Blogger Perempuan

Blogger Perempuan
Kunjungi laman Blogger Perempuan dan baca tulisan saya melalui link berikut

Senin, 22 Maret 2021

Defence Mechanism

 

Sosok itu masih sama gelap dan muram, lebih kelam dari malam… persis seperti yang terakhir kali kuingat.


Terkadang, ia menyeringai, menatap lapar, kemudian di waktu lain hanya akan duduk diam di tepian jendela. Memandang langit biru, atau hujan yang betah turun menghantam rumpun melati di pekarangan belakang rumah.


Ia biasa berkeliling, mengamati bingkai-bingkai foto, ikut mendengar lagu-lagu sendu, ada di sampingku membaca ratusan email yang masuk setiap hari.


Saat aku nyaris lelap, dibuai kantuk, ia akan duduk termenung di bibir ranjang, melamun jauh, ikut menyelinap ke balik selimut sembari melantunkan dosa-dosa, angkara yang terpendam, kekecewaan, rasa sakit, hingga luka yang kukira sudah lama mengering. Ia mendikte satu per satu, tanpa kecuali, berulang-ulang, hingga menjelma lullaby yang kerap kunanti sebagai alat menjemput potongan mimpi.


"Menyebalkan bukan?" ujarnya, kalem.


"Siapa?" aku mendongak dari gawai yang kutekuni. Mendapati ia menatap dengan sorot mengejek. "Kau?" aku memandang sinis, lantas menghela napas berat.


Tetapi, alih-alih tersinggung, sosok itu malah terbahak keras, menyeka air mata yang timbul di pelupuk, lalu menyambar. "Yang benar saja," ia diam, aku pun sama. Detak jam dinding menggema di sepenjuru ruangan. Pukul delapan pagi, dan aku belum juga beranjak demi menelan sarapan.


"Kau membencinya?" si kelam menyambung lagi. Masih dengan sorot ingin tahu.


"Siapa, sih?" aku menggertak, jengah.


"Oh, ayolah," ia tersenyum timpang, menaikkan sebelah alis demi memojokkan lawan bicara. "Aku bisa merasakan jantungmu menggila di salam sana. Kau pasti membenci orang itu setengah mati."


Aku tertegun, mendadak lelah.

Kebencian, ya?


Dulu, aku ingat ibu pernah berkata, perasaan tak suka hanya akan menghancurkanmu tanpa sisa, seperti lilin yang membakar dirinya sendiri, serupa. Terang, tak tersentuh, namun mudah padam, mudah… lenyap.


"Wow," sosok tersebut bersiul lirih, tepat di telingaku. "Lihat, orang ini benar-benar tidak sopan. Coba tebak, manusia tidak beradab harusnya diletakkan di mana?"


Aku mengepalkan tangan, mengakibatkan buku jari memutih, menancapkan kuku kuat-kuat hingga menghasilkan bercak darah samar.


Di mana?

Di mana?


Kepalaku pening. Kamarku mendadak gelap. Hujan di luar berubah badai besar yang mendobrak kaca jendela, menerbangkan gorden, membuat ranting pohon mengetuk kedinginan sekaligus kepayahan. Beku.


"Kau harus berhenti berpura-pura." sosok hitam tersebut berjalan pelan, mengitari meja, melompat-lompat riang sesekali. Senyumnya masih merekah sempurna. "Kau jelas tidak baik-baik saja. Orang itu menyakiti hatimu, melukai perasaanmu, berdansa di atas lantai yang terbuat dari sisa-sisa niat baikmu. Kau… sekarat."


Ia berhenti pada satu garis lurus demi menatapku yang bernapas tersendat-sendat.


"Menyedihkan." ia mendengus, keji. "Menjadi orang baik, katamu?" ada tawa sumbang mengudara setelah pertanyaan tersebut masuk secara tajam, melubangi akal sehat. "Dengar, dunia adalah tempat paling menjijikkan yang pernah kutemui. Kau harus paham. Bayi merah nan manis sekali pun punya tendensi menjadi penjahat dua detik setelah ia dilahirkan. Dan kau yang sudah muak menelan kekejaman mereka harusnya tahu, adalah mustahil sekaligus tidak berguna berjuang menjadi malaikat dan berharap dihargai."


Dihargai, katanya?

Aku menggeleng, menepis.


"Kau… menipu dirimu sendiri." sosok yang sudah lama diam kecuali hadir menemani dengan bait-bait lullaby terlihat diliputi angkara dan berantakan.


Memang siapa yang tidak?

Aku juga sama… berantakan. Tidak ada yang baik-baik saja di sini. Tidak pernah ada.


Ingatanku semerta melesat pada pembicaraan diam-diam, ejekan di belakang punggung, penghakiman, tatapan merendahkan, rumor, hingga sabotase yang dulu kerap tandang… masih, masih membayang jelas dan siap menerkam.


"Kau bahkan tak nyata," aku mengubah posisi duduk yang mulai tak nyaman. "Bagaimana bisa kau menyimpulkan keadaanku seolah lebih tahu segalanya ketimbang diriku sendiri?"


"Tidak nyata bukan berarti tak ada." ia menepis. Berjalan mendekati jendela yang terkatup. "Omong-omong, cuacanya cerah sekali."


Aku mengernyit, ngeri. Petir menyambar beberapa sekon kemudian, lantas membuat telapak di bawah sana terlonjak, nyaris memacu langkah bersembunyi di balik tumpukan bantal.


Kami diam untuk beberapa saat sebelum ia kembali berceloteh.


"Menangislah saat kau berduka, tertawalah bila kau bahagia, marahlah ketika keadaan mendesak dan menekanmu, ungkapkan isi hatimu, jangan hanya diam. Berhenti jadi samsak tinju yang siap dipukuli oleh keegoisan orang lain."


Ego, kemarahan.

Aku menemukan diriku mengerut takut. Letih berusaha banyak hanya demi mendapati sejumput pengakuan, getir menyadari bahwa tak pernah ada tempat yang sudi menampung sisi gelapku sementara semua berebut menjadikanku alat hanya karena aku terlihat sempurna.


Dunia ini… menyeramkan. Dan manusia yang menghuninya bahkan melampaui ekspektasiku tentang neraka.


"Aku akan mengatakan sesuatu," katanya, serak, namun tajam. "Aku tidak hadir untuk menyaksikanmu mati pelan-pelan. Aku tidak pula datang untuk membantu. Aku bukan kedua hal itu. Aku adalah apa yang kau tumbuhkan. Kebencian, dendam, amarah, tekad. Aku harusnya menjadi pohon berdaun lebat yang mampu menaungimu."


"Lalu, kenapa kau-"


"Maukah kau mendengarku?" ia memotong, terdengar sebal. "Aku baru saja akan menjadi makhluk bijak, tahu?"


Aku tersenyum tipis, tipis sekali sampai kupikir ia tak dapat menangkapnya.


"Baik, lanjutkan."


"Tetapi, aku malah tumbuh dengan jutaan rasa sakit tiada akhir. Hanya rasa sakit saja. Sederhananya, alih-alih menaungimu, aku malah menjelma sekadar ketakutan dan rasa cemas. Aku tidak bisa menjadi tameng untukmu."


Penjelasan tersebut membeberkan semuanya, bukankah?


"Apa boleh buat?" ia mencibir, "Lain kali, cobalah bawakan semangkuk keberanian yang dibumbui hasrat agar aku bisa bergerak. Agar aku setidaknya berguna. Bukan malah terkurung di sini, menyaksikan kau membentuk koping tak sehat agar dicintai semua orang."


Dicintai dan semua orang. Kata-kata tersebur agaknya tidak cocok berada dalam satu kalimat yang sama, bukan?


"Diperalat, dimanfaatkan, kemudian dibuang saat dirasa tak lagi berharga. Kau bukan sampah. Bukan rongsokan."


"Tetapi memang apa lagi yang bisa kulakukan?" aku mendorong kursi, meletakkan gawai yang menjadi sumber segala masalah ke atas meja belajar, lalu menghampiri ranjang dan rebah begitu saja.


"Aku tidak bisa mengendalikan apa yang orang-orang pikirkan. Aku hanya bisa mengendalikan diriku sendiri. Bersiap dan bersedia menjadi banyak hal sebelum dibuat ibarat bukan apa-apa. Segala sesuatu punya limit."


"Jadi, kau menerimanya? Apa yang kau utarakan tadi secara tersirat adalah sama seperti; untuk apa makan bila akhirnya mati."


Benar. Benar sekali.

Aku menemukan suara berderak patah dari rongga dada. Pemikiran baru terangkut naik, kedalaman samudera tempat setiap kenangan buruk tenggelam utuh bersama bahtera penyelamat agaknya mulai kuragukan kembali.


Benarkah aku sudah menguburnya dengan rapi? Benarkah aku telah benar-benar lupa demi sepercik pengampunan? Benarkah aku sudah benar-benar naik ke atas sekoci dan mencari daratan baru, menyambut jalur berbeda, bertemu peta yang lain, atau masih terapung sampai kehilangan arah, terombang-ambing, nelangsa dan basah kuyup?


Tidak.

Tidak… tentu saja, tidak, kan?


"Tidakkah kau mengerti? Aku adalah kau." sosok itu menatap dingin, kelewat dingin. Mengalahkan rasa beku akibat hujan, membuat lupa pada keras ranting pohon yang mengetuk kaca jendela, membuat abai pada lantai yang berhasil menjadikan telapak menggigil dan lelah.


"Denganku, kau takkan lagi tertindas. Bersamaku, akan kita temukan cara agar manusia berhenti bersikap superior dan mati-matian menyala terang hanya demi membakar dan menghanguskan. Berdua, selalu ada cara yang benar dan segala rasa sakit ini perlahan musnah. Hanya bila kau mengizinkanku tetap tinggal."


Perasaanku berubah sulit. Ada hembusan angin kencang berputar-putar di sepenjuru ruangan. Aneh. Padahal, jendela tertutup rapat. Meski hujan berkelebat bak badai di luar sana, kehangatan absolut harusnya tak lekang apalagi pudar. Kamar ini terisolir. Diriku terisolir.


Sebuah tawaran. Datang tepat ketika aku nyaris pecah berserakan. Apa lagi yang kutunggu? Sebab saat yang sempurna untuk mewujudkan rencana memang tak pernah ada. Cepat atau lambat, semua akan kembali bergerak di luar kendali, aku akan habis dibawa gelombang massa dan hanyut oleh keserakahan.


Dan apa katanya tadi?

Rasa sakit akan musnah?


Benarkah?


"Bagaimana jika aku menolak?"


"Well," ia memandang rumit, bola matanya yang pekat mengamati lekat. Ketenangan ganjil tersebut membuatku bergidik pada beberapa detik kelewat singkat.


"Petarung yang tangkas dengan senang hati mati tanpa penyesalan. Sementara pecundang dalam arena lebih memilih hidup bersama pelarian panjang, tersisih, lalu dilupakan."


"Aku bukan keduanya."


"Maka, pilih salah satu."


Ia tersenyum, aku mendadak didera kantuk. Mataku berat, air mataku turun pelan-pelan. Tergugu dan terantuk realita. Ini bukan mimpi. Aku tidak sedang bermimpi buruk. Memori itu nyata, masa lalu yang sempat kukira telah lesap ternyata masih menggelora dan berkobar. Perasaan ini, keadaan ini, bukanlah bayang-bayang semata.


"Tetap tinggal. Bertumbuhlah." putusku kemudian. Langit-langit kamar semerta redup. Air mataku membasahi bantal dan mengaburkan pelupuk.


"Bila dengan demikian aku bisa menjemput hakku dan berjalan di atas setapak lurus menuju sebenar-benar bahagia, maka, mengapa tidak?"




Palembang, 22 Maret 2021

Siti Sonia Aseka


Rabu, 10 Maret 2021

C&N Ep.01 Kebal Udara Dingin!

 

Menjelma musim dingin di hadapan manusia yang mudah beradaptasi, atau parahnya memang hidup di area kutub, tidak akan berdampak apa-apa. Kecuali sekadar mengupgrade efek samping seperti pusing, mual, hidung tersumbat, meriang, dan gatal-gatal menjadi berjuta kali lipat lebih ew.


Itulah tepatnya yang dirasakan oleh Calla sekarang.


"Wah, hujan."


Calla tidak perlu repot menoleh atau merespon pernyataan tidak penting tersebut dengan basa-basi-busuk. Malah dengan secepat kilat tanpa banyak berpikir, ia menempelkan ponsel ke telinga, pura-pura sedang berada dalam panggilan, menghindari obrolan dengan makhluk yang kini hanya berjarak beberapa senti dari tempat si perempuan berdiri.


Kenapa nggak pergi-pergi juga ini orang? Setelah lebih tiga menit berada dalam situasi tidak diharapkan, benak Calla sibuk memprotes, dan kepalanya mulai kehabisan ide.


"Sepertinya ponsel kamu kehabisan daya, deh. Soalnya saya kirim pesan baru saja, cuma centang satu."


Haha…

Hah! Calla terperanjat. Malu, kesal, marah. Kenapa pula diperjelas sih, kan ketahuan kalau sedang bohong! Peka dong kalau orang sedang tidak mau diganggu!


Dengan anggun, Calla menurunkan ponselnya. Menyimpan benda tersebut ke dalam saku jaket, lalu mendengus. Terang-terangan cemberut.


"Kenapa belum pulang?"


Ya menurut nganaaa????


Pelataran gedung enam belas lantai tempat Calla bekerja memang sedang ramai-ramainya. Hujan deras membuat para pegawai terjebak di sana sembari menunggu jemputan.


"Bapak nggak lihat?" Calla menunjuk genangan di hadapan mereka dengan dagu. Sarkas. "Mana ada ojek online mau terima order."


"Oooh… kamu naik ojek? Bakal lama, tuh."


Saya tahu! Rutuk Calla, emosi.


"Bareng saya saja."


"Duh, nggak deh, pak." tolak Calla, sopan. Ia benci jadi bahan ghibah saat makan siang kalau ketahuan pergi dan pulang kantor bareng atasan.


Ya, dengan sangat disesalkan, pagi tadi dia tidak punya pilihan dan sedang buru-buru. Bangun kesiangan karena semalam mati-matian menyelesaikan beberapa series film, ditambah lift apartementnya rusak, lalu aplikasi ojek online yang biasa ia pakai malah minta diperbarui dan butuh waktu lumayan lama.


Sebuah mobil pajero putih melintas tepat saat Calla berlarian mengejar taksi. Pak Nathan, membuka kaca jendela mobil dan memberi tumpangan, gratis, nyaman, dan aman tentu saja. Sekali ini saja, tidak masalah, batin Calla. Bisalah termaafkan. Potong gaji karena terlambat juga tidak terdengat bagus. Pengeluaran tengah banyak-banyaknya.


"Lho, kenapa? Saya tahu letak apartement kamu, tadi kan saya yang antar." Nathan membawa Calla kembali ke waktu saat ini dari kubangan ingatan yang berusaha si perempuan lupakan seharian.


Nggak usah diperjelas, bos!


Calla menggeleng lagi. Kali ini lebih tegas.


"Tidak, pak. Terima kasih."


"Ya sudah, kalau begitu saya tungguin di sini. Siapa tahu kamu berubah pikiran."


Calla melotot. Ia menatap atasannya dengan sepasang mata diisi badai. Ini pak Nathan kesambet apa, sih?


"Nggak perlu, pak. Nggak enak juga dilihat orang." matanya mengedar gelisah. Sedari tadi sudah banyak manusia melirik dan mengamati, penasaran.


"Saya nggak peduli apa kata orang."


Tapi saya peduli!


"Pak," Calla menghela napas, "saya bisa pulang sendiri."


"Ya iya, silakan. Saya kan cuma di sini nungguin kamu sampai dijemput. Clear, kan?"


Lha, kok malah marah-marah?


"Lagian, gimana bisa kamu pesan ojek kalau ponsel kamu saja mati begitu."


WAH BENAR-BENAR!


"Kan ada bapak, saya pinjam saja ponselnya."


"Kalau saya nggak mau?"


Dahi Calla mengernyit. Lalu apa gunanya Anda di sini? Batinnya, nyeyel.


"Ya sudah, saya pinjam ponsel yang lain saja."


Mata Calla mulai menatap satu per satu pegawai di bawah naungan gedung. Ia harap-harap cemas. Berharap seseorang yang cukup ia kenal muncul dan menyelamatkan dirinya dari episode hari buruk. Diikuti begini oleh atasan mulai terasa tidak benar dan membahayakan citranya.


"Saya dari tadi nawarin kamu pulang bareng, lho. Lebih simple ketimbang ke sana-sini demi pesan ojek."


"Saya nggak mau. Kan sudah saya bilang."


Debat begini saja terus sampai subuh!


"Ampun, deh." Nathan mengerang frustasi.


"Kenapa juga bapak merepotkan diri sendiri? Pulang saja, pak. Sudah hampir malam. Besok harus ngantor pagi-pagi, kan?"


"Saya nggak mau. Kan sudah saya bilang."


Lah????

Calla memijat dahinya.


Petir terdengar berdentum saat Calla hendak kembali membuka mulut. Ia mulai kedinginan dan perut meronta keroncongan. Bodohnya tadi dengan sok kuat melewatkan makan siang.


"Ya sudah, ayo."


"Ayo apa, nih?"


"Pulang."


Calla mengalah. Tangannya mempersilakan sang bos berjalan lebih dulu.


"Mobil saya di basement."


"Saya tahu." balas Calla, bersungut-sungut.


"Kamu nggak pernah dengar rumor kalau di basement itu…" alis Nathan naik turun, usil.


"Pak, stop!" Calla mengeratkan jaketnya, manyun. "Jangan cerita yang seram-seram, dong. Ini Kamis!"


"Terus kenapa kalau Kamis?"


"Malam Jumat, pak!"


"Ya kenapa kalau malam Jumat?"


Calla menyipitkan mata, "Pokoknya malam Jumat pamali dengar cerita horror."


"Oh gitu," mereka sudah tiba di basement saat lift berdenting.


"Kamu makanya jalan di samping saya, dong. Jangan di belakang, nanti ditarik…"


"PAK!" Calla buru-buru mensejajarkan langkahnya dengan Nathan, meringis kecil, yang hanya dibalas sebuah tawa keras-keras.


Sial! Maki Calla dalam hati.

Dia kalah lagi.


Palembang, 9 Maret 2021

Siti Sonia Aseka


Sabtu, 06 Maret 2021

A Love Letter: Masih Bersama Ibu


Dulu, beberapa kali aku bertanya pada ibu. "Bu, kenapa orang itu tampak tidak menyukaiku?"

Ibu tidak pernah menjawab, atau sebenarnya pernah, tetapi aku lupa. Dan aku faktanya tak pula keberatan. Hal-hal tersebut secara ajaib tidak menggores hatiku, dan sama sekali tak berbekas sebab yang kuingat hanya sosok ibu -tersenyum, setia.


Lantas, aku sampai pada satu konklusi sederhana, "Asal ibu tetap menatapku penuh cinta, aku tak peduli bahkan bila dibenci oleh seisi dunia."


Saat ibu menangkap basah aku menjadi murung selepas bertengkar dengan temanku, Ibu memang tidak serta merta menghibur dengan kalimat-kalimat lembut. Ibu membiarkanku larut dalam perasaan dan memutuskan harus bagaimana dengan caraku.


Kemudian, aku tiba pada usia awal dua puluh. Masih bersama dengan ibu, masih menemukannya di setiap sudut rumah, masih kadang merengek dan meminta ini-itu; "Bu, temani aku tidur malam ini.", "Bu, ayo kita masak makanan kesukaanku!", "Bu, aku akan mencuci piringnya selepas ashar saja. Jangan marahi aku, ya."


Ibu paling benci bila lipatan dagunya kusentuh. Geli, katanya. Tapi aku masih tetap melakukannya. Aku akan menyentuh lipatan di bawah dagu ibu kapan pun ia kelihatan sibuk dengan ponsel dan sejenak mengabaikanku.


Aku nyaris seperempat abad dan masih bersama ibu. Mengeluh, menangis, rewel seperti bayi, tapi ibu tetap di sampingku. Aku bertanya-tanya, pernahkah ibu didera jenuh? Apakah ibu pernah menganggap aku menyebalkan seperti orang lain kala memutuskan berhenti berteman denganku?


Tetapi, aku masih bersama ibu, menemukannya setiap pagi, makan malam dengannya di meja makan, bernyanyi tembang lawas bersamanya sampai kehabisan suara. Aku masih bisa menggenggam tangan ibu yang mulai menua.


Ibu masih ada bersamaku. Rasanya menyenangkan. Rasanya aku selalu tahu kenapa aku harus pulang; sebab ibu tidak beranjak, ibu tak kemana-mana, ibu menungguku tiba dan rebah di sisinya.


Satu-dua kali, kupikir keluasan dunia menggodaku untuk berkelana jauh meninggalkan rumah. Berjalan menyusuri daratan, mengarungi lautan, terbang menaklukkan cakrawala, menyapa ujung horizon bila kuasa. Tetapi, hanya beberapa langkah melewati pintu, aku lantas memikirkan kemungkinan terburuk, "Bagaimana bila ibu takkan ada di mana pun saat aku kembali? Bagaimana bila aku kehilangan  semestaku saat sibuk mengejar dunia yang lain? Bagaimana bila aku akan pecah berantakan, tak terselamatkan ketika menghadapi fakta bahwa aku telah berakhir sendiri?"


Ibu adalah cinta sejati. Si dermawan baik hati dalam hal afeksi, saudagar kaya raya tak kenal pamrih.


Ibu adalah syair-syair terindah yang hadir dari langit. Malaikat tak bersayap dengan dekap paling hangat, paling nyaman. Kata-katanya ialah melodi terbaik dari rentang selamanya.


Bu, bahkan selepas kehidupan berakhir, mari berjanji untuk bertemu lagi. Akan kita kenang kisah-kisah bahagia, saling memeluk erat di bawah rindang pohon-pohon surga, disaksikan malaikat berbaris rapi, didoakan tak putus-putus oleh sekumpulan bidadari berwajah menawan.


Ibu masih di sini, tak beranjak meski seinchi.



Palembang, 6 Maret 2021

Siti Sonia Aseka


Rabu, 24 Februari 2021

Perempuan yang Membenci

 

Benci adalah gersang, ujar si perempuan, suatu hari. Kalau-kalau waktu mengizinkan yang pernah luka-melukai bertemu lagi, barangkali… ada sepotong caci maki harus mengudara, membumi, di antara bilah kering bibir milik hati yang tersakiti.


Maaf adalah mitos, si perempuan tertawa hambar, "Pengampunan tidak lahir dari perasaan pasrah seolah tak miliki pilihan lain. Karena itu, aku memilih tak memberi maklum lalu bertingkah seolah memang tak pernah dengar nama-nama mereka; penuh duri. Sedang lukaku belum jua sembuh, masih basah dan pedih."


Biasanya, pada Ahad pagi, ia langkahkan kaki berlari sejauh dua kilometer. Mengitari jalan-jalan sepi, cenderung gelap. Menemukan pemilik bengkel-bengkel kecil mendorong alat berat sebagai pengisi angin ban kendaraan. Tak lupa, pohon-pohon yang sisa sedikit menggugurkan daun. Petugas kebersihan yang baru tiba akan menyapu sampai tandas, meski tak sampai satu jam setelah mereka merasa usai, daun-daun baru akan gugur dan menyapa aspal lagi. Mampir sejenak, sebelum terbawa angin, tergilas laju sepeda motor, atau malah tersangkut pada atap-atap rumah.

Pada Ahad sore, selepas bangun tidur dan melewatkan makan siang yang kerap buru-buru, ia menghabiskan waktu menonton film-film lama. Bukan romansa, sebab genre tersebut adalah jenis yang paling ia hindari. Membiarkan dirinya digulung selimut kelabu, sengaja tak menyalakan lampu, menutup gorden, kemudian menemukan ketakutan tentang zombie dan kisah-kisah menyeramkan menghantui kepalanya hingga Senin pagi.


Ia akan bangun dengan mata bengkak, agak sayu sebab tak cukup lelap semalaman. Lantas pergi bekerja. Menghabiskan lusinan kesempatan entah apa di balik kubikel kecil dan layar maya yang telah menjadi kawan sejak bertahun silam.


Netraku selalu dipenuhi badai, ungkap si perempuan, "untungnya, kepala dan hatiku cukup pintar untuk tetap sehat."


Belakangan, ia mencintai teh citrus ketimbang kamomil, juga sempat mencoba teh hijau meski memutuskan mundur pada gelas kedua. Katanya, harum dan pahit citrus lebih terasa menyenangkan, meski kelembutan kamomil masih terus membayang. Ia tidak keberatan mengakrabi teh hijau pada hujan lebat Sabtu malam, walau lebih suka kopi susu pekat yang membuat matanya segar lebih lama.


Ia masih kerap bertemu teman-teman sekolah, duduk di kafe berjam-jam, mengobrol dengan mereka seolah takkan ada kesempatan selepas hari berganti. Hanya sesekali berpapasan dengan teman-teman kuliah di mall, atau saat ia duduk merenung di restoran dua puluh empat jam, memesan junk food, walau setia memusuhi cola. Tersenyum, menyapa pendek, lalu sibuk sendiri-sendiri.


Kadang, ia juga menyempatkan berjalan-jalan menyaksikan galeri seni, berdiri di hadapan bingkai-bingkai lukisan, meneteskan air mata tanpa tahu sebabnya, menyusuri setapak untuk pulang ke rumah setelah mendapat kesempatan membeli makan malam. Atau ketika bookfair singgah di kotanya, mengizinkan ia kalap dengan membeli lebih banyak buku sebagai persediaan menemani waktu-waktu sepi. Untuk buku, ia tak pernah membenci. Karena manusia adalah entitas paling cerdas dalam membangun karakter sempurna tokoh fiksi.


Benci adalah gugur daun pada dahan-dahan kurus pohon jati, ujar si perempuan, suatu hari. Kalau-kalau waktu mengizinkan yang sempat luka-melukai bertemu lagi, barangkali… ada sepotong ragu harus melebur dengan bumi, di antara celah resah milik hati yang tersakiti.


Palembang, 24 Februari 2021

Siti Sonia Aseka


Note:

-Sedang malas membuka Canva

-Tengah tak mampu menahan diri untuk memposting esok hari

Selasa, 16 Februari 2021

Bergamot Essence

 

BERGAMOT ESSENCE

 

"Kapan terakhir kali kamu menangis?"

 

Seseorang di depanku memulai sesi 'diskusi' kami dengan satu pertanyaan sederhana, "Kapan terakhir kali kamu menangis?"

 

Well, tidak sulit.

 

"Bulan lalu."

 

"Kenapa?"

 

"Karena sebuah fiksi menyedihkan di Wattpad dan karakternya menyebalkan setengah mati."

 

Dia terlihat tersenyum geli, sementara aku mempersiapkan diri. Pertanyaan yang dilontarkan biasanya akan semakin rumit. Meski demikian, 'temanku' ini selalu tahu, jawabannya tersedia; hanya mulutku seringkali kelu hingga diam jadi niscaya.

 

"Selain itu?"

 

Aku memiringkan kepala. Menatap langit-langit ruangannya yang berwarna putih gading, mengolah sebuah pola cepat untuk menjemput ingatan. Pandangan kami lalu bertemu dalam satu garis lurus.

 

"Tidak ada."

 

"Yakin?"

 

Aku mengangguk pasti. Membenahi posisi duduk yang mulai tak nyaman, menyesap secangkir teh hangat yang uapnya mengangkasa pelan-pelan.

 

"Kalau begitu, kapan terakhir kali kamu menangis karena seseorang… yang nyata?"

 

Aku menghentikan ketukan tanganku pada permukaan meja kaca, mengerutkan dahi.

 

'Karena seseorang…'

'Kapan?'

 

"Tidak tahu."

 

"Kamu tahu."

 

"Lupa."

 

Satu detik, dua detik…

 

Jemariku saling meremat di pangkuan. Keringat dingin mulai muncul di pelipis. 'Temanku' lagi-lagi tersenyum, ganjil. Aroma bergamot dalam ruangan ini kian pekat ketika jemari kakiku yang terlepas dari sepasang sandal menyentuh dinginnya lantai.

 

"Kamu tahu aturannya, bukan?" iya berdiri tanpa suara, beranjak menuju sebuah dispenser di sudut ruangan dan memulai ritual; membuat kopi hitam tanpa gula yang anehnya tak pernah muak ia telan.

 

"Kita tidak akan bergerak ke mana pun jika tidak lagi memedulikan kejujuran. Kita sudah sepakat, bukan?" Ia berbalik tiba-tiba, menatapku lembut meski nada suaranya berkebalikan.

 

Aku masih bungkam. Tetapi sesaat setelah benang kusut kembali menghantam dan dadaku seolah diremat kuat, sesak, kutemui sekotak tissue didorong mendekat.

 

"Air matamu." katanya, pendek.

 

Buru-buru kutarik sepasang, lantas menghela napas cukup keras meski tak terisak.

 

"Ada seseorang," aku mulai bicara. "dia mengungkit kapabilitasku, main-main dengan prinsipku, menertawakan keberadaanku, dan menciptakan lelucon tentang… diriku."

 

"Temanmu?"

 

"Ya."

 

"Berapa lama kalian saling mengenal?"

 

"Dua tahun? Entahlah, aku tidak yakin."

 

"Apa kalimat terakhir yang dia katakan padamu?"

 

"Kami tidak seharusnya saling mengenal. Dia… dia bilang, itu bagian dari salah satu kesialan hidup. Bagian yang sayangnya besar."

 

"Lalu?"

 

"He thinks that… I'm a difficult person."

 

Suara ketikan pada keyboard laptop di depan sana masih terdengar. Aku menyeruput tehku lagi. Sudah tak sehangat pertama kali cangkir mampir di hadapan, namun aku masih tetap memerlukan sesuatu untuk melegakan kerongkongan.

 

"Lalu, apa yang kamu pikirkan tentangnya?"

 

"Orang baik namun jauh dari kata bijaksana."

 

"Begitu?"

 

Aku mengangguk. 'Temanku' menghembuskan napas, jemarinya tetap menari dan pandangan itu makin serius seolah tengah membabat habis segala kemungkinan buruk.

 

"Orang baik tidak akan menggores hati siapa pun dengan sengaja."

 

Aku menunduk, sedikit mengangguk sebab sepakat.

 

"Tetapi dia memang orang baik."

 

"Beri aku satu alasan."

 

"Dia pendengar yang sabar."

 

"Then, why he kicked you out?"

 

"Mungkin… mungkin karena aku berbeda. Aku tidak pantas, tidak layak atas perlakuan manusiawinya. Dia berbuat menyenangkan pada semua orang, kecuali aku. Dia membantu banyak orang tanpa pamrih kecuali denganku. Dia… dia melalukan segala hal dengan sempurna dan tepat sasaran."

 

"He kicked you out."

 

"He did."

 

"Dan menurutmu, dia tetap orang baik?"

 

"Ya, aneh bukan?"

 

Kami saling pandang. Aku yakin sepasang netraku yang redup telah kembali diisi badai, sementara miliknya seperti biasa, kelabu, dihantui mendung. Ada pahit yang perlahan merangkak dan kusesap.

Sesi hari ini berakhir begitu saja dengan PR kecil, "Bisa bantu aku mengidentifikasi kembali makna baik dalam kepalamu? Kita bertemu lagi besok. Jaga kesehatanmu."

 

Mendadak, aku dihajar pening.

 

***

 

Bara masih duduk tegap sembari mengamati layar maya di hadapan, menampilkan data dan coretan-coretan kecil yang sengaja ia buat demi mempermudah peta pertanyaan, sampai konklusi setiap sesi terapi yang harus ia selesaikan setiap hari. Daftar nama, rincian masalah, hingga analisis terbaru yang kini tengah ia susun dan sebentar lagi rampung.

‘Teman ngobrol’ terakhirnya sore ini adalah Calla Lily, atau Bara sendiri kerap memanggilnya Calla, alih-alih Lily seperti yang si perempuan minta sejak awal pertemuan. Sesuai namanya, setangkai bunga musim panas; terlihat tanpa cacat, meski pada waktu-waktu tertentu, ia akan jatuh dan nyaris patah. Bara menghela napas, walau tak sampai dua detik kemudian gegas merapikan peralatan dan meja kerjanya, buru-buru pulang. Perkara Calla akan ia pikirkan lagi nanti. Sebab besok, mereka akan bertemu kembali, dan Bara butuh persiapan matang apabila ingin mendapat jawaban. Calla selalu tandang pada sesi konsultasi paling buruk sekali pun. Mata sembab, wajah pucat, atau saat ia berkata belum tidur berhari-hari dan lupa kapan menelan sesuatu. Perempuan tersebut tidak pernah ingkar, dan Bara bersyukur.

 

***

 

Bergamot, atau Citrus Bergamia merupakan antidepresan paling kuat karena memiliki sifat stimulan; merangsang lepasnya hormon serotonin dan endorfin yang memicu perasaan bahagia. Bergamot bisa menciptakan perasaan sukacita, meningkatkan kesegaran, dan energi. Secara tidak langsung juga mampu meningkatkan sirkulasi darah dalam tubuh. Spesifiknya, bergamot mampu menjadi obat alami untuk kegelisahan dan meredakan gelombang kecemasan.

Calla mendorong knop pintu berwarna putih bersih yang pelan-pelan akrab dengannya sejak tujuh bulan terakhir. Mengakrabi kembali aroma campuran kopi, kamomil, dan bergamot yang mau tak mau menghantam indera penciumannya tanpa tedeng aling.

Ia meletakkan ranselnya di atas sofa navy untuk kemudian mendudukkan diri di hadapan sebuah meja kayu tak seberapa panjang.

 

“Aku tidak ingin teh.” alis Calla menukik saat Bara meletakkan secangkir teh hangat seperti yang sudah-sudah. “Aku ingin kopi.”

 

Tak terlihat terkejut sama sekali, Bara menarik kembali teh hangat yang belum tersentuh tersebut dan mengganti dengan gelas kopi miliknya sendiri.

 

“Menikmati makan siangmu?” Bara tersenyum. Rautnya selalu ramah sekaligus sopan.

 

“Sedikit. Hari ini menunya seafood, aku tidak suka.”

 

Bara terkekeh, menemukan Calla menatapnya kesal, lalu mulai menyalakan kembali laptop. Membuka file yang ia perlukan, lalu menyesap teh untuk meredakan kering di kerongkongan.

 

“Jadi, sudah menemukan jawabannya?”

 

“Tentu.”

 

Kali ini, Calla melipat kedua tangan di atas meja, persis murid yang siap menerima pelajaran dari gurunya. Mata bulat yang agak cekung itu beberapa kali melempar tatap pada jendela kaca ditutupi gorden berwarna biru langit.

 

“Jadi?”

 

“Baik adalah saat sesuatu tidak pecah meski digenggam erat-erat.”

 

Bara kembali menatap Calla yang masih tenang di kursi. Ia mengangguk dua kali meski tak merasa jawaban tersebut memuaskannya.

 

“Maka seseorang yang baik adalah?”

 

“Orang baik itu tidak ada.” perempuan di hadapan Bara kini berkaca-kaca, menarik sekotak tissue yang hari ini sengaja diletakkan tepat beberapa jengkal dari tangannya. Bara memang pengertian.

 

Bara tertegun, ia masih belum mengetikkan apa pun. Layar maya di hadapannya masih kosong melompong. Mungkin, ia akan pilih mengesampingkan benda tersebut dan tetek bengek peralatan terapi lainnya hanya demi menyelami lekat-lekat isi kepala Calla, dan pertanyaan atau carut marut apa yang mungkin kerap perempuan tersebut simpan sebab tak juga menemukan jawaban.

Tetapi Bara tahu, akal sehatnya selalu berlawanan dengan kehendak hati yang terkadang lepas kendali. Ia di sini untuk membantu Calla dengan cara yang benar, dengan metode yang tepat, bukan malah menambah masalah. Calla juga bukannya butuh kepedulian menye-menye tanpa landasan. Perempuan itu perlu sembuh.

 

“Calla,” Bara mengedip beberapa kali. Bergerak lamban mematikan laptopnya dan menghabiskan secangkir teh hangat yang barangkali bisa membakar lidahnya. “Bisa kita cari tempat lain untuk bicara?” si lelaki tersenyum, meredakan detak tak beraturan sepanjang napasnya.

 

Alih-alih menjawab, Calla malah menatap tak mengerti.

 

“Kamu pernah bertanya aromaterapi apa yang kupakai di ruangan ini, kan?”

 

Calla mengangguk, kepalanya dimiringkan sejenak.

 

“Bergamot. Pernah dengar?”

“Tidak.”

 

“Nah, akan kujelaskan tentang hal satu itu.” Bara berdiri, menggulung lengan kemejanya hingga siku, lalu tersenyum. “Sekarang, kita perlu turun dan makan sesuatu.”

 

“Aku sudah-”

 

“Bukan seafood.” Bara meyakinkan, ia tidak boleh patah semangat dalam memaksa Calla mengembalikan akal sehatnya.

 

Lagipula, siapa yang bisa berpikir saat perut kosong, benar kan? Bara paham, ia harusnya tak melupakan fakta bahwa Calla kerap menghukum dirinya bila tak berhasil melakukan sesuatu sesuai target yang ia buat sendiri. Contohnya, mengabaikan rasa lapar, sengaja kelaparan, lalu sakit.

Bara harusnya ingat, pekerjaan rumah yang ia berikan, tidak boleh melampaui kemampuan pasien, sebab jika tidak, yang kembali padanya jelas bukan kabar baik.

 

“Ayo, Calla.”

 

***

Palembang, 16 Februari 2021

Siti Sonia Aseka

Merespons Fatwa HARAM Vasektomi yang dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia

Sepekan lalu, MUI melalui akun Instagram resminya, merilis tanggapan mengenai kebijakan yang diberlakukan oleh Gubernur Jawa Barat, yaitu: m...