Blogger Perempuan

Blogger Perempuan
Kunjungi laman Blogger Perempuan dan baca tulisan saya melalui link berikut

Jumat, 15 Januari 2021

Angkutan Kota

Petak kecil berwarna kuning pucat yang kita tumpangi bergerak lambat. Pada beberapa kesempatan, justru berhenti total. Menanti nyala hijau pada rambu lalu lintas, mengakrabi macet, menyambut riuh klakson, bahkan berjumpa genangan sebab hujan turun seharian tanpa jeda. Aspal basah yang digilas roda-roda kendaraan tampak pasrah, langit kelabu seolah betah, matahari tak ketinggalan mengintip malu-malu di balik ketebalan awan.

Angkutan umum cukup sesak. Asap rokok beberapa kali menyapa, dibarengi ragam aroma tubuh dan tembang lawas penuh nostalgia. Seorang ibu di sisimu menelepon dengan suara kelewat keras. Sepasang muda-mudi di sampingku menertawakan entah apa dari layar sempit gawai seolah dunia hanya milik mereka.

Kita menepi sekali lagi. Seorang nenek naik. Di tangannya terdapat dua kantung belanja berisi entah apa. Kamu bergeser sedikit, memberi tempat.

"Kiri, bang!" pekik perempuan usia barangkali akhir dua puluhan. Angkutan umum mengerem mendadak. Aku nyaris terjerembab. Umpatan mengudara dan sedikit marah-marah kecil dari mulut penumpang lainnya.

"Woi, kalau nyeberang pakai mata!" sembur pengendara motor tanpa helm di kepala, tepat di sisi kanan angkutan umum tempat kita tak saling bicara.

Tangis bayi, percakapan basa-basi penumpang tentang banjir dan pandemi, humor receh supir angkot dengan rekan sejawat kala tak sengaja berpapasan, suara dengkuran berbagai desibel dari bapak-bapak berseragam maupun tidak, raut suntuk, pakaian lusuh, badan pegal dan perut bergemuruh.

Angkutan umum membawa kita, satu per satu, mendekat pada tujuan terakhir hari ini. Dengan kecepatan berbeda, dengan suasana tak selalu sama, berisik, muram, bahkan tak jarang diselubungi khawatir.

Seorang remaja berpakaian putih-biru naik tergesa sembari sesenggukan. Matanya bengkak, wajah memerah. Keadaan mendadak canggung. Ada yang pura-pura memandang jendela meski kening mengerut ingin tahu, ada yang menahan senyum geli seolah mampu menerka perkara yang telah terjadi. Sementara aku, menerima sorot terima kasih setelah mengulurkan tissue yang tak sengaja kubeli saat angkot berhenti di lampu merah, dari seorang bocah bermata bulat tak pakai sepatu.

"Hitam putih fotomu dalam album kenangan. Kusimpan selalu, kukenang kembali kala rindu…" supir angkot di depan sana bersenandung, suaranya sumbang.

"Harga cabai naik lagi…"

"Jemput ibu, sebentar lagi sampai."

"Jangan keluarkan tangan awak, bahaya!"

"Kita pernah bertemu walau hanya sewindu. Tapi memang nasib membawa kau pergi dariku..."


Palembang, 14 Januari 2021
Siti Sonia Aseka

Jumat, 01 Januari 2021

KALENDER


 

    Ini Jumat dan aku terbangun pukul setengah tiga pagi ketika dentum kembang api masih riuh dinyalakan orang-orang dari segala penjuru negeri.

    Penanggalan baru yang ibuku gantungkan sore tadi membuat sadar, bahwa kini, tidak hanya bulan berganti, tetapi nominal tahun. Artinya, aktifitas setiap satu Januari bukan sekadar membalik kalender, namun menurunkan parade waktu masa lalu menuju saat ini; sebuah peralihan, mengganti petak-petak penunjuk hari dan membuang yang lama, atau menyimpannya untuk dijadikan sampul kado pada keadaan mendesak saja.

    Di rumah kami, tidak ada perayaan apapun. Pukul sembilan, aku sudah lelap sebab lelah berpikir seharian. Tayangan YouTube mulai membosankan sebab diakrabi sejak Maret meski konten baru senantiasa datang. Lini masa Instagram juga sama. Mempublikasi berita-berita jauh dari kata penting, yang dipenuhi komentar-komentar berpolusi bagi mata dan hati.

    Memang, tidak ada yang benar-benar ditunggu. Barangkali, orang-orang sudah kepalang kecewa menghabiskan nyaris sepanjang tahun 'di rumah saja' dan membatasi kegiatan melibatkan banyak orang, mengenakan masker sepanjang waktu, mendeteksi suhu tubuh setiap keluar-masuk ruangan atau gedung, mencuci tangan seolah terkena phobia tentang kebersihan yang kadang memuakkan.

    Semuanya perlahan dibungkus rapi. Dimasukkan ke dalam kotak dan ditutup rapat. Diberi pita cantik, ditinggalkan di sebuah sudut. Tak ingin dibuka atau diingat lagi. Kemudian beranjak menyongsong harapan-harapan tentang keadaan yang barangkali mulai membaik.

    Produktif. Semua orang berharap istirahat panjang dan hibernasi segera berakhir. Resolusi dibuat optimistis dan ditempelkan di dinding kamar masing-masing, dihiasi bahkan dibingkai estetik. Dijadikan pemicu, pendorong semangat. Mengantisipasi sebuah awal dengan degub jantung menggila. Berjuta pertanyaan barangkali singgah, "Bila ternyata kabar buruk kembali mampir, akankah kita bertindak setabah ini lagi?" 

    Masih ada 364 hari yang harus dilewati. Masih ada puluhan pekan menyimpan ragam kejutan, bahkan jawaban-jawaban yang mungkin akan kita syukuri pun sesalkan sebab pernah masuk dalam untaian semoga.

    Desember menuju Januari selalu istimewa. Dekorasinya diisi kolaborasi antara libur semester, hari raya, dan bonus-bonus selain gaji dari kantor disertai ragam diskon di segala toko meliputi berbagai benda. Atmosfer menyenangkan, sarat akan bahagia.

    Angka satu di setiap kalender seringnya diisi lebih banyak awal baru, relasi sehat antara kesadaran dan pengampunan, lalu diselingi tekad; gegap gempita kemungkinan dan peluang. Padahal, 365 hari selalu terasa sama dan memang selamanya tak jauh berbeda bila hanya mengandalkan kemurahan hati semesta. Seringnya, kita pun melupakan kemampuan berdiri di atas kaki sendiri. Sebab, pada sepuluh bulan kemarin, semesta dengan riang gembira malah mengajak penghuninya bercanda alih-alih pesta pora. Bedanya, tidak ada yang tertawa terbahak-bahak. Lelucon semesta dipastikan gagal total!

    Tampak agresif, sekaligus mengajak manusia berbondong-bondong melalui sebuah pintu dengan terlebih dahulu melewati pernak-pernik ujian. Tentu, ada yang lolos, dan ada pula yang harus mundur; kalah. Semua hanya soal keberpihakan dan lagi-lagi; takdir. Tetapi, kuakui, eleminasi semacam ini menjadikan manusia mengetahui limit diri, untuk kemudian berhenti jadi entitas bar-bar yang kerap kehilangan kendali.

    Pembatasan sosial, harusnya juga menjadikan kita membatasi tingkah laku agar tidak menerima ganjaran sosial, bukan?


1/365
Januari, 2021
Siti Sonia Aseka

Minggu, 27 Desember 2020

(Cerpen-Puisi) Patah & Pisah

Patah & Pisah


Gegap gempita diisi cita, meski gelegar petir dan hujan menerbangkan segala harapan dalam semalam, buat patah rumpun-rumpun jasmine di halaman, menumbangkan pula pohon-pohon hingga tutupi jalan; akibatkan macet, memaksa putar arah.

Tetapi seorang lelaki menyusuri trotoar pada pagi yang ceria, menggenggam payung biru pudar di tangan. Matanya nyalang disesaki janji, tubuhnya tegap dinaungi yakin. Mengetuk pintu rumah nomor tiga, menanti.

Ragu sudah lama lesap dalam kamusnya. Dapati bingkai yang ia tatap terbuka, perlahan. Menampilkan satu sosok yang telah lama ia damba.

Senyumnya terulas, manis, kelewat menyenangkan. Menerima sebuah izin masuk, meski ia tolak dalam dua kedip mata. Ia jelas tidak akan menerobos seperti kali terakhir kesempatan rebah di telapak; ia tidak datang dengan maksud yang sama.

Burung-burung berkicau, bersahutan. Beberapa daun kecokelatan gugur, hiasi setapak, diterbangkan angin tak lebih jauh dari dua blok kompleks perumahan. Atap-atap warga berwarna sama, kemerahan, agak gelap. Dengan undak tangga pendek di pekarangan, mengantarkan banyak pasang kaki menginjak teras, mengakrabi denting lonceng tua bergantung, terayun.

Pagi jelang siang ditemani gerimis.

Lelaki itu mengangguk setelah mengulurkan selembar undangan manis, bernuansa lilac, beraroma umpama kayu bakar. Sepasang nama terukir, indah. Mereka beradu pandang. Si lelaki menampilkan satu sorot sampai jumpa, sebuah salam perpisahan, dibalas tak hingga permohonan maaf, dan satu pesan sarat semoga yang diaamiini segenap jiwa.

Mereka melambai dalam beberapa detik singkat. Ada yang tertinggal, sekaligus usai. Ada yang dilangitkan sekaligus membumi. Ada yang ditutup sekaligus terbuka. Ada yang pergi kemudian terganti. Ada yang harus mundur demi mengizinkan lainnya melesat maju.

Dan ada yang harus jadi prioritas ketimbang larut dalam kenangan.

Ia… bernama masa depan.

 

Palembang, 27 Desember 2020
Siti Sonia Aseka

Minggu, 22 November 2020

[Cerpen-Puisi] Tanpa Gula

Tanpa Gula
Pagi ini, kopiku lebih pahit dari sekian mil jarak, atau pesan-pesan berisi sekelumit emosi yang tak pernah mampu kutangkap sempurna maknanya.
 

    Hati rasanya separuh; separuh kecewa, separuh kesal, dibubuhi riak angkara sampai tanya. Berpelukan mereka di bawah naungan luka, utuh menyakitkan. Penuh, sesak oleh andai-andai pada bilangan bulan, pada keping-keping keyakinan. Lalu jatuh… meski jelas bukan lagi jatuh cinta, atau bagaimana detak terasa lebih syahdu hingga mampu kalahkan buruk pada hari yang kelabu; sebut saja patah, nyaris hancur, menuju lebur.

    Hari ini cerah. Langit biru, bersih tanpa awan. Denting akibat sendok dan pinggiran gelas beradu, aku yang duduk di sisi jendela berdebu menatap jalan raya dengan kepala carut-marut.

    Rasanya tidak adil, bagaimana waktu terus berjalan, terus merangkak mencapai bulat dua puluh empat, sementara seorang manusia tersudut oleh fakta, dihancurkan realita, harapannya menguap, membaur dengan udara. Bagaimana setelah semuanya, porak poranda jadi niscaya, muat dalam satu wadah berisi doa-doa yang kini takkan pernah lagi ingin ia langitkan.

    Sebelum hari ini, aku ingin berjabat tangan dengan jarak. Berterima kasih sebanyak embun sepagian buta pada kelopak-kelopak bunga pun dedaunan dan ilalang, tentang bagaimana pengampunan berhasil menjahit kembali sekian sapa dan senyum yang sempat diputuskan masa muda. Padahal, ada rindu menggebu yang kuasuh sekian lama hanya agar mampu meledakkan cita kala yang pulang mengetuk pintu setelah sekian lama. Tetapi, kecepatan informasi mengakibatkan hantaman keras mengalahkan laju kereta api. Dari mulut ke mulut, telinga ke telinga, sambung menyambung asumsi menghasilkan stigma, kesimpulan atas kesalahan dan aku tak mampu menghindarinya.

    Harusnya kita tak usah dihubungkan saja. Harusnya kita tetap jadi sekadar teman tanpa sisa perasaan yang genap meminta tempat. Harusnya kita tidak memandang satu sama lain berbeda dan menyusun konklusi lebih merah muda hanya demi mengobati sakit yang masih ada.

    Harusnya, aku tidak mudah berpikir bahwa barangkali kamulah orangnya, sehingga memimpikan waktu yang tepat bahkan sebelum mata terbuka lebih lebar dan lebih jauh.Harusnya, kuanggap saja kedatanganmu adalah pintu baru demi menyambung kembali tali yang sempat putus, tidak lebih dari itu. Tidak bermain-main dengan kemungkinan dan mengabaikan sekian peringatan.

    Memaafkan dan rindu, pengampunan dan angkara. Akar-akar relasi, pion-pion tegaknya keluasan hati, kelapangan sanubari.
 

Aku rindu, sekaligus tak mampu memaafkan. Aku marah dan kehilangan pengampunan.


    Di sebuah meja makan, sekian hidangan disajikan. Berpiring-piring, gelas-gelas, sendok, garpu, serbet bunga-bunga yang kontras dengan dekorasi gelap, kebanyakan hitam, sisanya abu-abu. Tidak ada yang selaras di sini, tidak ada satu pun unsur terasa benar.

    Aku muak, tapi tak berniat berdiri. Kita tidak diciptakan untuk menolak segala hal meski benci setengah mati. Maka, sosokmu bukan lagi seluar biasa bintang yang mampu menarik perhatianku. Sorotmu tak lagi jadi dambaanku. Serta kata-katamu telah lenyap dari daftar inginku.

Terhadap masa lalu, kita berdosa. Di masa kini, kita dihajar rasa bersalah.


Selasa, 17 November 2020

[CERPEN] Interview

 

INTERVIEW

 


    Ada tiga alasan yang mendasari seseorang bisa lolos interview kerja. Pertama, well-mannered, sikap. Kata lainnya, sopan santun, tata krama, adab, tindak tanduk. Kedua, well-prepared, persiapan matang, Dan ketiga, well-mind. Nah, yang terakhir ini bukan sekadar pintar tidak pintar, atau seberapa besar indeks prestasi kumulatif dalam transkrip nilai. Lebih kepada cara berpikir, akal sehat. Kan lucu kalau posisi yang diinginkan setinggi langit, tapi ketika diajak ngobrol malah nggak nyambung?

    Kalau kata trainnerku beberapa bulan lalu sih, "Okay, semua tahu lo smart to the moon and back, tapi kalau nggak punya persiapan matang, apalagi manner yang demi apapun kayak nggak makan bangku sekolahan (which means supeeer bad, kuadrat), omongan non-sense, ya nama tetap bakal dicoret. Dilupakan begitu aja. The end."

    Jadi, ketika mbak Nanda bertanya, "How are you? Pucat amat, La. Sakit, lo?" 

    Aku seketika melemparnya dengan tutup bolpoin tanpa tedeng aling. Dia pikir setelah terjebak dua jam dalam ruang interview yang demi apapun sebeku es tapi mampu membuatku keringatan, aku bisa membalas dengan, "Baik, BANGET kok, mbak. Sampai rasanya mau meninggal." 

    Aku jelas bukan food reviewer merangkap pencari kerja level satu. Tapi kalau berkenaan dengan basa-basi-busuk andalan mbak Nanda, sepertinya cocok kalau kukatakan bahwa aku bisa menyabet juara 'Tukang Nyablak (bukan seblak) PALING Lihai' cuma karena mampu membuat dia tertawa dan berhenti membuat gondok. 

    Ya, tolonglah. Aku baru saja pulang dari kegiatan komunitas, kusam, dekil, dan capek setengah mampu. Ketika menyalakan ponsel yang tadi kehabisan daya malah harus mendapati pesan berisi, "Sore, mbak. Interviewnya kita lakukan online malam ini pukul delapan, ya." Dan sekarang jam dinding di kamar menunjukkan tepat pukul tujuh.

    Apa nggak kelewatan? 

    Meski setelah ditawar, aku akhirnya bisa mengatur ulang jadwal interview besok paginya meski harus datang langsung ke kantor pusat sana. 

    Akhir pekanku biasanya dan memang sudah seharusnya dipenuhi dengan hanya tawa-tawa-tidur. Bukannya tekanan, rasa jengkel, dan angkara. Aku biasa berdiam seharian di kamar, menonton drama Korea belasan episode, atau jalan ke toko buku kalau sedang mood. Atau yang lebih simple; berburu makanan online diskonan untuk mengisi perut.

    Nggak muluk-muluk.

    "Interviewer-nya kayak dosen penguji skripsi lo, ya?" cetus mbak Nanda lagi, kali ini terbatuk kecil di ujung kalimat. "Judes, jutek."

    Ha! Aku berdecih saat itu juga. Bukan cuma judes atau jutek, mbak! Nggak ada empati, malah.

    "Itu mah masih mending, mbak." aku menggeleng kecil. "Tahu Hulk, nggak? Nah, bar-barnya sama, tuh. Sejenis."

    Mbak Nanda ngakak, sementara aku misuh-misuh. Meletakkan kepala ke atas meja belajar lagi, bersiap meratapi nasib. Sudah empat bulan aku terhitung sebagai alumni sebuah universitas negeri di kota ini. Sejak saat itu, aku belum juga berkesempatan mencicipi dunia kerja seperti yang teman-temanķu kerap ceritakan. 

    Bukannya sombong, tapi aku jelas bisa menjamin bahwa diriku nggak bodoh-bodoh amat. Nggak kuper juga. Sertifikat, piagam penghargaan kemenangan lomba, olimpiade, sampai surat tanda aktif organisasi, aku punya semua. Bukan pula berarti empat bulan ini aku sama sekali tidak mendapat kesempatan lolos seleksi berkas untuk maju interview. Seperti kemarin. Namun sayangnya, proses terjauhku memang cuma sampai di sana. Selebihnya, keberuntungan ibarat lenyap dari genggaman. 

    "Ya santailah." mbak Nanda berceloteh, merebahkan tubuhnya di atas ranjang kamarku bahkan tanpa repot melepaskan sandal rumahan kelinci berwarna pink-nya. "Lo bukannya totally nganggur. Lo kerja, La. Content writer itu pekerjaan yang harus disyukuri juga." 

    Aku tertawa putus asa. Iya, memang. Aku jelas bukan hanya makan angin dan seperti baru bangun setelah tidur selama seribu tahun. Aku punya penghasilan, walau nggak sebanyak pegawai kantoran, atau pemilik start up sukses di luar sana. Tapi, tahu kan, kadang jenjang karier jadi sesuatu yang dibanggakan dalam lingkungan sosial? Dan bagiku, aku jelas tidak mau berada dalam keadaan yang demikian seumur hidup. Bukan berarti content writer pekerjaan yang tidak menyenangkan. Lain soal.

    "Lo cukup tenang karena uang datang setiap bulan. Cukup diam di rumah, menulis, lalu gaji diturunkan dalam sekejap." mbak Nanda nyengir. "Atau lo terima saja tawaran ayah dan ibu. Sekolah lagi sana. Dapat magister, siapa tahu ditawari jadi dosen, kan?"

    Aku memicing, "Nggak semudah itu, mbak." kulipat kaki, bersila di atas kursi putar. "Kating gue ada yang mikirnya begitu juga, dan ternyata sekarang malah struggle cari kerja. Sama saja."

    "Lho? Nasib kan nggak ada yang tahu. Coba saja dulu."

    Aku mencibir, tapi sedikit membenarkan. Lagi-lagi soal takdir. Perkara yang tidak satu pun manusia bisa jabarkan.

    "Atau…" mbak Nanda tiba-tiba duduk, menggoyangkan kakinya, menatapku sembari menaik-turunkan alis, lantas terkikik sebentar. "Lo cari jodoh. Nikah. Nanti yang lain-lain menyusul." katanya, seolah menikah sama dengan keputusan untuk pergi ke warung Hajah Romlah di ujung blok sana.

    "Ya kali, mbak." seruku, sebal. "Nikah bukannya opsi terakhir, seolah hidup berakhir di situ saja." sungutku.

    Agak gedek juga mendengar orang-orang menganggap pernikahan sebagai solusi memecah dinding bernama masalah. Menyerah dengan skripsi, kalimat yang keluar adalah, "Duh, capek. Dosen susah ditemui, proposal revisi melulu. Mau nikah saja, deh." seolah dengan menikah, skripsi secara ajaib tercetak, atau ketika bangun tidur sudah disuguhi toga demi mengikuti selebrasi di auditorium kampus. Tentu tidak segampang itu.

    Mbak Nanda mengangkat bahu. Ia sekarang berdiri, melambai seolah menang kontes ratu kecantikan, lantas tersenyum jahil. "Sekadar saran." katanya enteng.

    "Diterima alhamdulillah, kalau nggak juga ya bukan masalah."

    "Nanti, deh. Sekarang lagi kusut ini kepala."

    "Oh, bisa pusing juga lo?"

    "Iyalah!" aku cemberut sementara mbak Nanda berjalan keluar tanpa dosa.

    Melihat mbak Nanda, aku jadi iri. Dia tidak pernah sekali pun mengeluh tentang pekerjaan. Dulu saat baru lulus, aku ingat dia ditawari pekerjaan sana sini sebagai ini itu, tapi malah lebih memilih untuk jadi guru taman kanak-kanak dekat rumah, hanya 5 menit bila ditempuh dengan berjalan kaki. Gajinya jelas tidak besar, bahkan kalau dirunut, mbak Nanda bisa bekerja di perusahaan besar mengingat gelar Lulusan Tercepat dan Cumlaude yang ia sandang.

    "Apa sih yang kita cari di dunia ini?" katanya suatu hari, pada sesi quality time kami. "Dunia semua. Asal kebutuhan tercukupi saja, alhamdulillah. Gaji besar banget juga nanti bingung mau diapakan. Tanggung jawab di akhirat nggak kalah besar."

    Aku ingat masih sempat mengeluarkan satu-dua protes dan mendebat keputusan saudara tertuaku tersebut.

    "Lo nggak iri lihat teman-teman seangkatan dulu sekarang sampai merantau ke luar kota, menyeberang pulau, bahkan ada yang kerja di luar negeri? Nggak merasa left behind, mbak?" aku mencecar, sementara mbak Nanda tersenyum lebar.

    "Perkara iri mah, manusia banget. Pernah sih sekali dua kali merasa begitu. Siapa yang nggak, coba? Tapi balik lagi, kalau kita merasa cukup dan bahagia dengan apapun yang kita pilih, mau hidup orang lain kelihatan seratus kali lipat lebih menarik, kita tidak akan tergoda atau malah menyesal dengan jalan kita sendiri."

    Mbak Nanda barangkali bukan saudara paling pengertian dan paling segalanya. Tapi, aku sendiri selalu benci mengakui bahwa dia terlalu sering benar dalam hal apapun ketimbang diriku. A true decision maker.

    But, back to the reality, mengingat sesi wawancaraku juga tidak bisa diandalkan walau nggak parah-parah amat, aku tetap berharap setidaknya kesempatan bekerja di salah satu perusahaan makanan instan tersebut bisa kudapatkan. Memang tidak sesuai dengan jurusan kuliahku, sih. Tapi, who knows? Lolos ke tahap interview artinya ada potensi yang mereka lihat dari diriku, kan?

    "La,"

    Aku nyaris terjengkang dari kursi ketika mbak Nanda tiba-tiba masuk kamarku lagi dengan wajah berseri.

    "Kenapa mbak?" tanyaku ketus. Jengkel setengah mati.

    "Galak amat." mbak Nanda tampak menahan tawa, sementara aku kini fokus menghadapnya. Menantikan kalimat selanjutnya yang akan ia keluarkan.

    "Besok kita fitting baju, ya."

    Dahiku mengernyit, bingung. Sembari mengingat-ingat acara apa yang barangkali akan berlangsung dan memaksa kami berdandan sampai harus fitting baju segala.

    "Buat kondangan ke mana? Pakai fitting baju." cuek, kunyalakan laptop demi menyelesaikan deadline artikel.

    "Ahad depan gue lamaran."

    Aku terbelalak. Kali ini benar-benar meninggalkan laptop yang sudah menampilkan tulisan enter the password dan berdiri tegak menatap mbak Nanda, sangsi. 

    "Serius lo?" aku memicing, curiga. "Jangan halu deh, mbak. Jangan bilang ini bercanda, ya! Gue musuhin lo." tuduhku tanpa hati. Sementara mbak Nanda tidak bisa mengendalikan rasa geli. Dia tertawa terbahak-bahak sampai berguling heboh di kasur.

    "Beneran ini mah. Seribu persen serius. Lo kok kaget begitu amat."

    "Siapa?" todongku, kepengin tahu banget!

   "Ada, deh." mbak Nanda mencoba berahasia. Ia berdeham, siap-siap memacu langkah kabur. "Pokoknya besok pagi-pagi. Jangan molor terus lo!" katanya, menyindir.

    Aku menganga, masih tidak menyangka. Mbakku dekat dengan siapa, sih? Aku sampai kecolongan begini! Ya Allah, aku beristighfar dalam hati. Kenapa banyak sekali kejutan datang silih berganti? Untung aku tidak punya riwayat penyakit jantung.

Nasib, nasib ….

 

 

Palembang, 17 November 2020

Siti Sonia Aseka

Merespons Fatwa HARAM Vasektomi yang dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia

Sepekan lalu, MUI melalui akun Instagram resminya, merilis tanggapan mengenai kebijakan yang diberlakukan oleh Gubernur Jawa Barat, yaitu: m...