meski harus dihancurkan berkeping-keping.
Kita sudah jauh meninggalkan halaman itu.
Kini, aku telah ciptakan lembar baru.
Amat banyak, sangat banyak, sampai menimbun yang lalu dan kau tak perlu sok kuat menggalinya sampai dasar untuk dipersembahkan padaku.
Aku tidak butuh.
Semuanya baik-baik saja saat kau kembali datang.
Tidak ada kekosongan yang perlu kau isi, tak ada kehampaan yang perlu kau tinggali, dan tentu tak ada rindu yang harus kau bayar tuntas.
Selesai, cukup.
Sekarang, aku harus tutup pintunya lagi.
Barangkali, tidak akan pernah kubuka meski kau menggedor dan memaksa masuk, walau kau berkata akan memperbaiki yang bagiku tak tampak kerusakan barang setitik.
Kau hanya penasaran tentang kabarku, kau hanya ingin mendapati fakta bahwa aku tak hidup lebih baik dari saat bersamamu dulu.
Sedikit lucu bahwa kau bahkan tak pernah ingin tahu apa salahmu, dan seberapa besar aku berharap semesta menguburmu dalam-dalam, untuk kemudian mampu kutenggelamkan tanpa banyak kasihan.
Aku yakin kita pernah berteman, barangkali masih, barangkali memang hanya sebatas sana aku mampu menganggapmu dekat meski kau berulang kali tanyakan perihal garis yang kubuat.
Kau tidak seistimewa itu untuk selalu kukenang.
Palembang, 3 Maret 2020
Siti Sonia Aseka
Kau masih sama.
Bicaramu besar, ambisimu, ide gilamu, candaanmu yang terkesan tepat sasaran, apalagi ucapanmu tentang rindu. Nah, yang satu itu sama sekali tidak berubah sejak dulu.
Tetapi, aku tentu bukan seseorang yang bisa kau raih hanya kala butuh, atau saat mendadak kau ingin tahu apakah aku masih simpan cerita-cerita tentang betapa kita pernah saling berbagi sisi manis sebelum juga saling melupakan.
Kau pergi pada malam itu bersama ungkapan cinta dan aku tahu, berakhir sudah jadi takdir; aku harus anggap selesai saat kau mulai bangun kisah yang baru, bersama orang lain, tentu.
Hei, aku tidak katakan kau jahat.
Sama sekali tidak, dan barangkali memang tidak akan pernah.
Saat itu, aku hanya kesulitan sebab tak biasa sendiri, tak akrab dengan kekosongan dan memang tidak siap dengan hampa yang kau suguhkan tanpa tedeng aling.
Aku hanya kebingungan harus bagaimana dan kebetulan, satu pintu terbuka lantas kuputuskan masuk tanpa banyak berpikir.
Sesederhana itu.
Baiknya, waktu juga membawa kita berjalan jauh tanpa perlu repot menoleh.
Kala itu, aku sedikit ingin kau datang.
Sedikit saja.
Demi jelaskan mengapa dan selesaikan, sebab masih banyak yang tersisa di belakang.
Kau harusnya mengerti, aku tak bisa tinggalkan tempat itu sebelum kau angkut barang-barangmu, lalu biarkan aku putuskan untuk tetap tinggal atau turut pergi menyusulmu.
Kau mestinya paham, aku cukup punya tanggung jawab sebab ikut membangun harapan atas masa depan yang kau gadang-gadang diwariskan semesta kepada kita, walau nyatanya tidak dan memang mustahil kejadian.
Tetapi, kau memang tak berniat melakukan apa-apa.
Entah karena telah muak, atau memang pada dasarnya hanya aku yang berpikir kita belum utuh usai.
Aku agak marah, ingin membenci, dan jelas kecewa.
Aku pernah terluka, pernah disakiti, pernah berdarah-darah, ialah saat kau hadir di sana menyaksikan, lantas menawari sebuah atap tanpa dinding.
Katamu, nanti kita susun bersama, nanti berupaya bersama.
Tetapi lagi-lagi, semua memang tinggal kenang dan aku sedikit merasa; kita lebih baik tidak usah sok hebat lantas beralasan mampu saling menyembuhkan.
Butuh beberapa waktu bagiku untuk merasa baik-baik saja.
Butuh setidaknya semua hal baru jauh darimu, jauh dari keping yang buat kita kembali terhubung, jauh dan benar-benar jauh.
Aku sibuk dan itu membantu.
Aku lelah dan itu juga pertolongan menyenangkan.
Aku begitu banyak berpikir sampai sengaja tak sisakan ruang demi menangisi yang sudah lalu.
Aku berjanji untuk melepaskan dan melangkah ringan, seperti kala kau minggat dariku, seolah kita tidak pernah ada, seolah segalanya memang hanya mimpi yang hilang kala kau bangun lalu melebur bersama udara.
Semudah itu.
Akhir-akhir, aku masih hidup dengan baik.
Aku melakukan segala hal yang kusukai.
Aku mengejar apa yang pantas kuusahakan.
Aku menggenggam segala sesuatu dalam kepalan tangan.
Namun, kupikir barangkali kau tengah berada dalam kondisi paling buruk, sebab mampu membongkar kotak usang dalam memori berkarat hanya demi menyapaku.
Aku tidak keberatan, sungguh.
Tetapi, harusnya kita tahu batas dan paham di mana mesti berdiri, bukan?
Melangkahi garis yang tidak dibuat untuk dilalui bukankah namanya pelanggaran dan kau harus mendapat hukuman?
Aku tidak keberatan, lagi-lagi kukatakan demikian.
Sama sekali tidak merasa disakiti atas luka yang masih basah bahkan kembali berdarah.
Aku baik-baik saja.
Lukanya sudah hilang, tak berbekas, bahkan nyaris benar-benar kulupakan bersama kau yang menggoresnya.
Aku sungguh baik-baik saja.
Tetapi, mengetahui fakta bahwa kau masih mengungkit 'kita' lalu berujar seolah aku akan tetap berharap banyak, bukankah memang sudah sampai pada titik aku harus memperingatkanmu bahwa segala hal punya limit?
Kasarnya, 'kita' dalam kepalamu telah menjelma basi bagiku.
Segalanya pernah begitu magis sampai kau sendiri yang batalkan sihirnya.
Kau sendiri yang patahkan tongkat ajaib, lantas pilih menjadi pangeran atas istana kerajaan.
Kau tidak lagi tertarik pada dongeng ibu peri dan aku cukup mengerti meski harus dihancurkan berkeping-keping.
Kita sudah jauh meninggalkan halaman itu.
Kini, aku telah ciptakan lembar baru.
Amat banyak, sangat banyak, sampai menimbun yang lalu dan kau tak perlu sok kuat menggalinya sampai dasar untuk dipersembahkan padaku.
Aku tidak butuh.
Semuanya baik-baik saja saat kau kembali datang.
Tidak ada kekosongan yang perlu kau isi, tak ada kehampaan yang perlu kau tinggali, dan tentu tak ada rindu yang harus kau bayar tuntas.
Selesai, cukup.
Sekarang, aku harus tutup pintunya lagi.
Barangkali, tidak akan pernah kubuka meski kau menggedor dan memaksa masuk, walau kau berkata akan memperbaiki yang bagiku tak tampak kerusakan barang setitik.
Kau hanya penasaran tentang kabarku, kau hanya ingin mendapati fakta bahwa aku tak hidup lebih baik dari saat bersamamu dulu.
Sedikit lucu bahwa kau bahkan tak pernah ingin tahu apa salahmu, dan seberapa besar aku berharap semesta menguburmu dalam-dalam, untuk kemudian mampu kutenggelamkan tanpa banyak kasihan.
Aku yakin kita pernah berteman, barangkali masih, barangkali memang hanya sebatas sana aku mampu menganggapmu dekat meski kau berulang kali tanyakan perihal garis yang kubuat.
Kau tidak seistimewa itu untuk selalu kukenang.
Palembang, 3 Maret 2020
Siti Sonia Aseka
Selasa, 11 Februari 2020
Sejatinya....
Sejatinya belajar adalah ketiadaan atas ilmu, yang dibungkus proses demi meraih sebenar-benar keyakinan sehingga memiliki kemerdekaan sudut pandang.
Entah pengalaman personal, hasil dari mendengar atau melihat, bahkan bila hanya membaca dan menduga.
Sudah menjadi niscaya, pembelajar bukanlah musafir yang berteduh di bawah satu pohon saja.
Perjalanan mencapai tujuan, tidak akan cukup ditempuh dengan beristirahat barang sebentar, atau berlindung mengandalkan mutlak satu pohon rindang.
Maka mengkultuskan seseorang atau sesuatu kecuali Dia, adalah salah bila terlalu kejam menyebut sebagai rupa bilangan dosa.
Seorang guru tak ditampik merupakan manusia biasa. Kharismanya bukan alasan bagi diri untuk membenarkan segala tingkah laku, bahkan mengagungkan tanpa kehendak mencari tahu.
Hei, anak muda.
Mainlah yang jauh, temui banyak orang, perluas lingkar pergaulan, dengarkan dan lihat; dunia ini menunggumu menyentuh tanpa bantuan indera entitas lain. Jangan hanya menanti dan menerima terlalu pasrah.
Kau perlu membumi untuk mendunia.
Manusia adalah tempatnya khilaf dan dosa.
Kau manusia, dia manusia, kita semua manusia.
Lalu apa yang kau banggakan?
Apa yang kau ingin manusia lain lihat darimu? Absolut kebaikan saja?
Padahal kau juga berbuat salah, maka biarkan mereka tahu; terkadang pola pikirmu kau tuliskan sebab murni hasrat rasa, bukan semata demi meraih ridho-Nya.
Kau ingin orang-orang membaca kisah patahmu.
Kau ingin menjadi 'hero' sebab sanggup terbang dengan sayap tak utuh.
Padahal, kau bahkan tak pernah berjalan lebih jauh dari sekedar ucapanmu.
Kau menghakimi orang lain sebab kau tak berada di titik itu, dan hanya 'merasa' tahu tanpa perlu repot menarik benang merah atau hidup dalam logika yang sehat; bahwa semua aksi dilakukan atas dasar reaksi.
Astaghfirullah...
Ya Rabbana...
barangkali keangkuhan hamba-Mu di atas semesta ini tak perlu dijelaskan peliknya.
"Jadilah kalian orang-orang yang:
Paling kokoh sikapnya
Paling lapang dadanya
Paling dalam pemikirannya
Paling luas cara pandangnya
Paling rajin amal-amalnya
Paling solid penataan organisasinya
Paling banyak manfaatnya.
Merendahlah engkau, seperti bintang gemintang, berkilau dipandang orang di atas riak air dan sang bintang nun jauh tinggi. Janganlah seperti asap yang mengangkat diri tinggi di langit padahal dirinya rendah lagi hina.“
(K.H. Rahmat Abdullah)
Wallahu'alam~
Palembang, 11 Februari 2020
Siti Sonia Aseka
Entah pengalaman personal, hasil dari mendengar atau melihat, bahkan bila hanya membaca dan menduga.
Sudah menjadi niscaya, pembelajar bukanlah musafir yang berteduh di bawah satu pohon saja.
Perjalanan mencapai tujuan, tidak akan cukup ditempuh dengan beristirahat barang sebentar, atau berlindung mengandalkan mutlak satu pohon rindang.
Maka mengkultuskan seseorang atau sesuatu kecuali Dia, adalah salah bila terlalu kejam menyebut sebagai rupa bilangan dosa.
Seorang guru tak ditampik merupakan manusia biasa. Kharismanya bukan alasan bagi diri untuk membenarkan segala tingkah laku, bahkan mengagungkan tanpa kehendak mencari tahu.
Hei, anak muda.
Mainlah yang jauh, temui banyak orang, perluas lingkar pergaulan, dengarkan dan lihat; dunia ini menunggumu menyentuh tanpa bantuan indera entitas lain. Jangan hanya menanti dan menerima terlalu pasrah.
Kau perlu membumi untuk mendunia.
Manusia adalah tempatnya khilaf dan dosa.
Kau manusia, dia manusia, kita semua manusia.
Lalu apa yang kau banggakan?
Apa yang kau ingin manusia lain lihat darimu? Absolut kebaikan saja?
Padahal kau juga berbuat salah, maka biarkan mereka tahu; terkadang pola pikirmu kau tuliskan sebab murni hasrat rasa, bukan semata demi meraih ridho-Nya.
Kau ingin orang-orang membaca kisah patahmu.
Kau ingin menjadi 'hero' sebab sanggup terbang dengan sayap tak utuh.
Padahal, kau bahkan tak pernah berjalan lebih jauh dari sekedar ucapanmu.
Kau menghakimi orang lain sebab kau tak berada di titik itu, dan hanya 'merasa' tahu tanpa perlu repot menarik benang merah atau hidup dalam logika yang sehat; bahwa semua aksi dilakukan atas dasar reaksi.
Astaghfirullah...
Ya Rabbana...
barangkali keangkuhan hamba-Mu di atas semesta ini tak perlu dijelaskan peliknya.
"Jadilah kalian orang-orang yang:
Paling kokoh sikapnya
Paling lapang dadanya
Paling dalam pemikirannya
Paling luas cara pandangnya
Paling rajin amal-amalnya
Paling solid penataan organisasinya
Paling banyak manfaatnya.
Merendahlah engkau, seperti bintang gemintang, berkilau dipandang orang di atas riak air dan sang bintang nun jauh tinggi. Janganlah seperti asap yang mengangkat diri tinggi di langit padahal dirinya rendah lagi hina.“
(K.H. Rahmat Abdullah)
Wallahu'alam~
Palembang, 11 Februari 2020
Siti Sonia Aseka
Rabu, 22 Januari 2020
The End
Untuk sekian rasa benci yang orang lain tumbuhkan terhadapmu, cobalah untuk jangan terlalu habis-habisan dalam mencari tahu alasannya. Sebab, sama seperti cinta, terkadang kebencian hadir begitu saja. Agar tak terkejut, barangkali sudah saatnya merasa bahwa diri tak pernah mampu capai kata sempurna, sekeras apapun berusaha.
"Kau tidak sedang lari dari masalah lagi, 'kan?"
Kali ini, suara Namjoon sumpah terdengar lebih menyakitkan sebab berisi sepenuhnya tuduhan ketimbang murni pertanyaan.
"Aku tidak lari, kok." kalem, masih dengan upaya melindungi kepala dari amarah dan kekesalan pria di depan sana, aku melontarkan sanggahan paling tidak berguna dan kemungkinan besar malah tidak berdampak apa-apa.
"Ha, omong kosong." Namjoon berdecih, menutup bukunya keras-keras di hadapanku demi mengalirkan sejumput isi hatinya yang carut marut. "Kalau begitu, berhentilah sembunyi dan hadapi gerombolan sapi betina itu!"
"Kau tidak berada di posisiku." rasa Americano yang kami pesan siang ini jadi jauh lebih hambar. "Kau tidak pula tahu bagaimana rasanya menjadi satu-satunya manusia di tengah padang rumput berisi kawanan sapi liar. Kau tidak mengerti. Sekali kumunculkan bayangan barang sekelebat, mereka akan mati-matian menyerangku. Seolah aku ini ancaman mengerikan bagi mereka. Predator yang memangsa anak-anaknya barangkali."
Sepasang netra yang sedari tadi memerhatikan itu menyipit, dalam rangka menelusuri kebohongan dan jelas hanya menemukan kekosongan.
"Jadi, kau rela saja menjadi fosil di sana tanpa berani menantang bahaya?"
"Aku tidak bilang bahwa aku akan melindungi diri dengan cara begini selamanya." satu senyum kuumbar percuma. "Suatu hari, ketika mereka lengah, saat rumputnya sudah mulai membosankan, aku akan keluar menyelamatkan diri. Pergi sejauh-jauhnya dan tidak akan kembali."
"Tetap saja itu namanya melarikan diri, idiot!"
"Itu namanya tahu diri."
Senyum miring Namjoon terbit.
Buku yang sedari tadi ia pegang akhirnya mendarat juga di kepalaku.
Aku meringis, namun paham tak pula dalam posisi yang benar untuk membalas.
"Mereka tidak tahu malu, serius deh. Bagaimana mungkin menyakiti orang lain tanpa merasa bersalah begitu? Setidaknya berusaha untuk berbuat bersih dan berhenti playing victim."
Aku mengangkat bahu, acuh. Sudah tidak ingin mengungkit racun yang hanya akan menghancurkan dari dalam, melubangi hingga rapuh.
"Manusia, sudah sifat alaminya mengamankan diri sendiri, tak peduli jika tindakan tersebut membuat orang lain terkena imbasnya. Aku belajar banyak dari mereka. Belajar caranya menyudahi kebencian dengan ketidakpedulian. Belajar menghentikan keingintahuan yang hanya akan berbuah luka."
Aku pernah sedemikian menggantungkan keinginan untuk menikmati Utopia selama yang kubisa. Aku pernah tersenyum dengan sebenar-benar senyuman, pernah pula tertawa keras karena dilanda bahagia.
Pernah terjadi. Sudah lama, lama sekali.
Tapi, kini, seperti kata Namjoon, gerombolan hewan liar entah dari mana menyerbu wilayahku hingga aku sendiri hampir terusir pergi.
Heck, tidak terdengar elite.
Penduduk asli dikalahkan oleh pendatang?
Yang benar saja.
Tapi, well, itu faktanya.
"Ya sudahlah, sepertinya memang sudah tidak ada lagi kesempatan bagimu, bukan? Bergegas. Jangan terlalu lama bertahan di sana, sembunyi dari mereka yang tetap akan menghabisimu tanpa belas kasihan."
Namjoon seperti biasa berkata tanpa emosi, menandaskan kopinya lalu menikmati dalam diam sepotong cake cokelat bertabur almond. Sementara aku, terkurung dalam fase terkapar dan meminta pertolongan dengan teriakan membabi buta, jauh di dalam sana. Namjoon jelas mendengarku. Namun, hei, dia bilang aku memang harus mendapat hukuman sebab terlalu banyak berjuang sendirian.
"Kau tahu, terkadang bukan soal kuantitas eksistensi kepala yang terpenting, namun kualitas isinya. Banyak pertarungan di atas muka bumi ini berakhir dimenangkan oleh kelompok dengan jumlah prajurit lebih sedikit ketimbang kelompok berisi banyak manusia. Tahu mengapa? Aku tidak akan bilang yang sedikit memiliki kapasitas otak lebih baik. No. Naif sekali. Namun jelas, mereka yang menang tentu lebih pandai dalam mengambil kesempatan dan mengisi celah kosong. Lebih mengantisipasi dan meninggikan konsentrasi sebab sadar mereka sudah kalah jumlah. Yang kulihat di sini dalam kasusmu, kau sama sekali tidak memiliki kualitas dan keberanian itu. Kau sendirian, tak berani mengambil kesempatan, dan konsentrasimu telah jauh pecah sejak lama sekali. Padahal, di depan mata, kalau kau bertekad sedikit lebih keras saja, kau bisa melakukannya. Sudah berapa banyak celah yang kau pandangi namun tak jua kau isi? Tak terhingga. Aku tahu kau sudah kehilangan semangat, aku mengerti kau telah nyaris menyerah di persimpangan jalan kemarin. Namun, hei, pada akhirnya kau tiba di tempat tujuan. Apa kau rela destinasimu dikuasai orang lain, sedang kau mati-matian meraihnya? Semesta tidak menciptakan manusia hanya agar mereka pasrah terhadap manusia lain. Arenamu tersedia, dan kau tinggal mengangkat senjata demi memenangkan hakmu, sekali lagi. Jangan diam hanya demi kata damai. Kalau kau benar, perangi yang salah. Ambil tempatmu, dapatkan apa yang memang pantas kau genggam."
Panjang, lebar, dan semoga mengubah sesuatu.
Namjoon sudah bekerja keras mengembalikan akal sehatku, maka sebagai perempuan tahu terima kasih, sudah seharusnya aku meletakkan isi kepala utuh tanpa kurang satu sel pun.
Butuh begitu lama bagiku demi menyadari terkadang dikasihani sebagai korban, terlihat menyenangkan sebab pembelaan tanpa diminta malah datang cuma-cuma, alibinya sih 'melawan pelaku', walau tak pula jelas, apakah memang pelakunya benar ada atau sekedar halu.
"Kau sudah lama sekali hidup dengan cap tersangka di keningmu. Tidak lelah?"
Aku tertawa kering.
Malah terdengar seperti tercekik sebenarnya.
"Tuduhan yang manis bukan? Percaya atau tidak, aku menikmati sensasi bersalah atau kebenaran yang kuudarakan, meski sekali lagi dianggap sebagai dosa besar."
Aku tahu orang lain gemas terhadapku. Gemas melihat si idiot memainkan peran sebagai terdakwa meski tak ada setitik kesalahan dibuat oleh tangannya.
Ah, ada, sih.
Bila berusaha menjadi lurus di tengah bengkok dianggap sebagai dosa, ya, aku memang pendosa besar, sungguh.
Heck, mengapa aku jadi percaya diri sekali begini?
Aku bukan orang suci.
Serius, deh.
Hanya memang tak harus orang suci yang punya tugas mengingatkan sesama manusia.
"Sudah, jangan sok berpikir begitu. Aku tahu kau sudah kehilangan separuh isi otakmu dalam perjalanan kemari."
Terserah.
Aku berdecak.
Lantas bangkit setelah menghabiskan seluruh pesanan, ingin pulang dan melupakan.
"Jangan lupa salam perpisahannya!"
Tentu.
Ha, seperti aku akan lupa saja.
Siti Sonia Aseka
Palembang, 22 Januari 2020
"Kau tidak sedang lari dari masalah lagi, 'kan?"
Kali ini, suara Namjoon sumpah terdengar lebih menyakitkan sebab berisi sepenuhnya tuduhan ketimbang murni pertanyaan.
"Aku tidak lari, kok." kalem, masih dengan upaya melindungi kepala dari amarah dan kekesalan pria di depan sana, aku melontarkan sanggahan paling tidak berguna dan kemungkinan besar malah tidak berdampak apa-apa.
"Ha, omong kosong." Namjoon berdecih, menutup bukunya keras-keras di hadapanku demi mengalirkan sejumput isi hatinya yang carut marut. "Kalau begitu, berhentilah sembunyi dan hadapi gerombolan sapi betina itu!"
"Kau tidak berada di posisiku." rasa Americano yang kami pesan siang ini jadi jauh lebih hambar. "Kau tidak pula tahu bagaimana rasanya menjadi satu-satunya manusia di tengah padang rumput berisi kawanan sapi liar. Kau tidak mengerti. Sekali kumunculkan bayangan barang sekelebat, mereka akan mati-matian menyerangku. Seolah aku ini ancaman mengerikan bagi mereka. Predator yang memangsa anak-anaknya barangkali."
Sepasang netra yang sedari tadi memerhatikan itu menyipit, dalam rangka menelusuri kebohongan dan jelas hanya menemukan kekosongan.
"Jadi, kau rela saja menjadi fosil di sana tanpa berani menantang bahaya?"
"Aku tidak bilang bahwa aku akan melindungi diri dengan cara begini selamanya." satu senyum kuumbar percuma. "Suatu hari, ketika mereka lengah, saat rumputnya sudah mulai membosankan, aku akan keluar menyelamatkan diri. Pergi sejauh-jauhnya dan tidak akan kembali."
"Tetap saja itu namanya melarikan diri, idiot!"
"Itu namanya tahu diri."
Senyum miring Namjoon terbit.
Buku yang sedari tadi ia pegang akhirnya mendarat juga di kepalaku.
Aku meringis, namun paham tak pula dalam posisi yang benar untuk membalas.
"Mereka tidak tahu malu, serius deh. Bagaimana mungkin menyakiti orang lain tanpa merasa bersalah begitu? Setidaknya berusaha untuk berbuat bersih dan berhenti playing victim."
Aku mengangkat bahu, acuh. Sudah tidak ingin mengungkit racun yang hanya akan menghancurkan dari dalam, melubangi hingga rapuh.
"Manusia, sudah sifat alaminya mengamankan diri sendiri, tak peduli jika tindakan tersebut membuat orang lain terkena imbasnya. Aku belajar banyak dari mereka. Belajar caranya menyudahi kebencian dengan ketidakpedulian. Belajar menghentikan keingintahuan yang hanya akan berbuah luka."
Aku pernah sedemikian menggantungkan keinginan untuk menikmati Utopia selama yang kubisa. Aku pernah tersenyum dengan sebenar-benar senyuman, pernah pula tertawa keras karena dilanda bahagia.
Pernah terjadi. Sudah lama, lama sekali.
Tapi, kini, seperti kata Namjoon, gerombolan hewan liar entah dari mana menyerbu wilayahku hingga aku sendiri hampir terusir pergi.
Heck, tidak terdengar elite.
Penduduk asli dikalahkan oleh pendatang?
Yang benar saja.
Tapi, well, itu faktanya.
"Ya sudahlah, sepertinya memang sudah tidak ada lagi kesempatan bagimu, bukan? Bergegas. Jangan terlalu lama bertahan di sana, sembunyi dari mereka yang tetap akan menghabisimu tanpa belas kasihan."
Namjoon seperti biasa berkata tanpa emosi, menandaskan kopinya lalu menikmati dalam diam sepotong cake cokelat bertabur almond. Sementara aku, terkurung dalam fase terkapar dan meminta pertolongan dengan teriakan membabi buta, jauh di dalam sana. Namjoon jelas mendengarku. Namun, hei, dia bilang aku memang harus mendapat hukuman sebab terlalu banyak berjuang sendirian.
"Kau tahu, terkadang bukan soal kuantitas eksistensi kepala yang terpenting, namun kualitas isinya. Banyak pertarungan di atas muka bumi ini berakhir dimenangkan oleh kelompok dengan jumlah prajurit lebih sedikit ketimbang kelompok berisi banyak manusia. Tahu mengapa? Aku tidak akan bilang yang sedikit memiliki kapasitas otak lebih baik. No. Naif sekali. Namun jelas, mereka yang menang tentu lebih pandai dalam mengambil kesempatan dan mengisi celah kosong. Lebih mengantisipasi dan meninggikan konsentrasi sebab sadar mereka sudah kalah jumlah. Yang kulihat di sini dalam kasusmu, kau sama sekali tidak memiliki kualitas dan keberanian itu. Kau sendirian, tak berani mengambil kesempatan, dan konsentrasimu telah jauh pecah sejak lama sekali. Padahal, di depan mata, kalau kau bertekad sedikit lebih keras saja, kau bisa melakukannya. Sudah berapa banyak celah yang kau pandangi namun tak jua kau isi? Tak terhingga. Aku tahu kau sudah kehilangan semangat, aku mengerti kau telah nyaris menyerah di persimpangan jalan kemarin. Namun, hei, pada akhirnya kau tiba di tempat tujuan. Apa kau rela destinasimu dikuasai orang lain, sedang kau mati-matian meraihnya? Semesta tidak menciptakan manusia hanya agar mereka pasrah terhadap manusia lain. Arenamu tersedia, dan kau tinggal mengangkat senjata demi memenangkan hakmu, sekali lagi. Jangan diam hanya demi kata damai. Kalau kau benar, perangi yang salah. Ambil tempatmu, dapatkan apa yang memang pantas kau genggam."
Panjang, lebar, dan semoga mengubah sesuatu.
Namjoon sudah bekerja keras mengembalikan akal sehatku, maka sebagai perempuan tahu terima kasih, sudah seharusnya aku meletakkan isi kepala utuh tanpa kurang satu sel pun.
Butuh begitu lama bagiku demi menyadari terkadang dikasihani sebagai korban, terlihat menyenangkan sebab pembelaan tanpa diminta malah datang cuma-cuma, alibinya sih 'melawan pelaku', walau tak pula jelas, apakah memang pelakunya benar ada atau sekedar halu.
"Kau sudah lama sekali hidup dengan cap tersangka di keningmu. Tidak lelah?"
Aku tertawa kering.
Malah terdengar seperti tercekik sebenarnya.
"Tuduhan yang manis bukan? Percaya atau tidak, aku menikmati sensasi bersalah atau kebenaran yang kuudarakan, meski sekali lagi dianggap sebagai dosa besar."
Aku tahu orang lain gemas terhadapku. Gemas melihat si idiot memainkan peran sebagai terdakwa meski tak ada setitik kesalahan dibuat oleh tangannya.
Ah, ada, sih.
Bila berusaha menjadi lurus di tengah bengkok dianggap sebagai dosa, ya, aku memang pendosa besar, sungguh.
Heck, mengapa aku jadi percaya diri sekali begini?
Aku bukan orang suci.
Serius, deh.
Hanya memang tak harus orang suci yang punya tugas mengingatkan sesama manusia.
"Sudah, jangan sok berpikir begitu. Aku tahu kau sudah kehilangan separuh isi otakmu dalam perjalanan kemari."
Terserah.
Aku berdecak.
Lantas bangkit setelah menghabiskan seluruh pesanan, ingin pulang dan melupakan.
"Jangan lupa salam perpisahannya!"
Tentu.
Ha, seperti aku akan lupa saja.
Siti Sonia Aseka
Palembang, 22 Januari 2020
Jumat, 17 Januari 2020
Just Enough
"Jadi, benar-benar sudah menyerah memaafkan? Sudah mengerti mengapa kebencian itu tumbuh dan membesar dalam hati hingga nyaris membunuh diri sendiri?"
Dalam beberapa keadaan, aku jelas tidak pernah ingin pasrah mengakui kekalahan. Tidak akan sudi kehilangan kesempatan untuk membuktikan bahwa aku tak tertandingi dalam hal melupakan. Tapi, hari ini entah bagaimana, kemampuan bersilat lidah dan bakat terlihat baik-baik saja itu menguar tanpa sisa.
Kepedulian, kepercayaan, kesabaran, tampaknya telah tumbuh subur namun berbuah nelangsa. Durinya lebih tajam dari mawar, bahkan getahnya lebih berbahaya ketimbang bisa ular. Barangkali aku salah memilih pupuk, mungkin pula aku keliru dalam menentukan petak lahan.
Tanaman yang kuanggap akan memberi kesejukan dan berguna, malah dengan keji menimbulkan luka berdarah-darah.
"Kau bilang bahwa aku harus berhenti menjadi bodoh dengan terus menerus memberi pemakluman, 'kan? See, aku melakukannya. Aku bahkan tidak tahu lagi cara memberi senyum serta berbagi sapa atau sekedar menatap mata. Muak. Barangkali itu titik tertinggi kebencian yang kau maksud. Aku sudah berhenti untuk percaya, apalagi peduli. Kesabaranku habis. Aku harus menyelamatkan diri bila tidak ingin ditelan bulat-bulat oleh kekecewaan lagi."
Kau tersenyum miring, membuat seolah aku ini terdakwa kasus kriminal kelas berat, lantas tanpa pikir dua kali mengudarakan kalimat klise yang sayangnya harus kujawab.
"Sudah berapa kali kau mengabaikan rasa sakit hanya demi dianggap pemaaf dan mendahulukan kepentingan orang lain? Kau tahu, monster dalam dirimu barangkali sudah berekor sembilan dengan kekuatan mampu menghancurkan seluruh Desa di Negeri Naruto saking marahnya."
Aku terbahak.
Benar juga.
Belakangan ini, bahkan kesalahan sepele saja mampu membuatku bagai kebakaran jenggot. Siap meledak.
"Berapa kali? Aku sungguh tak sanggup menghitung lagi."
"Sekarang kau paham bagaimana manusia, 'kan? Mereka melakukan segalanya demi diakui, berbuat sesukanya agar mendapat atensi, menjatuhkan dan melenyapkan apa yang mereka anggap menghalangi jalan. Biarpun kerikil kecil, bila mereka pikir itu dapat membuat cacat keadaan, maka boom! Enyah. Serakah. Tidak tahu diri. Tidak punya malu. Manusia sulit menghargai namun selalu minta dianggap berharga paling mahal."
Kau lelah terhadap fakta menjijikkan itu, benar bukan?
Aku pun sama.
Itulah mengapa aku memutuskan untuk berhenti berada di lingkaran rusak. Aku berhenti mengalah terhadap hal-hal yang sebenarnya mampu kumenangkan.
Sebab bahkan sebanyak apapun aku memberikan bagian terbaik, yang kudapat hanya sekedar pedih atas darah yang tak henti mengalir. Aku dipaksa mendahulukan namun tak pernah diberi kesempatan untuk sekedar menentukan pilihan.
Menyedihkan.
"Aku tersesat, aku ingin pulang. Namun rumah yang kudamba telah berubah asing meski masih tampak familiar. Mereka yang kupikir keluarga juga tak lagi memberi kesan sebanyak yang kukira. Terjebak dalam situasi begini benar-benar menyebalkan, ya?"
"Idiot. Itulah akibat dari terlalu banyak dibodohi kisah fiksi. Otakmu jadi menganggap bahwa semua hal di dunia ini akan berakhir bahagia selamanya seperti dongeng Cinderella dan sepatu kaca. Payah. Berhenti membuat dirimu sendiri tampak tak berguna."
Aku mengedipkan mata.
Menatap pantulan cermin.
Tertawa kecil.
Iya, iya.
Benar.
Idiot, payah, tidak waras, tak berguna.
Padahal yang harusnya kujatuhi kepercayaan secara absolut hanya diriku sendiri. Karena bahkan di saat tergelap, hanya bayanganku yang tetap tinggal meski tak terlihat. Hanya bayanganku saja yang melekat erat.
Jadi, mengapa aku malah mati-matian memprioritaskan manusia?
Siti Sonia Aseka
Palembang, 15 Januari 2020
Dalam beberapa keadaan, aku jelas tidak pernah ingin pasrah mengakui kekalahan. Tidak akan sudi kehilangan kesempatan untuk membuktikan bahwa aku tak tertandingi dalam hal melupakan. Tapi, hari ini entah bagaimana, kemampuan bersilat lidah dan bakat terlihat baik-baik saja itu menguar tanpa sisa.
Kepedulian, kepercayaan, kesabaran, tampaknya telah tumbuh subur namun berbuah nelangsa. Durinya lebih tajam dari mawar, bahkan getahnya lebih berbahaya ketimbang bisa ular. Barangkali aku salah memilih pupuk, mungkin pula aku keliru dalam menentukan petak lahan.
Tanaman yang kuanggap akan memberi kesejukan dan berguna, malah dengan keji menimbulkan luka berdarah-darah.
"Kau bilang bahwa aku harus berhenti menjadi bodoh dengan terus menerus memberi pemakluman, 'kan? See, aku melakukannya. Aku bahkan tidak tahu lagi cara memberi senyum serta berbagi sapa atau sekedar menatap mata. Muak. Barangkali itu titik tertinggi kebencian yang kau maksud. Aku sudah berhenti untuk percaya, apalagi peduli. Kesabaranku habis. Aku harus menyelamatkan diri bila tidak ingin ditelan bulat-bulat oleh kekecewaan lagi."
Kau tersenyum miring, membuat seolah aku ini terdakwa kasus kriminal kelas berat, lantas tanpa pikir dua kali mengudarakan kalimat klise yang sayangnya harus kujawab.
"Sudah berapa kali kau mengabaikan rasa sakit hanya demi dianggap pemaaf dan mendahulukan kepentingan orang lain? Kau tahu, monster dalam dirimu barangkali sudah berekor sembilan dengan kekuatan mampu menghancurkan seluruh Desa di Negeri Naruto saking marahnya."
Aku terbahak.
Benar juga.
Belakangan ini, bahkan kesalahan sepele saja mampu membuatku bagai kebakaran jenggot. Siap meledak.
"Berapa kali? Aku sungguh tak sanggup menghitung lagi."
"Sekarang kau paham bagaimana manusia, 'kan? Mereka melakukan segalanya demi diakui, berbuat sesukanya agar mendapat atensi, menjatuhkan dan melenyapkan apa yang mereka anggap menghalangi jalan. Biarpun kerikil kecil, bila mereka pikir itu dapat membuat cacat keadaan, maka boom! Enyah. Serakah. Tidak tahu diri. Tidak punya malu. Manusia sulit menghargai namun selalu minta dianggap berharga paling mahal."
Kau lelah terhadap fakta menjijikkan itu, benar bukan?
Aku pun sama.
Itulah mengapa aku memutuskan untuk berhenti berada di lingkaran rusak. Aku berhenti mengalah terhadap hal-hal yang sebenarnya mampu kumenangkan.
Sebab bahkan sebanyak apapun aku memberikan bagian terbaik, yang kudapat hanya sekedar pedih atas darah yang tak henti mengalir. Aku dipaksa mendahulukan namun tak pernah diberi kesempatan untuk sekedar menentukan pilihan.
Menyedihkan.
"Aku tersesat, aku ingin pulang. Namun rumah yang kudamba telah berubah asing meski masih tampak familiar. Mereka yang kupikir keluarga juga tak lagi memberi kesan sebanyak yang kukira. Terjebak dalam situasi begini benar-benar menyebalkan, ya?"
"Idiot. Itulah akibat dari terlalu banyak dibodohi kisah fiksi. Otakmu jadi menganggap bahwa semua hal di dunia ini akan berakhir bahagia selamanya seperti dongeng Cinderella dan sepatu kaca. Payah. Berhenti membuat dirimu sendiri tampak tak berguna."
Aku mengedipkan mata.
Menatap pantulan cermin.
Tertawa kecil.
Iya, iya.
Benar.
Idiot, payah, tidak waras, tak berguna.
Padahal yang harusnya kujatuhi kepercayaan secara absolut hanya diriku sendiri. Karena bahkan di saat tergelap, hanya bayanganku yang tetap tinggal meski tak terlihat. Hanya bayanganku saja yang melekat erat.
Jadi, mengapa aku malah mati-matian memprioritaskan manusia?
Siti Sonia Aseka
Palembang, 15 Januari 2020
Langganan:
Postingan (Atom)
Merespons Fatwa HARAM Vasektomi yang dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia
Sepekan lalu, MUI melalui akun Instagram resminya, merilis tanggapan mengenai kebijakan yang diberlakukan oleh Gubernur Jawa Barat, yaitu: m...
-
Sepekan lalu, MUI melalui akun Instagram resminya, merilis tanggapan mengenai kebijakan yang diberlakukan oleh Gubernur Jawa Barat, yaitu: m...
-
Jadi, pada senja yang nyaris rebah itu, ku telusuri jalanan padat lagi sempit. Demi satu porsi Gelato yang habis ditelan ingin, pada mas...
-
Jadi, karena beberapa waktu belakangan banyak sekali hal yang terjadi, dan kepala saya jujur saja tidak bisa menampung segalanya dengan baik...




