Blogger Perempuan

Blogger Perempuan
Kunjungi laman Blogger Perempuan dan baca tulisan saya melalui link berikut

Kamis, 28 Februari 2019

Jadi, Kita Pulang?

Hari ini, pukul sepuluh pagi.



Perempuan itu tak pernah mengerti mengapa secangkir kopi bisa luar biasa memberi dampak seperti sengatan listrik bagi beberapa orang. Kecuali fakta bahwa minuman pekat satu itu ternyata membawa sebongkah kenangan usang, nyaris membatu pada relung hati yang pecah jadi seribu.

Apa yang membawanya datang?
Sebuah undangan dari nomor tak dikenal, keinginan untuk menjemput penjelasan, atau memang karena ia hanya sekedar lupa meletakkan kemarahan dan kebencian pada tempat yang seharusnya?

Pada detik ketika kepala seolah dihantam tanpa ampun, Kina seketika membeku kala suara lonceng dari pintu masuk mendadak tersalur cepat memasuki rongga telinga. Tidak banyak orang sudi menghabiskan waktunya dengan duduk-duduk sembari menikmati sarapan di sebuah kafe, perempuan dengan mata sendu ini juga salah satunya. Tapi, untuk beberapa alasan, ia harus melakukan hal-hal menggelikan semacam itu demi janji bertemu seseorang.

Seseorang yang penting, barangkali.

Kursi dihadapannya ditarik mundur sekejap. Kina entah bagaimana bisa merasakan udara sekitar tiba-tiba menyusut tanpa sisa. Pada detik berikutnya, ketika perempuan itu mengangkat wajah yang setengah mati dibuat biasa, ia bisa dengan leluasa menangkap raut yang telah sekian lama lenyap dari jangkauan.

"Ingin memesan sesuatu atau hanya berniat duduk di situ tanpa melakukan apapun?"

Kina membulatkan mata tak percaya. Bermenit-menit yang habis dilibas canggung, laki-laki dengan surai hitam legam tersebut hanya menatap dan menghela napas berat untuk beberapa waktu yang tampak kalut.

Mengapa mereka ada di sini?
Kenapa bisa sampai berjumpa lagi?

"Secangkir kopi."

"Tanpa gula?"

"Ya, tolong."

Kina bisa merasakan atmosfer mendadak jadi dingin sekali. Perempuan itu bahkan memilih bangkit tanpa menunggu instruksi ke sekian kali. Memilih menjauh sejenak, mengatur degub dan detak. Sebab selalu ada yang bertalu tak normal sejak lama, bahkan kala ia merasa hal-hal semacam itu telah sirna dari bayangan.

"Secangkir kopi, tanpa gula." Kina tersenyum tipis kala pelayan mencatat pesanan, berkata tunggu sebentar, lalu menghilang dari pandangan. Perempuan itu memandang kosong ke depan, tanpa berniat mencari tahu apa yang tengah dilakukan oleh pria yang baru tiba di meja mereka.

Mereka harusnya membuka pertemuan dengan sapaan paling akrab, seperti pelukan atau paling tidak jabat tangan lalu bercakap mengenai banyak hal. Tentang kota yang telah ditinggalkan, soal memori yang mendadak mampir lalu menggoda, atau bahkan membicarakan perasaan satu sama lain kala harus hidup berjauhan.

Namun ternyata semua hal-hal manis itu hanya harus tetap tinggal lebih lama dalam kepala.

"Ini dia. Selamat menikmati."

Kina habis-habisan mengutuk diri kala tersadar dari lamunan dan harus menghadapi kenyataan di depan mata. Bangun, Kina. Batinnya, mengusir sekian keinginan untuk lari, menghilang. Menyembunyikan diri di balik selimut di dalam kamar, tertidur panjang. Mungkin tidak bangkit dari ranjang untuk satu pekan adalah ide bagus dalam keadaan super kacau begini.

"Apa menu sarapanmu pagi ini?"

Kina menahan napas tatkala mata bulat itu menatap lekat. Secangkir kopi telah diletakkan. Uapnya sebentar saja memenuhi udara, bercampur lalu terbang ke angkasa.

Perempuan itu mengerjap, tersenyum tipis lalu mengetuk pinggiran cangkir miliknya.

"Hanya latte saja."

"Kau harus berhenti memblock makanan di pagi hari, kau tahu?"

Kina tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Omelan, nasihat, argh…. Perempuan itu mendadak diterpa pusing tepat di kepala.

"Berlin tampak luar biasa bagimu?"

Kina melontar tanya setelah mereka puas berargumen dengan tuduhan dan pembelaan. Laki-laki di hadapannya menyesap kopi sekali lagi hingga tandas. Memalingkan pandang ke luar jendela, lantas melempar tatapannya lurus lagi, tepat pada manik mata sendu yang selalu ia rindukan setengah mati.

"Berlin memang luar biasa. Tapi, kau tahulah, di antara dua tempat, selalu hanya ada satu yang bisa menarikmu kembali. Dan perasaan semacam itu faktanya tidak hadir saat aku ratusan mil jauh dari Berlin."

Kina tertawa kecil. Nyaris menggoda sebelum gendang telinganya kembali menangkap getar suara disusul deru napas yang begitu berat.

"Entah bagaimana, saat ini aku sungguh merasa pulang."

"Tapi, kau bahkan belum tiba di rumah."

"Memang." Laki-laki tersebut tertawa, menyipitkan mata lalu menyambung, "Aneh, 'kan?"

Kina mengangguk kecil. Merasakan dadanya seolah ditekan kuat. Ingin sekali ia mengeluarkan suara, berkata betapa selama nyaris bertahun, perempuan itu bahkan tak menemukan satupun tempat untuk pulang. Ia telah kehilangan rumah lamanya, sesuatu yang tiba-tiba saja tak mampu ia temukan di mana-mana.

Tapi, hari ini, sama seperti pemuda itu, mengapa ia mendadak merasa pulang?


Palembang, 28 Februari 2019
Siti Sonia Aseka

Selasa, 26 Februari 2019

Pada Tempat dan Waktunya

Perlu saya runut bagaimana saya bisa berada di sini? Melalui terjal jalan, tikungan tajam, ratusan rambu lalu lintas, gedung-gedung, rumah-rumah, perkebunan, sawah dan hutan.



Kesimpulannya, semua yang saya lewati demi tiba di tempat ini bukan sesuatu yang dapat dikatakan mudah, ajaib saja, bahkan tanpa membutuhkan usaha. Saya yakin semua orang memiliki momentumnya sendiri, arena yang tidak sama dengan orang lain. Kesulitan, masalah, beban, segala kepahitan itu bersatu dan membaur sedemikian padu sampai pusing kepala.

Nah, jadi, setelah segala jatuh bangun itu, ternyata masih ada oknum yang tidak dapat mengerti dan semena-mena dalam laku.

Terkadang, kadang saja, saya merasa bahwa manusia memang lahir dan menghadapi fase ingin bergerak cepat tak peduli menghantam apapun di depan sana. Baik, buruk, halal, haram, yang penting tujuan yang ia inginkan tercapai secara sempurna, tanpa cela. Termasuk juga dengan tidak memikirkan orang lain, dzholim, mengharapkan hal besar dengan hanya berbuat kecil, memaksa orang lain padahal masih memanjakan diri sendiri, menjelaskan keinginan, menuntut, tanpa mau mendengar harapan dan permintaan sesama.

Ini yang perlu diluruskan, sebenarnya.

Siapapun jelas ingin cepat dalam menggapai obsesi. Siapa sih yang tidak? Tapi, segala hal punya cara. Manusia masih perlu diperlakukan dengan baik tanpa dibuat menderita oleh kita sebagai alasan.

Nanti, di hari akhir, alangkah lucunya ketika dalam antrian perhitungan amal, orang beramai-ramai menunjuk kita sebagai si menyebalkan yang suka memaksa-maksa, memerintah sesukanya, otoriter, dominan keras kepala, apa lagi? Ah, si tekak bantah juga, barangkali.

Ayolah, memikirkan orang lain tidak akan membuat kita kesusahan. Memudahkan orang lain juga tidak akan mendadak menjadikan kita kerepotan. Biasa saja, apa adanya. Jangan jadi pribadi yang dihindari sebab tidak nyaman diajak bicara. Jangan sampai konten perkataan kita hanya berisi perintah, instruksi dan paksaan. Halo? Coba berhenti sejenak dan berdamai dengan lingkungan, lalu pahami keadaan.

Yang lebih lucu lagi, fenomena yang mungkin bisa membuat kita ingin ngakak sekaligus menangis, adalah ketika seorang katakanlah anak buah yang bertingkah seolah lebih pintar, lebih tahu segalanya, lebih mengerti dan lebih kuasa ketimbang sang pemimpin.

Well, are you okay, dear?

Miris? Sangat.

I don't even know what he/she think about his/her leader and what's really happened between them. Perhaps, I will never know. But, come on! He/she is your leader, he/she is your representation, your role model. Don't be too much. Clear your job, do your own responsibility, enough. Don't blame anyone because of your anger to yourself.

Saya berkaca dari diri saya sendiri.
Sebab, pernah pada satu sisi saya merasa saya bisa melakukan lebih baik dari yang dilakukan oleh orang yang posisinya berada di atas saya.

Tapi, perasaan tersebut faktanya cukup untuk dinikmati sendiri saja. Karena, makin mendewasa, saya sadar bahwa pemimpin memang tidak berjalan selamanya sebagai sosok sempurna. Itulah guna kita sebagai bawahan; mengingatkan, bergerak bersama, memahami, memahamkan dan meraih harapan serta tujuan itu bersama juga.

Start from now, please, please... stop complaining, stop judging. Just be fine with everything, even if you are not feeling well, just keep silent. You can speak up when your time comes. Really.

Belajarlah untuk menghargai orang lain, terutama orang yang memiliki posisi, usia, pengalaman lebih tinggi ketimbang diri.

Kalau memang ingin memimpin, nanti.
Akan ada waktunya, akan datang saatnya. Sekarang, selagi masih diberi kesempatan sebagai yang dipimpin, maka nikmati dan jalankan dengan semaksimal dan sebaik-baiknya. Agar nanti kala menjadi pemimpin, kita bisa memahami dan mengerti posisi mereka yang kita pimpin.

Okay, I'm out over the place, anyway.

But, yeah. That's all.
Happy to see everyone in their own best place.

Fyuh~~

Siti Sonia Aseka
Palembang, 25 Februari 2019

Jumat, 25 Januari 2019

HARI INI

Satu lagi hari buruk dengan lipat ganda suasana hati super tidak kooperatif.



Kemarin, semuanya berjalan lancar.
Kelewat lancar, malah.
Penuh tawa, canda, tersenyum sepanjang waktu, bahagia tanpa cela, lingkungan yang bersahabat dan instruksi lebih ramah serta tenggat manusiawi tak menyebalkan sama sekali.

Memang. Harusnya, diluar segala kenyamanan itu, aku mampu lebih cerdas mengantisipasi tiap senti luka yang bisa saja terjadi akibat gesekan dan saling singgung. Well, terlambat, sih. Sebab malamnya, ketika aku haruslah menyelesaikan apa yang terjadi dengan senyum dan perasaan lega karena segala hal perlahan usai terlewati, aku malah harus dihadapkan dengan jenis manusia yang mesti kuhindari setengah mati. Dan coba tebak? Aku gagal mengatasi yang satu ini, lalu berakhir dengan pura-pura tampak baik walau di dalam penuh lebam dan hancur sekali lagi.

Ah, benci.

Mengapa harus hari ini?
Padahal, terlepas dari segala kegaduhannya, yang mana memang merupakan kebiasaan selama nyaris bertahun, aku memiliki tanggung jawab untuk wajib dijalankan walau hati terasa ingin pergi, lari, sembunyi.

Faktanya, aku kembali menjadi sosok menyebalkan. Tak ingin bertemu siapa-siapa, tak mau mendengar apa-apa, tak hendak membuka suara. Hanya berdiam saja. Nyaris menenggelamkan diri hingga tanpa sisa, sukses mematahkan hati menjadi dua saking sekaratnya.

Psikosomatis yang terulang entah ke berapa kali dalam satu bulan ini.

Pusing dan pening yang jelas bukan hal biasa dan tanpa sebab. Fisik kelelahan, hati yang seolah diremas kuat, pikiran yang tak lagi menemukan akal sehat. Huh, terdengar nyaris redup dan membeku, bukan?

Jadi, mengawali pagi dengan harap-harap cemas, jadwal agenda yang dirombak ulang, mengirim pesan terburu pada beberapa orang, perizinan terlampau alot, permintaan kelewat sulit, juga argumen yang bertarung sengit melayang di atas kepala, aku seperti nyaris tercekik dan kehilangan kadar udara untuk beberapa detik. Hasilnya? Tenagaku terkuras habis walau jarum jam belum mencapai angka sepuluh.

Nah, jadi lebih rumit, kan?

Kesimpulannya, hari ini, aku menyerah lagi. Kalah.

Mengendalikan apa yang tak bisa menyenangkan hati memang bukan perkara enteng. Bahkan mengantri arena bermain pada pasar malam tahunan atau stand makanan di festival kembang api mungkin jauh lebih mudah ketimbang harus berperang melawan diri sendiri.

Hei, segalanya akan baik-baik saja, bukan?

Walau aku sendiri tak mengerti mengapa memerlukan jawaban atas tanya paling klise sepanjang zaman macam itu, sepertinya jauh di dalam, setelah segala pelarian yang membuat perut lebih mudah lapar, aku memang hanya butuh seseorang berkata, "Tenanglah. Tak mengapa. Ambil saja istirahat sebanyak yang kau mau, sisihkan saja kesendirian sepanjang kau ingin. Aku akan mengambil alih. Aku akan menyelamatkannya untukmu. Jadi, tetap di sini dan jangan membahayakan diri sendiri, oke?"

Mimpi.

Ha, memangnya ada jenis pahlawan kemaghriban begitu? Kalau ada, simpankan satu untukku, tolong. Dengan karet dua, ya. Agar tak tertukar dengan yang lain.

Di sudut kamar, di bawah temaram lampu, bersama sebuah buku dan dua porsi mie goreng lezat, aku meringkuk mengobati luka perlahan. Menyambungkan sekali lagi hati yang patah, menempelkan remah-remah berserakan, memeluk harapan serta doa agar besok segalanya membaik seperti sedia kala.

Karena sungguh, seharian berbicara pada diri sendiri, mengoreksi apa yang salah dan mendapat jawaban dari rotasi akal menari-nari, aku memang tidak bisa menemukan objek malang apapun untuk dimaki atau disumpahi.

Sebab jauh di dasar, nyaris ke inti, aku menyadari bahwa dari sekian amarah dan perasaan kesal, setengah atau kurang bahkan lebih, andil ikut serta diri kita sendirilah yang meletakkan tangannya, mengacaukan, membuat patah.

Tahan amarah.
Jangan meledak.
Padamkan letupan.

Tidak mudah, jelas. Namun, tetap harus dicoba, kan?



Indralaya, 25 Januari 2019
Siti Sonia Aseka

Kamis, 03 Januari 2019

Antagonis


Beberapa orang menyalahkan ledakanmu.
Menganggap keputusan untuk menciptakan adalah ketergesaan yang tak pantas apalagi patut.

Beberapa orang bahkan menganggapmu jahat.
Hanya karena engkau terlalu jujur pada dirimu, tentang hati, tentang kemauan dan penolakan bahkan.

Beberapa orang berpikir engkau tak ubahnya kerikil kecil yang memberikan efek ganda; tak berarti sekaligus mengganggu pandangan mata.

Beberapa orang hanya ingin engkau sama seperti mereka. Tak membuat sesuatu yang beda, berjalan lurus saja, tak memandang kemana atau berpikir untuk mengubah apa-apa.

Beberapa orang jelas hanya mau engkau tak melampaui mereka. Sebab, mereka percaya keberadaanmu dapat menghasilkan gelombang besar yang selama ini hanya nawacawa saja.

Kau harus sadar, semua gravitasi kebencian dari "beberapa orang" tak akan serta merta menjadi anggapan "semua orang."
Karena, hanya kemustahilan untuk menyenangkan seluruh hati, di setiap sisi dan segala pribadi.

Kun Anta.
Just be the best version of yourself.

Siti Sonia Aseka
Indralaya, 12 April 2018

*Tulisan ini pernah saya posting di Instagram

Senin, 31 Desember 2018

Summer Maze


Bukan jenis another ending, tapi lebih ke sequel atas kisah EUNOIA oleh @augustddrugs di Wattpad dengan sudut pandang Song Jian sebagai pemeran utama wanita.

Anyway, sedikit bercerita, aku menemukan Eunoia dan Arcas pada bulan Agustus 2018 ketika memutuskan untuk aktif kembali di Wattpad setelah nyaris satu tahun menarik diri.

Good story, great account, and also an inspiring writer.

Note:
Bagi yang penasaran dengan kisah asli, silahkan baca Eunoia di Wattpad, ya.
Cerita yang bagus untuk kita agar lebih peduli terhadap kesehatan mental.

Karena resiko atas rehabilitasi seseorang dengan mental illness tidak main-main. Kalau tidak melupakan kenangan dan seluruh memori, ya meninggal. Sudah, tidak ada kemungkinan lain.

Selamat membaca.

_____

Song Jian masih mengingat semuanya. Memori masa kecil, hawa terik musim panas, aroma pie apel, pohon sansuyu, sepeda dan rumah sakit, taman bermain, bahkan pusat rehabilitasi, Busan, serta…

Jeon Jungkook.

Semua kenangan itu menjelma bagai sensasi gelitik yang menyerang di tengah suasana hati super buruk; menyebabkan tawa dan menghadirkan luka bersamaan. Tapi, jelas, Jian tidak bisa mengelak. Sama seperti kekecewaannya yang mengendap tinggi. Sekalipun ia coba benahi berkali-kali hingga mual, perasaan tak bernama yang kerap hadir tiap malam itu tidak bersedia enyah begitu saja.

Jadi, dengan gelegar petir yang hadir bersama hujan sejak sore, Jian menurunkan kaki-kaki kurusnya dari atas ranjang. Menyalakan lampu kamar, mengikat rambut hitam miliknya tinggi-tinggi sembarangan. Kerongkongannya kering, kepalanya pening, dan hidungnya tersumbat sebab terbangun dalam keadaan terisak hebat. Kedua matanya memerah dan sembab. Suaranya? Jangan tanya. Sudah luar biasa serak.

Jian lupa hal-hal macam ini telah berjalan seberapa sering. Yang ia tahu, mama akan menatapnya prihatin setiap pagi, menyodorkan segelas susu hangat dan roti tawar diolesi selai cokelat, menyapa riang, lalu bertingkah seolah wajah anak gadisnya tidak terlihat seperti habis dipukuli sebab tertangkap basah mencuri suami orang. Oh, buruk sekali. Padahal Jian sadar, mama akan dengan buru-buru menyuruhnya mengompres wajah setelah menandaskan sarapan, beralasan hal semacam itu baik untuk kesehatan.

Membuka pintu kamar, melangkah menuruni tangga, aroma manis samar tercium. Jian merasakan suhu udara di dalam rumah makin menggila. Berangin, lembab, mungkin mereka bisa didapati mati beku esok hari bila pemanas di dalam kamar tidak berfungsi dengan baik.

"Jian? Terbangun lagi, sayang?"

Perempuan dengan celemek biru laut cantik menoleh pada presensi Jian yang tampak terkejut dari arah dapur, menelusuri seraut wajah anak gadisnya yang seperti biasa, membengkak dan memerah, habis menangis. Sisa air mata bahkan masih tampak mengalir di kedua pipi.

"Iya, ma. Tiba-tiba haus. Mama belum tidur?"

"Belum mengantuk. Omong-omong, mama sedang membuat pie apel. Kau tidak keberatan dengan camilan tengah malam, kan?"

Jian mendekat pada dispenser, mengalirkan air hangat ke dalam gelas yang diserahkan mama baru saja. Kedua perempuan itu terdiam beberapa saat, sebelum salah satu dari mereka kembali buka suara.

"Aku selalu suka pie apel mama kapan saja. Beberapa potong tidak akan membuat kita tiba-tiba gemuk, kan?"

Mama tertawa. Melirik sekilas pada jam dinding yang menampilkan jarum pendek pada angka dua belas.

"Dan kenapa tiba-tiba mama terpikir untuk membuat pie apel di jam segini?"

Jian menjatuhkan tubuhnya pada kursi di hadapan meja makan. Menenggak air hingga tandas, mengerjap beberapa detik demi menunggu jawaban dari sang mama.

Mereka berpandangan pada satu garis lurus. Hening, sebelum kemudian suara nyaring dari pemanggang menyadarkan bahwa pie apel yang sedari tadi ditunggu telah matang dan mengeluarkan aroma menyenangkan untuk ditelan.

"Wah, kelihatannya lezat sekali. Sense seorang koki memang tidak bisa hilang."

Mama memandang anak gadisnya. Tersenyum pedih sebelum menaruh nampan ke atas meja. Memotong pie tersebut dalam diam dan meletakkannya ke atas piring, mendorong benda tersebut lebih dekat pada Jian.

"Jian, selamat hari satu September, lagi."

_____

Di tengah gulungan badai yang membawamu pergi, bersama kenangan, harapan, dan janji yang memeluk erat, ketiga hal tersebut berputar ibarat kaset rusak, menghantam kepala hingga berdarah, menyajikan kesepian dengan luka dan masa depan yang perlahan pudar dari pandangan.

Mengapa kau berlari, mengejar?
Padahal aku masih di sini, tak beranjak meski seinchi.
Menunggumu datang, memimpikanmu pulang.

Bersama memori yang berpesta pora, dengan janji yang menari di atas kepala, aku terjatuh di tengah lantai dansa, terisak parau, meneriakkan namamu yang bergema nyaring dalam ingatan.

Lantas, untuk alasan itu, aku berusaha meraihmu, menggenggam.
Menyadari bahwa tangan ini belum mampu menjaga apa-apa. Namun, impianku ternyata jelas tinggal jejak bayang dan pendar samar ilusi dalam angan.

Kemudian, pada satu titik paling egois yang kupunya, sekali ini saja, aku menginginkanmu melupakan sejenak jalan setapak yang terus kau gunakan demi menemukanku lagi.
Aku ingin berkata, aku hanya ingin menegaskan bahwa aku tak berada di sana, aku sama sekali tak menuju ke sana.

Maka, berbaliklah.

Kau sudah terlalu lama berlari, ragu berhenti, ketakutan setengah mati.
Aku tahu. Aku dapat membacamu.
Kau kehilangan kompas dan diselubungi gelap.
Kau hanya mendengar tanpa mampu melihatku mencegahmu semakin jauh dari hamparan mata.

Padahal, jika sedari awal kau melepaskan semuanya, bila kau dengan mudah menerima segalanya, Sirius yang kau puja tidak akan sebegitu menyilaukan.

Aku hanya memikirkanmu,
aku sangat merindukanmu.

Atas semua rasa sakit yang kau pendam, atas seluruh luka yang kau rasa, untuk setiap air mata yang kau simpan rapat, aku menyaksikan redup pada matamu bertambah kelam dan berpendar harap dalam waktu yang bersamaan.

Bisa aku memerintah waktu berputar ke belakang?

Menyaksikan kita dalam atmosfer musim panas, semangka dan ngengat, saling bercakap tanpa suara melalui masing-masing buku gambar di balkon kamar yang berhadapan, menatap langit demi memandangi gemintang walau semuanya tampak sama.

Aku masih mengingat semuanya, aku masih menyimpan memori kita kuat-kuat.
Dengan dalih hanya bila kau kembali dan melupakanku, melupakan kenangan yang pernah terjalin rapi bak sulaman benang, aku mampu mengisahkannya sekali lagi, membawamu menjumpai kotak memori terindah yang harusnya kita jaga hingga menua.

Jika aku dapat memelukmu sekali lagi,
Bila aku mampu menghalaumu pergi untuk kesekian kali,
Apabila aku bisa mempertahanmu di sini dan mencegah badai masa lalu maupun masa kini membawamu lari, maka aku ingin mengatakan, aku hanya ingin memberitahumu bahwa sekarang dan selamanya, segala kenangan yang terekam dalam ingatan sama sekali tidak pantas dikoyak maupun disobek sedemikian keras kepala.

Summer Maze,
Jian Song

_____

Bila dapat memilih, Song Jian jelas tidak kembali demi menyaksikan Jeon Jungkook mengaku kalah. Jika bisa, dia tentu ingin tiba dengan sambutan dan kabar bahwa seseorang yang masih ia nantikan sampai entah kapan, juga berjuang demi bertemu dengannya dalam kabar paling baik dan menyenangkan.

Tapi, bertahun-tahun berlatih mengelastiskan hati, Jian jelas sadar, keegoisan macam itu, keinginan yang tidak akan membawa pada satupun destinasi terbaik memang patut dienyahkan dari dalam kepala.

Memangnya, hidup dalam bayang-bayang masa lalu yang pemiliknya pun ingin hapuskan sudah pasti berjalan indah? Keadaan macam itu justru akan membawa jauh dari gravitasi kebahagiaan. Dan Jian tentu tidak mau.

Jian jelas tidak dapat melupakan hari di mana Jeon Jungkook secara resmi pergi menuju pusat fasilitas. Bersama pelukan erat yang seolah tak ingin dilepas, pria itu tersenyum dengan setitij air mata menetes dan habis mengalir sebab jatuh di telapak tangan Jian. Ada hati yang nyaris pecah, ada jiwa yang memberontak hebat terhadap skenario semesta, lantas segala riuh batin terasa sesak, berkumpul mendesak perempuan tersebut meloloskan kalimat paling drama dalam hidupnya, "Apapun yang terjadi, aku akan menunggumu kembali. Kau pasti sembuh. Pasti."

Ia jelas tidak tahu lagi apa yang Jungkook hadapi selepas hari itu. Jian jelas tidak akan mengerti betapa menyakitkan mengingat kembali moment terburuk dalam hidup dan merasakan kepingan luka masa lalu dipaksa mampir hanya demi dihapus dan dienyahkan sedemikian rupa.

Jian tidak akan paham, perempuan itu jelas tidak akan pernah mengerti.

Karena yang ia tanamkan di dalam hatinya, sesuatu yang Jian rancang bak bangunan pencakar langit megah nan dingin hanyalah kepercayaan bahwa Jeon Jungkook akan menemuinya dengan senyum paling indah, lantas berkata hangat, "Aku pulang."

_____

"Mencoba meraih harapan yang ditebarkan orang-orang, berusaha mengumpulkan serpih dari sekian kepercayaan, menjejak sebuah tempat baru demi janji petualangan dan masa depan. Ah, bukankah meletakkan keyakinan terhadap manusia seringkali menghadirkan kesakitan? Tetapi, mengapa aku masih tak menyerah? Bahkan bodohnya, kedua tangan kurus ini malah mati-matian menggapai cahaya yang tak pernah tampak; hati sekelam puncak menara pengawas, sempit nan gulita."

Pada sepasang mata hidup pun benderang tersebut, kutemukan engkau melambai-lambai bersama senyum paling meneduhkan yang pernah terbayang dan hadir dalam mimpi tiap malam. Bersama genggaman kecil penuh harap itu, kurasakan dirimu kembali merasuk pada rupa sepoi angin bahkan celoteh kecil yang dilayangkan mulut manis lagi dirindu.

Maka, beberapa kali dalam lipatan bulan, kupaksakan bercangkir tawa serta berpiring-piring canda hadir dengan hangat paling mengikat, berusaha membuat seseorang yang kau cinta berlari kuat dalam pelukan. Sebab, dialah juga satu dari sekian jalan untuk mengobati denyar rindu yang seringkali melompat-lompat bak kelinci manis bergigi lucu.

"Noona, mengapa kau tidak pindah kemari saja dan tinggal bersamaku?"

Kau tahu, sayang?

Jian noona-mu ini bahkan tidak lebih kuat dari sebatang kayu lapuk yang dapat patah dalam sekali hempas. Dan berdiri tegak begini saja, dengan kedua kaki yang bisa luruh kapanpun juga, aku tidak bisa berjanji untuk pula mampu menjadi punggung kuat tempatmu meletakkan ribuan kisah dan kenangan lagi.

Sebab, bila kau memaksa dan jika hal itu sampai terkabul, aku tidak dapat membayangkan apa yang mungkin terjadi pada kita. Aku bisa tidak mustahil membawa kekecewaan baru, atau malah menghadirkan kisah sama dengan milik papamu.

Jangan sampai kita terjebak dalam memori kosong bernama euforia fiksi, Kano.

Karena sekuat apapun rindumu pada pria itu, ia tidak akan pernah bisa kembali menyerupa nyata demi menyaksikanmu tumbuh besar dalam asuhan Min Yoongi si wajah batu, dan aku; si bodoh yang selalu berbohong tentang hati dan perasaanku.

Jadi, memaksakan seulas senyum yang kuharap tampak alami, memeluk erat tubuh mungil itu sekali lagi, merasakan jemari bocah itu melingkar pada pinggang kurus ini, aku menahan setengah mati getar suara demi melontarkan jawaban yang juga berkali-kali ia dengar ketika tawaran semacam itu hadir di tengah lingkar pertemuan.

"Noona tidak bisa meninggalkan pekerjaan Noona di Seoul, Kano."

Pekerjaan memandangi rumah lamamu yang kini dibiarkan tetap kosong tanpa penghuni. Mengulas setiap kenangan yang terjadi lagi dan lagi, ibarat candu, dampak dari rindu. Memikirkan dapur, pekarangan depan, halaman belakang, ruang tengah, bahkan balkon kamar kami yang saling berhadapan dan pernah menjadi saksi atas kisah kacang kenari bertahun-tahun lalu.

"Jian, masih di sini?"

"Oh, Yoong? Tentu. Urusanmu sudah selesai?"

Min Yoongi tersenyum samar, nyaris tak tampak. Mengangguk kecil mengiyakan kemudian. Lantas, pria tersebut meletakkan sesuatu yang ia bawa bersamanya melewati pintu kamar Kano di hadapanku lalu berujar pelan, "Makanlah. Ini sudah nyaris pukul dua."

Aku memandang isi kotak ukuran lumayan besar yang Yoongi bawa. Menghadirkan potongan-potongan ayam serta aroma gurih asin menggoda. Hah, pria ini. Bahkan menawarkan makan siang pada seorang perempuan pun bisa luar biasa kaku begini? Padahal, aku hanya Song Jian yang bertengkar dengannya sampai nyaris berteriak kuat sekali hanya karena tidak rapi dalam melipat baju Kano beberapa minggu lalu.

"Hey, kau dengar aku bukan? Jangan bilang otak idiotmu itu kembali disaat seperti ini."

Aku berdecih, hampir-hampir mengeluarkan seluruh persediaan makian yang terkumpul sepanjang hidup, jika saja tak merasakan seseorang menangkup wajahku hangat sembari berkata, "Ayo, akan kutemani Noona menghabiskan ayam-ayam lezat ini."

_____

Ada yang tetap tidak bisa Jian lakukan walau segala nasihat tentang melupakan dan melanjutkan hidup telah ia terima ribuan kali, sejak kembali dari pelarian dengan dalih bekerja, mendedikasikan waktunya demi membunuh sekian perasaan sepi dan bersalah. Perempuan tersebut hanya mampu tersenyum, mengangguk, meyakinkan orang-orang bahwa dia baik-baik saja dan akan hidup dengan bahagia.

Jian ingat perkataan Taehyung padanya beberapa waktu setelah perempuan itu kembali dari Paris. Jian ingat apa yang Taehyung lakukan untuknya tanpa ia minta melalui tutur bahkan tangis. Taehyung ada di sana untuknya, mendengarkan, tidak menyela. Mencoba memahami Jian yang retak sebab telak oleh kenyataan. "Selain cinta," kata Taehyung, "janji adalah salah satu dari sekian harapan seseorang untuk tetap bertahan hidup."

"Ya, dan aku berjanji pada Jungkook untuk tetap hidup dan bahagia."

"Tepat."

"Kau pikir itu saja alasanku bertahan sampai sekarang?"

"Memangnya apa lagi? Aku memahamimu, Jian. Jangan sok kuat begitu, lah. Kau menangis sedetik setelah aku berbalik badan, menutup pintu selangkah setelah aku meninggalkan."

Jian tertawa, terdengar seolah tercekik dan kehabisan napas. Perempuan itu menggeleng kecil, sebelum kemudian berujar lagi, "Ada banyak sekali konsep cinta di dunia ini, dan mencintai diri sendiri sebelum mati-matian mencurahkan cinta terhadap orang lain adalah satu dari sekian konsep yang amat kusukai."

"Jadi, apa alasanmu bertahan?"

"Karena aku ingin."

"Itu saja?"

"Karena mama, Kano, Yoongi, kau..." Jian menghela napas panjang, menatap lurus sebelum tersenyum kecil, "Setidaknya aku punya kalian ketika harapan seolah berpendar samar dan nyaris redup tanpa sisa."

Taehyung menatap tak percaya, menyunggingkan satu senyum keraguan lantas berkata pelan, nyaris tak terdengar, "Apa itu artinya, Jungkook perlahan bisa kau letakkan di belakang?"

Dan Jian hanya dapat mengedip dua kali sebelum buru-buru meraih gelas tehnya yang mulai beranjak dingin. Belum ada jawaban untuk tanya semacam itu. Belum ada kepastian yang dapat Jian berikan atas tanya tentang Jeon Jungkook.

Sebab, berulang kali, kala perempuan tersebut berpikir dapat berdamai dengan masa lalu dan bayang-bayang pria itu, kenangan dimensi lampau seketika menghantam kepalanya, menyebabkan pening, nyaris menggelapkan pandang.

Yang Jian sadari, sekeras apapun ia memaksa meletakkan memori sejenis itu disudut paling terpencil di dasar hati yang kelabu, memori tersebut akan dengan sangat kurang ajar, mengekspansi bagian lain hingga nyaris rusak dan hancur. Sudah cukup buruk bertahan dengan luka di sana sini tanpa tahu benda macam apa yang mampu mengobati. Jian ingin berhenti melawan arus.

Lantas, dengan seluruh kesadaran yang tersisa, perempuan tersebut membangun kepercayaan lain agar mampu melawan sekian kemungkinan tentang mengalah pada hidup dan mulai menata banyak kesiapan baru; masa depan.

Seperti kalimat yang pernah dikatakan Yoongi, "Kau punya tanggung jawab untuk melanjutkan hidup, mengambil banyak kesempatan, memenangkan sekian peran. Lalu, setelah segalanya membaik, saat kau mulai mampu berhenti menyalahkan keadaan dan menyesali kepergian, kau akan memandang banyak hal dengan syukur yang lebih dari sekedar ucapan. Sesederhana itu, Jian."

_____

Teruntuk Arcas,

Dengan Metanoia dan POV Taehyung yang akan tiba Januari nanti, kupersembahkan Song Jian dengan keadaan paling seadanya dan jauh dari kata istimewa.

Sekali lagi, tulisan ini sama sekali tidak diikutsertakan dalam Giveaway Eunoia, ya. Ini murni diposting demi kepentingan pelegaan hati penulis saja, hahaha.

Jadi, untuk kalian yang tengah berjuang demi Eunoia dan One Summer to Stay juga, bahkan. Semangat. Semoga nasib baik berada di pihakmu.


Sincerely,
AlwaySonia

(Siti Sonia Aseka)
Palembang, 31 Desember 2018

Note:
Summer Maze sudah pernah saya Posting di Wattpad dengan judul Eunoia - Summer Maze di akun @AlwaySonia

Versi di Blog sudah mengalami penambahan part dan jelas lebih panjang (lebih dari 2000 kata) ketimbang Wattpad yang hanya sekitar 1500-an kata.

Merespons Fatwa HARAM Vasektomi yang dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia

Sepekan lalu, MUI melalui akun Instagram resminya, merilis tanggapan mengenai kebijakan yang diberlakukan oleh Gubernur Jawa Barat, yaitu: m...