Blogger Perempuan

Blogger Perempuan
Kunjungi laman Blogger Perempuan dan baca tulisan saya melalui link berikut

Minggu, 26 Desember 2021

Simpul I: Menjawab Tanya Soal 'Mengapa?'


Setidaknya beberapa tahun lalu, sebelum usia menyentuh angka 20, pernikahan selalu jadi kata paling mengerikan. Jauh sebelum itu, justru wacana menikah menjadi sesuatu yang jauh, amat jauh. Spesifikasi usia 'sebelum dua puluh lima' yang dibangun oleh masyarakat, membuat ketakutan dan rasa canggung melompat-lompat meriah dalam benak. Kenapa harus? Mengapa menikah seolah dijadikan taraf pencapaian tertinggi dalam hidup? Dan mengapa saya perlu terjebak dalam gelembung cara berpikir yang salah ini lantas suka tidak suka menerimanya dengan tangan terbuka? Sampai pada kesimpulan bahwa barangkali sepanjang usia, saya siap bila hanya sendiri; tidak memercayakan jiwa dan raga pada seseorang dalam sebuah naungan bernama pernikahan.


(Sebagian teks dihilangkan untuk keperluan percetakan)


Palembang, 26 Desember 2021

Siti Sonia Aseka

Jumat, 10 Desember 2021

sepetak ruang hampa




Pada sepetak ruang hampa, kita percaya bahwa sendiri tak pernah lebih baik ketimbang harus membagi segala jenis rasa sebelum sempat memiliki dan menggenapi timpang dalam lekuk suka cita.

Pada langit yang kadang kemilau, kadang membiru pucat, manusia bernaung, membenahi sekian rusak dan malfungsi, menapak setapak atau sekadar menyaksikan ramai jalan raya yang kerap melenakan nan menguji.
Dan kita masih sering, melarikan diri dari setumpuk kenyataan, bahwa berakhir terkadang membiarkan salah satu bahkan keduanya luka. Bahwa mungkin juga, dengan berbagi segala macam rahasia, manusia bisa saling menutupi lubang bernama merana.
Hari masih berjalan setelah pertemuan sarat akan ketidaksiapan; katanya, manusia memang akan dihadapkan pada keinginan pun kebencian, keramahan sampai angkara, dan berdamai. Entah dengan mundur atau maju terus jalan
Bahwa barangkali, kesetengahhatian itulah yang mengantarkan kita sampai gerbang untuk benar-benar melepaskan dan tak hendak menoleh lagi ke belakang
Sebab apapun akan menjadi senyap, digiring oleh takdir, dibawa dengan menari diiringi lagu-lagu sedih tetapi kosong dan tak meninggalkan arti.
Yang kita pikir adalah tujuan, ternyata cuma persinggahan, sebentar saja, untuk mengobati yang sakit, atau menghadirkan senyum sarat akan maklum, belajar memberi dan menerima, untuk berkorban dan berjuang, sampai entah, tak hingga
Anehnya, kita terkadang masih sulit menerima, lalu meratap, menyalahkan takdir hingga orang lain. Bertanya dan terus bertanya, menjadi menyebalkan bagi semesta yang mulanya riang gembira
Kebetulan memang ada, tetapi kesia-siaan tidaklah mutlak merugikan. Kepala kita, harusnya diisi oleh rumpun dorongan, bukan cuma harapan dengan mati sebagai kepasrahan

Hari paling buruk telah berlalu
Dan namamu, masih jadi puisi yang kerap kurindu
Tetapi kita tidak boleh kehilangan arah, meski rumah yang kita pikir selamanya, justru hanya sementara.

Sabtu, 13 November 2021

Bunga Milik Tuhan (1)



2014, Yogyakarta

Nara


"Mo, aku dipecat."
"Hm?"
"Aku lelah."
"Hm…"
"Aku mau mati saja."
"Oh…"

Aku tahu Bimo benar-benar terdengar seperti habis-habisan tidak peduli. Tetapi, aku mengenalnya lebih lama dari separuh umurku untuk sadar bahwa sebenarnya ia cuma sedang menyusun kalimat telak demi membuatku berhenti.

"Aku merasa… nggak berguna."

Bimo masih membalik lembar diktat tebalnya ketika aku memutuskan rebah di atas sofa, memandang langit-langit, memutar ulang memori saat aku harus keluar dari ruang Pak Dar, (mantan) atasanku, dengan status pengangguran pagi tadi. Setelah dua tahun, ceritaku di kantor itu ternyata harus berakhir cukup tragis.

"Mo, kamu sibuk?"
"Like you see…"

Aku menghela napas. Tertatih bangkit, berpikir untuk mengungsi ke kedai kopi kekinian di seberang apartement Bimo saja sampai pemilik kamar cukup menyenangkan dalam menerima tamu yang tengah patah hati.

"Mau ke mana?"
"Canala Collective, as usual."
"Ngapain?"
Aku mendengus, "Ngopi, I guess?"

Bimo berdecak, menyimpan lembar word buru-buru setelah memastikan segalanya cukup. Ia bangkit, meraih jaket yang tergantung di belakang pintu, kemudian menoleh ke arahku. Ia mengangkat sebelah alis, memberi isyarat dengan kepala.

"Ayo, katanya mau ngopi?"


***


"Kamu nggak usah pulang. Malam ini mau makan apa?"

Aku meminum Chocolate Signature dengan pandangan hampa. Kepalaku yang panas seperti terserang pembekuan otak mendadak. Di depan sana, Bimo mengunyah cake melon santai. Ada krim di sudut bibirnya dan aku menghela napas kasar. Orang ini selalu makan dengan cara berantakan.

"Martabak."
Bimo menggeleng, "Nasi. Bukan yang lain."

Kuletakkan kepala di antara kedua lengan yang terbuka. Dahiku terantuk permukaan meja pelan, merasa menemukan jalan buntu. Bahkan sesederhana ingin makan apa saja aku tak mampu memutuskan. Semuanya lumpuh.

"Ayam bakar limau? Ada resto baru dua blok dari sini, sih. Reviewnya bagus."
"Okay."

Bimo terkekeh. Ia secara sembarangan menarik gelasku, lalu menyeruput minuman di dalam sana seolah ia memilikinya sejak awal. Terlalu lelah untuk berdebat pun marah-marah, kubiarkan Bimo melalukan apa yang ia inginkan. Hanya sampai segalanya kembali tenang, setidaknya badai dalam kepalaku.

"Semua akan berlalu, La. Sedihmu, dukamu. Suatu saat kamu akan melihat segala kegagalan ini dari puncak kesuksesan, dan itu membahagiakan."

Aku menyahut lemah. Merasa segala motivasi tidak akan berguna sebab aku jelas-jelas kehabisan ide untuk melakukan apa demi mendapatkan pundi-pundi uang. Aku bukan Bimo yang hanya harus belajar dan memantaskan diri, menanti waktu sampai dianggap layak mewarisi usaha keluarga. Aku hanya anak seorang pensiunan pegawai negeri yang harus berusaha memenuhi kebutuhan hidup bahkan sebelum studiku selesai.

Kepalaku kembali berdenyut. Dan aku mengerang, putus asa.


***


2020, Palembang

Aku menatap pojok fiksi dengan pandangan kosong. Buku yang kucari ternyata belum tiba di sini. Rasanya menyebalkan. Pandemi menyebabkan segala pembatasan dilakukan, tak terkecuali agenda hunting buku di bookstore langganan. Tetapi adalah percuma kembali dengan tangan hampa, bukan? Maka kutelusuri rak-rak tersebut, membongkar wishlist di ponsel dan menemukan satu dua judul buku yang harusnya telah kubeli sejak awal tahun apabila kekacauan dunia tidak terjadi.

"Nara?"

Aku menoleh. Menemukan lelaki dengan setelan slimfit biru langit dan rambut klimis, rapi. Kacamatanya menggantung di antara hidung ramping dan tajam. Seketika, aku melebarkan mata.

"Bimo?'

Kami tertawa. Rona pada wajah lawan bicaraku semakin jelas. Matanya yang kelam berseri-seri, begitupula lesung pada pipinya yang bersih saat ia menarik masker hingga dagu sekejap. Kuakui ingatannya cukup peka, masih dapat mengenaliku walau penampilan sudah jauh berbeda. Sekarang, sebuah jilbab melekat menutupi rambut, keputusan yang kuambil sekitar setahun lalu.

"Ketemu di sini? Been years!"

Bimo mendekat. Aku menangkap tiga buku metropop yang ia genggam erat. Sejak kapan selera baca orang ini berubah sekian derajat?

"Metropop? Kupikir kamu benci fiksi."
Bimo terkekeh. "Bukan buatku."
"Lalu?" Aku memicing. Menemukan sorot malu-malu yang amat langka Bimo tunjukkan.
"Calon istri."

Aku bertepuk tangan tiga kali. Sementara Bimo mengusap belakang kepalanya, salah tingkah.

"Wow, jadi kapan? Ah, aku harus marah karena tidak dikabari lebih awal."

Bimo meringis, sebelah tangannya yang bebas ia selipkan ke dalam saku.

"Kamu menghilang dari radar sekian lama. Maaf. Harusnya aku mencarimu lebih keras, Ra."

"Eh, nggak masalah!" Aku nyengir. Kembali berbelok, memindai buku apa lagi yang harus kumasukkan dalam tas hitam yang disediakan toko ini.

"Kamu ke mana saja, sih? Nomormu langsung nggak aktif setelah lulus dan pulang kampung." cercanya, gencar.

"Menenangkan diri dong, Mo. Nomor lamaku itu milik sejuta umat, sebarannya sudah ke mana-mana. Mengerikan juga. Jadi lebih baik diganti."

Ia mengangguk setuju. "Tapi setidaknya kasih kabar, dong."

"Sorry, my bad. Padahal kita satu kota, ya. Memang dasar mainnya kurang jauh saja."

"Setelah ini langsung pulang?"

Aku melirik Bimo sebentar, lalu beralih memeriksa waktu pada jam tangan. Nyaris pukul empat.

"Iya. Tapi sepertinya mau salat dulu di bawah."

Bimo tersenyum, matanya menyipit berbentuk sabit. "Ayo deh, aku juga belum salat ashar, nih."


***


Senja dari lantai lima pusat perbelanjaan ini cukup aneh. Selain karena pemandangan kota yang terlalu jujur dengan kabut polusi, aku juga dapat menemukan puncak gedung-gedung pencakar langit terputus ditelan awan, tampak kusam, sekaligus dingin. Padahal dari titik dan ketinggian lain, semua terlihat lebih normal dan manusiawi.

"Jangan melamun!" Bimo mendorong sebuah galas berisi jus mangga mendekat padaku dan tersenyum jahil. "Apa yang kamu pikirin, sih?"

"Nggak ada, aku kan nggak suka mikir."

Bimo tertawa lagi. Sepertinya ia memang jadi lebih sering tertawa. Kerut pada sisi matanya menjelaskan semua.

"Bulan depan, sekarang masih sibuk bertemu WO, mencari A sampai Z yang perlu dibeli." katanya saat kutanya kapan hari bahagia itu tiba.

"Siapa?"

Bimo mencicit, "Kamu kenal orangnya."

"Ya siapaaa?"

"Zalina Atmajaya, teman sebangkumu di kelas sebelas."

Aku terkesiap, namun tak ayal memberi satu acungan jempol, terkesima. "Dia terlalu baik buat kamu!"

"Heh, aku nggak sehina itu ya!"

Aku terbahak, lalu mendengarkan Bimo berceloteh tentang pertemuannya dengan Zalina sepulang ia dari Yogya, mengenal lagi setelah bertahun tak bertemu, menghadap orangtua masing-masing, lalu merencanakan pernikahan. Terdengar sederhana, indah tanpa hambatan, seperti dongeng.

"Kamu akan datang, kan? Kamu nggak ke mana-mana?"

Aku mengangkat bahu, nyengir. "Memangnya harus ke mana? Aku nggak akan beranjak ke manapun lagi. Kota ini sudah memberikan segalanya, kok."


***


Aku melambaikan tangan, tersenyum lebar pada Zalina yang baru tiba. Teman SMA-ku itu tertawa singkat, lalu bergegas menyongsongku pada sebuah meja dan kursi besi. Kami membuat janji bertemu setelah Bimo bercerita pada Zalina tentang pertemuan tidak sengaja di toko buku, lalu beralih menghubungiku dengan dalih minta ditemani ke IKEA untuk mencari perkakas rumah tangga.

Perempuan ini masih secantik dahulu dan seanggun biasanya. Aku ingat, Zalina selalu jadi pusat perhatian di sekolah karena nilai-nilainya yang menakjubkan dan keaktifannya di Rohis serta OSIS. Permata yang bernilai, memang. Bimo selalu tahu mana yang terbaik.

"Nara! Ya ampun, Bimo uring-uringan karena nggak bisa menemukan kamu saat undangan kami selesai dicetak." ia meringis, "Finally, kamu ada di hadapanku sekarang!"

Kukedipkan mata dua kali, pura-pura sebal. "Bimo mencari pakai mata kaki, kali?"

Zalina tertawa. Bahkan melodi tawanya saja terdengar demikian merdu.

"Wanna be my bridesmaid, Ra? Please, I beg you."

Aku menghela napas, mengambil jeda dengan pura-pura menelan cookies yang disediakan kafetaria ini. Sengaja membuat Zalina menunggu.

"Ra!" tegurnya, melotot.

"Fine." Terkekeh kecil, kuanggukkan kepala, sepakat. Aku tentu tidak berniat menolak sejak awal.

Kami terlibat obrolan seru seputar kehidupan sembari menanti Bimo yang baru bisa keluar kantor pada pukul dua. Ia memang sempat berkata sedang dikejar deadline akhir bulan ini sebelum masa cuti disetujui.

"Gimana rasanya? Lega?" Aku berusaha menggoda Zalina. Menemukan wajahnya sedikit memerah dengan senyum yang tak dapat disembunyikan. Namun, alih-alih menjawab, ia justru menatap ke luar jendela kaca, menerawang jauh.

"Waktuku hampir tiba." katanya, lembut. Aku berseru senang.

"Iyalah, sebulan lagi! Betapa singkatnya."

Tetapi, Zalina hanya diam.


***


Aku benci pemakaman.
Tetapi kini, aku justru tengah berdiri di tengah-tengahnya, menatap langit kelabu, serta melirik sayu pada bunga-bunga kamboja berguguran. Aroma duka menguar, isak tangis masih terdengar jelas, sementara jasad itu diturunkan ke liang lahat bersama keikhlasan yang dipaksa merekah. Jelas berat, tentu penerimaan terasa sulit digapai dengan hati yang masih terluka.

Namun, sejak dulu manusia tidak pernah punya banyak pilihan, bukan?

Seseorang di sisiku berdiri kaku, dingin, dan sendu. Ia tidak banyak bicara, tak pula terlihat meneteskan air mata. Hening, barangkali tak sudah merapal doa dalam benak, melucuti sekian kecewa, angkara, dan lelah.

Aku tidak ingin mengganggu damai yang susah payah ia terbitkan.

Maka, perhatianku terpusat pada seorang perempuan, duduk berjongkok di sisi makam yang tanahnya basah, gundukan penuh oleh beragam bunga dalam sekejap. Tangisnya tumpah ruah, membuatku ikut berjongkok, memeluk singkat, untuk kemudian mengambil alih tugas menabur bunga-bunga lebih banyak.

Lantunan doa kembali terdengar, sesak lagi-lagi menghujam, meraja, menebal dan memberatkan pundak. Semakin sering mataku menangkap nisan bertuliskan nama cantik itu, semakin netraku memanas dengan bulu kuduk meremang.

Kupejamkan mata, mengaamiinkan, berusaha menghentikan laju sesal dan bersalah.

Kembali, kutatap nisan paling baru, di bawah rimbun pohon kamboja, diukir dengan kayu cokelat tua, frustrasi sekaligus tak berdaya.

Zalina Atmajaya
lahir
1 Desember 1993 
wafat
27 Agustus 2020

Semoga lapang, semoga tenang.


***


(Bersambung ke bagian dua)

Selasa, 19 Oktober 2021

Diam Tak Selalu Jadi Jawaban

 

"Kita harus selalu siap bukan, dengan atau tanpa jawaban untuk setiap pertanyaan?"

Anggia tersenyum tipis sembari membiarkan dua gelas berisi minuman diletakkan ke atas meja mereka oleh seorang pelayan.

Jumat sore setelah adzan Ashar berkumandang satu jam lalu. Mereka duduk mengakrabi kedamaian Canala Collective lantai dua, sesekali memandang keramaian jalan raya di bawah sana, lantas hanyut oleh obrolan seputar remeh temeh dunia.

"Seringnya, kubiarkan semua mengambang di udara dan dilupakan saja, ketimbang memberi jawaban menyakiti. Kadang yang demikian secara ajaib lebih bisa diampuni."

Syakala menghela napas, menerawang kejadian sepekan kemarin, ketika seseorang mengganggu tenang dalam hari-harinya.

"Maka ketika dia izin pergi, kamu hanya diam?" Anggia mengerutkan dahi, sementara Syakala mengangkat bahu.

"Dia akan tatap mengambil keputusan itu dengan atau tanpa persetujuanku. Tidak ada bedanya."

"Tapi bagaimana jika ternyata dia menunggumu lugas dalam menginginkannya, Kala?"

Syakala diam, Anggia mendengus. "See? Lain kali, bilang. Sesuatu yang kamu inginkan, juga harus diusahakan."

Penganut paham diam, dan pemilik prinsip 'katakan'. Pada sisa hari kerja, menyambut akhir pekan esok serta lusa, meluruskan benang kusut pada kepala carut marut sudah jadi kebiasaan. Mereka selalu sibuk memikirkan segala jenis deadline Senin sampai Jumat, hingga abai untuk sekadar memvalidasi 'rasa'.

"Ya, kalau memang ada yang namanya lain kali."

Anggia menggeleng, tak habis pikir. Jemarinya meraih kopi susu hangat untuk diseruput pelan-pelan.

"Toh, undangan sudah sampai di tanganku. Kamu akan datang bersamaku, bukan?"

Syakala dan segala keputusannya yang absurd dan membuat gemas, Anggia dengan ketidaksabarannya tentang rute takdir dan penyampaian-penyampaian lambat lagi membuat ngantuk.

Kalau boleh memilih, Anggia ingin sekali berhenti mendukung Syakala dan menyemangatinya dalam menjalani pilihan yang kerap keliru.

"La, apa kamu pernah mencintainya?"

Syakala terkekeh, ujung jilbab biru langitnya melambai terbawa angin.

"Pernah atau tidak, tak ada gunanya."

"Tapi pengakuan haruslah menjadikan semua berhenti sayup-sayup dan tampak kelabu. Biar jadi hitam atau putih saja."

Syakala diam, air mukanya keruh. Anggia tahu, bukankah penyesalan dan rasa khawatir menjadikan manusia semakin ragu? Konsistensi keputusan yang dibuat seolah berubah rapuh. Namun, jalan untuk kembali dan mengubah keadaan jelas tidak pernah ada dalam sejarah peradaban manapun.

Anggia mengerti, perempuan itu maklum. Bukan hal mudah bagi Syakala mengakui di mana hatinya masih labuh dan rebah. Mimpi temannya selalu indah di dermaga tersebut, menunggu kapal di hadapan mengajak berlayar. Tetapi, hari yang diimpikan ternyata tidak akan pernah tiba, tak mungkin menyambut. Sebab jangkarnya telah diangkat, dan satu-satunya penumpang telah bersedia naik menemani nahkoda. Sayangnya, penumpang itu bukan Syakala.

Tidak ada yang patut disalahkan. Toh, tawaran telah dilontarkan, dan Syakala terlampau terkejut untuk sekadar mengiyakan. Pun, semua sudah berlalu dan kesempatan yang sama pernah terulang, namun Syakala terlalu takut untuk menghadapi ombak dan bertemu laut lepas.

Dalam bayangan Anggia, Syakala masih di tempat yang sama, duduk menunggu, sampai kapal baru tandang dan ia siap menaklukkan gelombang.

Sampai saat itu tiba…



Palembang, 19 Oktober 2021
Siti Sonia Aseka

Yang Sama (ternyata) Berbeda

 

Shakila masih perempuan yang sama, yang payung biru pudarnya mekar di bawah langit kelabu dan hujan sesorean itu. Shakila yang selalu berada di sampingnya meski barangkali kalbu si perempuan memaki habis-habisan. Pertemanan adalah sebuah relasi paling aneh melibatkan dua orang bahkan lebih, tak tertulis, tak memerlukan materai atau perjanjian-perjanjian sejenis, hanya dijalani saja, sembari pintu terus dibuka, mengizinkan yang hendak tandang pun pergi keluar-masuk sebagaimana garis waktu dan kesempatan mempertemukan hingga memisahkan manusia.

Akbar mencopot kacamatanya, melirik kopi yang kehilangan uap, lalu meletakkan kepala di sandaran kursi, memejam sejenak. Ia pening bukan main.

"La, ada persediaan aspirin, nggak?"

Lelaki itu mengintip kubikel sebelah yang hening meski cahaya komputer menyala terang, serta suara tak tik terdengar tanpa henti.

"Pusing lagi?" Shakila mengerutkan dahi, namun tangannya segera bergerak membongkar isi tas demi menemukan wadah penyimpanan berisi obat-obatan pribadi yang kerap ia bawa ke sana ke mari.

"Iya, nih."

"Belum makan, kan? Kebetulan aku mau nyemil. Pop mie aja, mau?"

Shakila berdiri, tak peduli pekerjaannya yang setengah nanggung terabaikan beberapa waktu. Perempuan tersebut buru-buru berjalan ke pantry, mendidihkan air, menyeduh dua gelas pop mie untuk dirinya dan Akbar, sekalian membuka kulkas dan meraih sekantung besar roti yang ia bawa dari rumah tadi pagi. Masih tersegel, belum dibuka.

Akbar yang menjelma workaholic sejati membuat Shakila kadang lelah sendiri. Sebagai teman, ia merasa punya tanggung jawab mengawasi Akbar, apalagi menilik orangtua mereka punya hubungan tak kalah dekat. Akbar adalah tetangga masa kecilnya, teman sepermainan, selalu memasuki sekolah yang sama, bertemu di kampus yang sama pula meski berbeda fakultas, sampai hari ini, menjadi dosen di salah satu Universitas Negeri terkemuka di kota mereka.

"Aku bawa roti juga, karena satu cup pop mie doang nggak akan cukup. Kalau kebanyakan, justru nggak sehat."

Akbar terkekeh lemah, menganggukkan kepala sepakat. Shakila memang benar.

"Sebentar lagi Ashar, sebaiknya kita pulang. Kamu jangan lembur dulu hari ini." Shakila berkata setelah mendudukkan diri di sisi temannya, menarik satu kursi terdekat, memecah keheningan ruang dosen yang hanya menyisakan tiga orang, termasuk dirinya dan Akbar.

"Kerjaan masih banyak banget. Sampai jam delapan malam aja, sih. Nggak begitu larut."

Shakila menghela napas, mengalah. Akbar selalu sulit meninggalkan apapun berkaitan dengan pekerjaan. Padahal dulu, ia tak segila kerja ini.

"Okay, kabari kalau kamu sudah pulang. Jangan bohong!"

Akbar nyengir, mengangguk patuh seperti anak kecil terhadap perintah ibunya. Mereka menghabiskan makanan sembari mengobrol kecil, membahas media kelas atau mahasiswa yang membolos, memberi saran sekaligus bertanya.

Baru dua menit mereka kembali ke tempat masing-masing, Adzan berkumandang memenuhi ruangan dari speaker yang sengaja dipasang pada sebuah sudut. Shakila tersentak, ditertawakan oleh Akbar yang sudah siap dengan sandal jepit dan kopiah hitam.

"Aku salat sekalian pulang, deh."

Shakila memberi isyarat tunggu dengan jemari, tergesa menyimpan peralata  dan merapikan mejanya sembari menunggu komputer redup hingga menyisakan sedikit cahaya senja dari celah ventilasi di atas jendela.

Lorong-lorong fakultas terasa sepi. Beberapa mahasiswa masih sibuk dengan laptop di ruang-ruang kelas tanpa suara; fokus, serius. Tangga yang menghubungkan lantai satu dan dua terletak di ujung kanan dan kiri, mengizinkan penghuni gedung memilih untuk turun-naik melalui sisi yang mana.

"Ternyata Alfaro sudah di bawah."

Shakila menginformasikan, sementara Akbar memaksakan sebuah senyuman. Ia mengangguk formalitas, kemudian mengucap istighfar kencang-kencang dalam hati. Walau sudah bilangan bulan berlalu, perasaan yang bercokol kuat dalam dada tak jua begitu saja lenyap ditelan keterbiasaan.

"Udah lama?"

Shakila menyambut Alfaro dengan pandangan dan raut yang demikian cerah sekaligus teduh begitupula sebaliknya.

"Nggak, kok. Tadi kebetulan bertemu Niru, jadi ngobrol dulu di depan."

Shakila mengangguk, kemudian pamit untuk mengambil wudhu, meninggalkan Akbar dan Alfaro yang saling melempar tatap canggung.

Padahal semua sudah selesai dan lembaran baru telah dibuka. Tetapi mengapa rasanya masih seolah baru kemarin?

Akbar tahu, Shakila telah memilih. Alfaro, lelaki yang kini rambutnya basah sebab air wudhu, yang mengimami salat setelah sedikit saling 'menumbalkan' dengan Akbar, yang selalu menang sekian langkah di depannya terutama soal Shakila, yang namanya selalu disebut dengan ekspresi kasih tak terbendung oleh perempuan itu.

"Jangan pulang malam banget, ya!" Shakila sekali lagi mengingatkan setelah mereka semua selesai menunaikan salat. Akbar mengangguk, disusul tanya oleh Alfaro yang dibalas, "Biasalah, Akbar cinta banget sama kerjaan, jadi tepar."

Pasangan suami istri tersebut berlalu setelah pamit dengan salam, meninggalkan Akbar yang masing menatap kedua punggung mereka; nanar lagi getir. Sisa-sisa keberatan dan ketidakterimaan itu masih ada, masih jelas terasa. Tetapi keikhlasan, seperti yang kerap ia rapal tanpa sudah bak mantera, adalah keharusan dan niscaya.

"Bukankah manusia pasti diuji dengan dua hal?"

Akbar ingat, Ibunya menasihati pemuda itu dengan lembut dan hati-hati.

"Terhadap hal-hal yang disukai dan tidak disukainya, Akbar."

Ibu benar.
Lantas mengapa ia masih larut dengan tanya yang juga sudah jelas jawabannya? Mengapa ia masih tak dapat beralih meski Shakila telah memutuskan untuk lupa dan menganggap mereka tak lebih dan tak kurang seindah kala SMP tanpa bumbu-bumbu lainnya? Mengapa hanya Akbar yang tertinggal di belakang bersama segala kenangan?

Adalah kerinduan, membuat manusia menggila sekaligus sembuh. Pun realitas, menyadarkan manusia; tak mungkin ada dua dalam satu.



Palembang, 19 Oktober 2021
Siti Sonia Aseka

Merespons Fatwa HARAM Vasektomi yang dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia

Sepekan lalu, MUI melalui akun Instagram resminya, merilis tanggapan mengenai kebijakan yang diberlakukan oleh Gubernur Jawa Barat, yaitu: m...