Blogger Perempuan

Blogger Perempuan
Kunjungi laman Blogger Perempuan dan baca tulisan saya melalui link berikut

Jumat, 07 Juni 2019

Jadi Begini....

Terlalu banyak hal-hal kecil yang mengganjal di kepala saya belakangan ini. Tahu kerikil kan? Nah, itu barang kalau nyangkut satu saja di dalam sepatu yang kita pakai terus dibawa jalan, rasanya menyebalkan setengah mampus, betul? Baru satu. Bagaimana kalau banyak? Coba pikir, mungkin rasanya seperti bertahan dalam kondisi diserang nyamuk habis-habisan sampai kita memutuskan untuk memakai salah satu merk lotion anti nyamuk. Cukup terang?



So, sekarang, pertama mari kita bicara soal adab dulu, lah. Ini sebenarnya hal sepele banget-banget. Saking sepelenya mungkin sampai kita lupa bahwa ini juga salah satu toxic yang perlu dienyahkan dalam kehidupan sosial masyarakat. Apakah itu? Hilangnya rasa saling menghargai. Terlalu general, ya?

Oke, kita detail saja. Langsung masuk ke contoh. Ketika menjelang hari raya Idul Fitri kemarin misalnya. Ramai sekali pesan yang datang, berisi permintaan maaf dan mengajak untuk bersilaturahmi ke rumah, mengundang. Sederhana, tapi menyentuh luar biasa. Ada yang kalimatnya puitis nan manis, ada pula yang singkat, padat, tepat sasaran, langsung ke inti. Dari keduanya ini, sungguh saya menghargai semua tanpa pandang sisi negatif dan kemungkinan-kemungkinan lain. Apa coba?

"Ini pesan pasti broadcast message, nih. Tidak perlu dibalas, lah. Toh, dia juga tidak akan sadar kalau kita baca pesannya atau tidak. Kan dikirim serentak ke semua kontak."

Terus itu pesan dibaca saja. Dibiarkan menjadi centang biru dua. Padahal, belum tentu pesan yang dikirim memang berbentuk BC. Siapa tahu memang pesan tersebut dibuat formal karena rasa hormat si pengirim kepada sang penerima. Tapi, malah yang begitu disalah artikan. Sedih, ya?

Dan kalaupun BC, apa masalahnya?
Toh, ketika membuat pesan siaran, si pengirim pesan sudah pasti memilih nama-nama di kontak itu sekaligus membaca. Tidak mungkin asal saja. Jadi sudah jelas bahwa si pengirim tahu siapa saja penerima yang mendapatkan pesan darinya. Ya, BC juga tidak serendah itu, kawan-kawan.

Semuanya tergantung niat.
Walau ada yang bilang niat tidak selalu berawal bulat. Ya intinya itulah. Mulai sekarang, jangan suka mengabaikan perihal pesan yang sampai pada kita. Tinggikan penghargaan, rasa hormat, kepedulian. Coba kita yang dibegitukan orang. Emang enak? Yang jawab enak, semoga keras hatinya dilembutkan.



"Singkat amat ini pesan doi. Gak ikhlas apa yak?"

Duh, panjang-panjang juga tidak akan dibaca dengan khidmat, kan? Toh, tidak semua ketulusan dilihat dari panjang atau pendeknya pesan. Yang penting dia sudah menyampaikan. Tugas kita menerima, membaca, merespon dengan segala kerendahan hati.

"Pesan yang masuk terlalu banyak, tenggelam, tidak sempat diperiksa."

Ah, basi sekali alasan semacam itu.

Tidak mungkin manusia tidak memiliki waktu senggang sama sekali dalam hidupnya. Ketika luang itulah, coba sempatkan untuk mengscroll pesan sampai ke bawah, diperiksa, dibaca dan dibalas satu per satu. Tidak masalah terlambat, asal dibalas. Siapa tahu pengirim memang menunggu balasan kita. Respect semacam ini tidak akan membunuh kita, tidak akan menyakiti siapa-siapa, tidak akan tetiba membuat meriang, mual atau muntah. Malah justru membuat kita aman sebab memudahkan urusan orang lain. Inshaa Allah, di masa depan, urusan kita juga dimudahkan oleh Allah.

Jangan sampai kita dinilai buruk oleh orang lalu kita tidak siap dengan penilaian itu. Jangan sampai kita minta dihargai tapi kita sendiri juga tidak bisa menghargai orang lain. Jangan egois. Malu sama umur.

Perkara tidak ingin membalas, biar kita sendiri dan Allah yang tahu. Bermacam alasan. Bisa jadi karena benci, bisa jadi pula sebab gengsi. Banyak. Dan saya sungguh, menyimpan rasa salut dan cinta yang sama pada mereka yang di tengah waktu sibuknya malah sempat membalas pesan saya, mengirimkan balasan, bahkan memberikan penguatan saat saya tidak berharap banyak. Terkadang memang keajaiban semacam itu hadir di dunia ini, dalam bentuk orang-orang baik.

Ada lagi nih yang menyakitkan.
Kejadian membalas pesan personal yang dikirim seseorang melalui grup umum. Tetottt… di manakah letak korelasinya? Sebegitu tidak berarti ya pesan orang tersebut, sebegitu tidak sudi ya kita sekedar membalas dengan, "Waalaikumsalam Warahmatullah Wabarakatuh" yang mana adalah doa bagi kita dan si pengirim?

Ah, saya terlalu banyak bicara sepertinya.
Entah akan mengena atau tidak.
Tapi, saya serius, sudah lama sekali kehilangan sense bercanda. Mengenai adab seperti ini, terkadang yang kelihatan paham dan mengerti pun kesulitan bahkan keberatan menerapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Saya sih masa bodoh ya dengan pesan berbalas dan tidak. Saya juga tidak peduli apakah pesan tersebut dibaca atau malah dilewatkan saja. Tidak berpengaruh. Cuma kasian dengan orangtua yang sudah mengajarkan tata krama, sopan santun sejak kita kecil tapi malah anaknya tidak membawa ajaran tersebut pada saat dewasa. Terkesan masuk telinga kiri, keluar telinga kanan. Nanti, kalau yang mengirim pesannya adalah orang yang lebih tua, bisa habis itu ayah dan ibumu dibawa-bawa orang. Dituduh tidak mengajari anak dengan benar, padahal memang anaknya sendiri yang bebal.

So, ayolah.
Coba sebelum berkoar-koar mengajarkan sopan santun ke adik tingkat, ke siapa sajalah. Coba berkaca dulu. Ajari diri kita sendiri sopan santun. Bercermin. Apakah sudah kita terapkan tata krama tersebut pada diri kita sendiri? Sudah?

Nah, kalau belum, ya mulailah. Tidak ada kata terlambat atas segala sesuatu. Menghargai sesama manusia adalah kunci baiknya hubungan kita dengan Allah. Tidak peduli ibadah kita baik, kalau hubungan kita dengan manusia rusak, maka haruslah kita perbaiki dengan usaha, bukan dengan doa saja. Apalagi kalau penyebab rusak tersebut adalah diri kita sendiri.

Semoga tulisan ini sampai ke hati, karena Inshaa Allah ditulis dari hati.

Palembang, 7 Juni 2019
3 Syawal 1440 Hijriah
Siti Sonia Aseka

Sabtu, 01 Juni 2019

Perihal Marah

Benarlah kata orang, "Semakin dewasa kamu, maka akan semakin cerdas dalam mengelola amarah."
Lantas, saya jumpai banyak sekali perubahan dalam diri setelah usia mencapai angka dua puluh.



Tentang kemarahan, dulu, saya adalah satu dari sekian orang yang gampang sekali tersulut. Tidak segan untuk mengekspresikan amarah tersebut dalam bentuk omelan, gebrak meja, menaikkan nada suara, sampai dengan tingkat paling ekstrim; menyalahkan orang lain atas alasan A - Z yang saya buat-buat sendiri, mengait-ngaitkan masalah satu dengan masalah lain. Pokoknya menggebu-gebu sekali, deh. Tidak peduli orang akan sakit hati atau tidak, tidak ingin tahu apakah ucapan atau bahkan tindakan yang saya katakan dan lakukan saat marah tersebut mampu menggores bahkan mematahkan orang lain. Yang penting saya lega, yang penting saya telah menyampaikan kemarahan saya demi membuat diri sendiri tampak lebih baik. Egois benar, bukan?

Lalu, tibalah saya di usia ini. Setelah melewati banyak sekali kejadian, mendapat sekian pengalaman, bertemu lebih banyak orang, memperluas lingkaran sosial, menemukan cara yang benar dalam berteman dan berusaha untuk berdamai dengan sikap berapi-api tadi, saya sadar bahwa akhirnya saya perlahan mampu meredam luar biasa banyak kebiasaan lama.

Saya tidak lagi segampang itu terpancing atas sesuatu yang bagi saya salah dan tidak semestinya. Setiap manusia, sekian kepala, banyak hati, berjuta kacamata, tidak dapat kita paksa untuk menatap pada sudut pandang serupa. Tahu mengapa? Ya karena walaupun diciptakan dari satu unsur yang sama, namun manusia tidak dilengkapi dengan takdir yang sama pula. Semua orang punya pikiran dan jalan hidupnya masing-masing.

Saya mulai berhenti menghakimi sesuatu sesuai dengan apa yang saya percayai saja. Saya mulai berhenti mengambil kesimpulan atas apa yang terjadi dalam satu kali lihat atau alami. Saya berhenti pula membenarkan apa yang saya anggap sebagai sesuatu yang harusnya memang dilakukan semua orang. Dalam kata lain, dengan berbuat begitu, saya akhirnya dapat menahan kemarahan, walaupun masih seolah akan meluncur keluar dari ujung lidah bila tak dikendalikan sedemikian rupa.

Saya lebih banyak menghela napas, tersenyum, dan diam. Lebih sering menampilkan kemarahan lewat raut wajah saja dan bagi saya hal semacam itu benar-benar banyak membantu.

Meski tentu, ada-ada saja individu baru yang akan memprotes sikap diam dan ekspresi dingin yang saya perlihatkan. Masih ada pula individu lama yang akan kembali mempermasalahkan diamnya saya dan ekspresi tidak bersahabat yang saya tunjukkan. Masih dan akan terus ada orang-orang yang akan selalu menjadikan eksistensimu sebagai objek tepat untuk disalah-salahkan. That's really not a problem.

Dalam hati, saya berkata, "Hah, baru didiamkan saja sudah protes, baru dikasih tampang dingin sekali langsung mundur. Belum pernah liat saya lempar barang dan mematahkan kaki meja, sih."

Tetapi, jelas, ungkapan tersebut adalah satu dari sekian cuap-cuap kering nurani yang berontak tak terima ketika kritik sejenis itu datang saja. Tidak sampai benar-benar terlontar. Bisa kacau dunia persilatan kalau sampai itu terjadi.

Hei, jangan salah sangka.
Saya bukan orang yang setertutup itu, sebenarnya. Hanya ada orang-orang tertentu yang masih terus mendengar kemarahan saya hingga hari ini, lebih serupa keluhan barangkali. Mereka yang tidak akan menjauh sebab saya diam, mereka yang tidak akan berlari takut saat saya menampilkan raut wajah dingin. Justru mereka yang akan membuat saya kembali bicara, mereka yang akan mencairkan kutub utara saya.

Sebagai balasan, mereka jugalah yang tidak akan saya diamkan apapun yang terjadi. Mereka yang akan terus saya pertemukan dengan sisi cerewet dan menyebalkan yang saya punya secara alami. Mereka yang akan menemukan saya bersikap jauh berbeda di lingkaran satu dengan lingkaran lain, tanpa menghakimi tentang topeng apa yang saya pakai, dan bagaimana saya bertahan untuk terus mengenakannya sampai entah kapan.

Sebab, mereka tahu ketika saya kembali, ketika saya memutuskan pulang, saya telah berubah menjadi saya yang mereka kenal. Menjadi seseorang yang tidak hanya akan membicarakan banyak hal, namun orang yang juga akan melakukan segalanya tanpa segan.

Selain itu, dalam rangka melenyapkan kebiasaan marah yang bisa dibilang kacau balau, saya menemukan satu cara paling ampuh dan telah berjalan nyaris bilangan tahun ke belakang. Saya menulis, saya menampilkan segala yang tidak sempat dilihat orang lain secara langsung dalam bentuk sesuatu yang dapat mereka baca.

Tentu sejak lama saya memang telah tersesat dalam rangkaian kata. Namun, baru beberapa tahun ke belakang saya sadar bahwa selain untuk menghibur pembaca dengan fiksi yang saya ciptakan, saya juga mampu menjadi penyelamat bagi diri saya sendiri dengan cara menulis apa yang saya pikir harus saya tulis. Tidak harus memaksa orang lain membaca, tidak perlu menunggu sampai banyak orang menyadari apa yang terjadi melalui tulisan yang saya buat. Yang penting, tulis saja, sampaikan apa yang tidak bisa diutarakan rungu dan didengar oleh telinga.

Saya tidak perlu repot menjelaskan hingga mulut berbuih, saya tidak harus bertemu mereka satu per satu dan menjelaskan bagaimana saya dari awal sampai akhir. Percuma, buang-buang waktu. Tidak semua orang juga akan mengerti, salah-salah mereka hanya akan membicarakan sikap semacam itu dan membuat seolah saya hanya mencari pembenaran saja.

Manusia terkadang sekejam itu, asal kau tahu.

Dengan menulis, saya menemukan diri saya lebih sehat secara mental, lebih tenang dan lebih mampu menguraikan masalah. Saya menemukan sisi lain yang tidak dapat saya perlihatkan dalam perwakilan raga. Tak jarang saya merasa bahwa sisi lembut dan 'wanita banget' yang memang harusnya saya miliki justru ditransfer dalam bentuk tulisan. Jadi, jangan heran ketika membaca tulisan saya, orang-orang malah menemukan banyak hal berbeda dan seolah tidak ditulis oleh seseorang seperti saya.

Saya hanya sedang menyembuhkan diri dan menulis adalah obatnya.

Saya bisa menyelam tanpa takut tenggelam.
Saya bisa memanas tanpa khawatir terbakar.
Dan saya dapat bicara tanpa mengeluarkan suara.

Sebab, saya sadar, tidak semua orang berbakat dalam menerima. Tidak semua orang diberikan berkat untuk mencoba melihat dari sudut pandang orang lain. Tidak semua orang mau mengerti dan coba berdamai.


Pada akhirnya, setelah banyak hal sejenis terjadi lagi dan lagi, saya hanya mampu untuk terus berdiri walau berusaha dijatuhkan. Saya berdoa untuk tetap dijaga walau banyak sekali yang ingin menghancurkan. Saya ingin terus tertawa meski banyak alasan untuk menangis dan kalah atas masalah.

Saya hanya ingin menyampaikan bahwa tidak apa-apa bila bersikap berbeda. Tidak usah takut dijauhi sebab tidak memiliki pemikiran yang sama dengan orang lain. Jangan pula merendahkan diri sendiri ketika tidak dapat menjadi seperti apa yang orang lain inginkan.

Marahlah.

Bila kemarahan tersebut mampu meredam ledakan lebih besar terjadi di kemudian hari. Marah saja, keluarkan semua.

Namun tentu, menahan kemarahan dan mengalihkannya akan jauh terdengar sebagai pilihan bijak walau tidak akan berefek langsung dan memberi ketenangan di saat itu juga.

Dari sekian ekspresi kemarahan, dari banyak kisah tidak menyenangkan tentangnya, jangan sampai kita kembali mengulang kesalahan yang sama dengan pilihan keliru. Temukan cara untuk terus menjaga suhu diri. Dapatkan alasan untuk tidak memarahi sesuatu atau seseorang yang bagi kita menyebalkan setengah mati.

Karena ketika kita mampu menyelamatkan diri atas kemarahan, itu artinya kita menang.

Siti Sonia Aseka
Palembang, 1 Juni 2019

Selasa, 16 April 2019

Rekam Jejak Harapan (Untuk Indonesia)

Menuju pesta demokrasi Republik Indonesia demi lahirnya pemimpin ideal, 17 April 2019.

Berdasarkan jajak pendapat yang saya lakukan di akun Instagram pribadi saya @sitisoniaaseka, maka terkumpul lebih dari dua puluh harapan masyarakat terhadap sosok pemimpin yang mereka inginkan menjadi role model serta nahkoda baru negeri ini.

Terima kasih kepada seluruh partisipan.
Semoga dengan demikian, kita mampu mengawal lebih jauh dan berkontribusi dalam program-program kebaikan dalam rangka kebermanfaatan.

Bangsa ini punya suara, dan kita berhak menyatakan pilihan!
Gunakan hak pilihmu, satu suara menentukan masa depan Indonesia.




























Palembang, 16 April 2019
Siti Sonia Aseka 

Mahasiswa: Diantara Independensi dan Hak Menyatakan Pilihan

Mahasiswa: Di Antara Independensi Dan Hak Menyatakan Pilihan



Dikutip dari brainly.co.id, independensi adalah suatu keadaan atau posisi dimana kita tidak terikat dengan pihak manapun. Artinya, keberadaan kita adalah mandiri, tidak mengusung kepentingan pihak atau organisasi tertentu.

2019 adalah tahun politik, di mana tampuk kekuasaan atau pemerintahan tertinggi republik ini akan dilelang kembali melalui ajang Pemilihan Umum serentak yang akan diselenggarakan pada 17 April mendatang di seluruh pelosok negeri.

Komisi Pemilihan Umum (KPU) menyatakan bahwa daftar jumlah pemilih tetap di Indonesia pada tahun 2019 adalah sebanyak lebih dari 192 juta jiwa. Angka tersebut meningkat pesat dibandingkan dengan empat tahun lalu. Hal ini diakibatkan oleh banyaknya pemilih pemula atau pemilih muda (mencapai angka 5 juta pemilih) yang akan ikut berpartisipasi memberikan hak suara mereka pada pesta demokrasi sebentar lagi.

Lantas, di mana peran mahasiswa saat Indonesia tengah riuh oleh narasi serta janji yang dilontarkan oleh para calon pemimpin negeri?

5 juta adalah angka yang tidak main-main. Cukup besar untuk membawa pengaruh terhadap masa depan dan keberlangsungan bangsa Indonesia. Ditambah dengan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya ikut serta dalam menggunakan hak pilih yang membawa dampak baik, melepaskan rantai ketidakpedulian, acuh tak acuh, serta meminimalisir anggapan bahwa golput bukan masalah berarti, bahkan bisa dijadikan solusi atas ketidakpuasan dan kekecewaan ketika ekspektasi terhadap pemimpin tidak memenuhi standar pribadi, secara bertahap dan pasti meningkat tinggi.

Melalui databoks.katadata.co.id, jumlah pemilih yang tidak menggunakan suaranya atau disebut golongan putih (golput) pada 2014, secara nasional rata-rata mencapai 30,8 persen. Provinsi dengan angka golput tertinggi adalah Kepulauan Riau mencapai 40 persen dari total pemilih terdaftar sebanyak 1,39 juta.

See, kita ingin kecolongan lagi?

Mahasiswa sudah seharusnya ambil bagian, menjadi garda terdepan, tidak menyingkir ke tepi, lalu menghilang di balik ketakutan yang menumpuk tak terkendali. Hei, dengar! Menyatakan pilihan adalah hak, begitupula ketika menentukan sikap. Sebagai individu yang bebas dari tekanan serta penuh dengan kesadaran, kita tidak bisa terus bertahan dalam penjara kebisuan, bukan?

Ada apa dengan Mahasiswa sesungguhnya?

Mahasiswa hari ini dibenturkan pada opini bahwa bersuara berarti cerminan, serta menyatakan pendapat dianggap mutlak sebagai sikap meminta bahkan menagih keberpihakan yang sama terhadap barisannya. Padahal, di sisi lain, tugas mahasiswa selain mengkritisi adalah memberi solusi konkret, realistis, cenderung membawa ke arah yang progresif, relevan juga tidak berbatas dinding-dinding pemisah.

Mahasiswa hari ini, diharuskan untuk membuat keputusan, meskipun dalam banyak segi justru harus tetap menegakkan sikap merdeka, netral, tidak seolah berdiri di satu pihak apalagi memperlihatkan karakter memusuhi, menjatuhkan bahkan memberi ultimatum pada pihak lain. Memunculkan narasi-narasi kokoh yang kemudian mampu menggiring seseorang atau kelompok untuk berkaca dan memiliki sikap serupa.

Namun, terlepas dari itu semua, tentang suara mahasiswa yang seakan hilang di tengah kontestasi menuju pesta demokrasi bahkan cenderung sembunyi dan bermain kucing-kucingan, ke mana mahasiswa yang biasanya lantang memberikan ketegasan serta kepastian ketika suaranya dinantikan untuk dijadikan patokan, atau setidaknya rambu-rambu bagi masyarakat untuk menentukan pilihan?

Otomatis publik kehilangan arah secara percuma. Bukan ini yang diharapkan seluruh pihak, tentu saja. Lantas, peran mahasiswa dalam mencerdaskan kehidupan bangsa juga harusnya tidak ditabukan apalagi dianggap pelanggaran kala menjalankan tugas sebagai agen perubahan, benar?

Masihkah mahasiswa harus membuat blokade terhadap geraknya, ketika bangsa ini bahkan harus mendapatkan hak melangkah maju dan hak menyatakan cinta dengan turut mengusahakan yang terbaik, salah satunya dengan memilihkan pemimpin dengan latar belakang yang mampu diterima dan dapat membawa Indonesia berjuta langkah lebih maju dan tidak lagi dianggap tertinggal bahkan oleh rakyatnya sendiri?

Sudah seharusnya mahasiswa bergabung, padu. Tidak terpecah dan memecah, apalagi tidak merasa perlu untuk menjadi prajurit yang setia terhadap Indonesia. Barisan perjuangan ini terlalu longgar apabila mahasiswa memutuskan untuk mundur. Kontribusi kita terlalu minim apabila hanya berkutat pada remeh-temeh anggapan orang. Mahasiswa tidak perlu takut lagi dicap memihak, karena sesungguhnya keberpihakan adalah sense natural seluruh manusia.

Bukan sebab kita mahasiswa lantas tidak diperbolehkan mengumumkan pilihan. Bukan pula karena kita takut dicap memihak dan dikuasai oleh suatu kelompok lantas kita harus berlepas diri dari segala persiapan Pemilihan Umum ini dan terlena tanpa mengawal apapun serta merasa cukup dengan menjadi penonton.

Mahasiswa tidak lemah begitu, bung!
Mahasiswa punya ciri khas mengamankan dan mengontrol.

Jadi, dengan segala kerendahan hati, mari kita turunkan kadar ego, untuk melambungkan cita-cita bangsa, sekaligus menyuburkan bibit-bibit harapan. Karena kita masih sangat muda di antara jalan panjang, juga amat belia dihadapan bumi yang begitu tua.

Lantas, sudahkah kita menentukan kekhasan apa yang harus pemimpin ideal miliki untuk bersama membangun negeri ini tanpa eleminisasi dan bertengger pada eksklusifitas?

Jajak pendapat yang saya lakukan pada Senin, 15 April 2019 berhasil menjaring lebih dari 20 suara mengenai impian masyarakat terhadap calon pemimpin Indonesia. Banyak di antaranya mengharapkan kehadiran pemimpin yang memiliki aksi, reaksi, pikiran, didasari gagasan yang mumpuni, lantas kemudian saya simpulkan secara sederhana, bahwa masyarakat membutuhkan sosok yang tidak hanya sekedar hebat dalam bingkai, namun memang luar biasa dalam menghasilkan, berkarya serta menciptakan sesuatu yang mampu dinikmati bersama.

Masih ada waktu untuk berpikir matang, masih belum terlambat untuk mengoreksi kembali, dan jelas masih tersedia kesempatan seluas-luasnya kepada siapa saja untuk memilih berdasarkan hati nurani dan didasari oleh ilmu dan pemahaman yang jelas, atas nama Indonesia, negeri dengan kekayaan alam, budaya, tradisi serta kehidupan murni pribumi yang harus terus dijaga, dilestarikan, diperlakukan sedemikian istimewa agar tidak terkikis habis lalu punah.

Akan sangat besar tanggung jawab yang mesti dipikul oleh pemimpin bangsa ini, terlepas dari bagaimana keberlangsungan itu berjalan, kita sebagai bagian dari masyarakat beradab dan bertanggung jawab atas pilihan, harus terus berdiri tegak demi mengoreksi dan menjadi pengingat, tidak berlepas tangan atas pemerintahan dan terus berada di jalur yang benar demi membawa dengan tekad bulat keinginan serta mimpi-mimpi terdalam bangsa Indonesia.

267 juta jiwa yang bernaung di bawah langit negeri ini harus diberi makan, mendapat perlindungan dan diperlakukan dengan sebagaimana mestinya, adil, bijaksana.

9.66 persen angka kemiskinan harus terus diturunkan, meminimalisir tingkat kriminalitas yang disusul oleh angka 6.87 juta jiwa masyarakat tanpa pekerjaan (pengangguran).

Utang luar negeri Indonesia berdasarkan catatan Bank Indonesia pada akhir Februari 2019 adalah sebesar 388,7 miliar dolar AS, naik 4,8 miliar dolar AS, harus dibayarkan! Tidak boleh terus ditumpuk dan membiarkan negeri ini diagadaikan begitu saja, serta dicap kembali sebagai negara gagal!

Ada banyak sekali PR yang harus diselesaikan, bukan? Ada banyak tanggung jawab serta tuntutan kepada siapapun nantinya pemimpin yang akan membawa negeri ini ke arah yang diharapkan lebih baik dan lebih menjanjikan.

Lapangan pekerjaan, pembangunan dan infrastruktur, pertumbuhan ekonomi, sarana dan prasarana pendidikan, kesehatan, peningkatan kesejahteraan rakyat dan pengawasan serta penjagaan atas kekayaan alam, peningkatan dan pendistribusian sumber daya manusia (SDM) berkualitas, juga pesatnya teknologi yang harus terus dikawal sedemikian intensif.

Sudahkah pemimpin pilihanmu memiliki target mewujudkan segala penyelesaian masalah di atas? Atau hanya sekedar akan diam ketika negerinya dihabisi hingga ke tulang dan lumpuh lalu hancur berantakan?

Menuju PEMILU cerdas, berkualitas dan berdampak. Mari gunakan hak pilih Anda di TPS terdekat pada 17 April 2019 mendatang!

Satu suaramu, lima menit waktunya, mampu mengubah Indonesia.


Siti Sonia Aseka
Palembang, 16 April 2019

Dari Mahasiswa untuk Bangsa.

Jumat, 05 April 2019

Friends

Sebab, kepercayaan bukan sesuatu yang dapat dibeli di toko kelontong, bukan pula hal yang dijajakan murah meriah di gerai kaki lima. Malah, lebih jauh, kepercayaan tidak pernah ditawarkan cuma-cuma, tidak ditemukan tanpa sengaja di tengah jalan, pun dapat dipetik suka-suka berapapun kebutuhannya.



Atas alasan tersebut, Kina tidak pernah bisa seutuhnya yakin tentang percaya. Baginya, hal-hal semacam itu bukan satu dari sekian rasionalitas manusia sehingga amat mudah dibodohi lantas hidup dalam kepura-puraan, memanjangkan harapan. Menghapus sekian sisi paling realistis demi membangun angan-angan. Kina selalu berpegang pada logika bahwa asa tidak patut diberi tempat, karena betapapun ia ingin, berapa banyak ia berusaha, pengkhianatan, kecewa, rasa sakit dan luka yang menganga selalu tiba di akhir kisahnya.

Dan perempuan itu sungguh merasa cukup.

Larut dalam sibuk, keras terhadap diri, menikmati sekian tekanan, menjadikan pekerjaan sebagai cinta sejati. Sebab hanya dengan begitu, segala jejak yang tertinggal, sekian darah yang mengering, serta amarah yang meningkat tinggi mampu ia paksa sembunyi, dapat ia takut-takuti.

Barangkali.

"Usiamu sudah dua puluh enam, loh. Tidak berminat menyusul teman-teman yang telah naik pelaminan?"

Kina tersenyum ganjil.

Ah, dari mana ia harus membalas tanya terkesan penghakiman macam ini? Sebanyak apa lagi alasan yang harus ia kuak, agar tak seorangpun berani menghampiri hanya demi melontarkan caci maki?

"Proposalmu?"

Kina tertawa kering, terdengar muak dan tercekik. Fakta bahwa orang lain seolah memahami segalanya, kenyataan bahwa semua hal ini tak semudah kelihatannya.

Menikah bukan soal perlombaan siapa yang cepat, siapa yang lebih dahulu atau siapa yang mampu bersaing demi mendapatkan siapa. Lebih dari itu, menikah adalah tentang menyeimbangkan yang oleng, berbagi sekian kekurangan selain untuk memperindah kelebihan.

Jadi, masih dengan senyum yang berusaha ia ukir sedemikian rupa, Kina menarik diri dari gerombolan, menyepi. Melenyapkan keinginan untuk pulang, mengusir jauh luka lama yang dipaksa menganga. Bila bukan karena ini adalah hari bahagia sahabat baiknya, jika tidak memikirkan betapa buruk pikiran lari yang sempat mampir ke dalam kepala, perempuan tersebut pasti telah memutuskan untuk memesan jasa transportasi kekinian melalui salah satu layanan taksi online dan pulang menuju rumah.

Untuk hari ini, saat ini saja, ia harus menumbuhkan ketinggian sabar.

"Hei, tumben masih jadi satu dari sekian personil yang bertahan?"

Kina menoleh demi mendapati presensi pemuda dengan senyum paling menyebalkan dan selalu tampak seolah menganggapnya sebagai boneka kaca yang mudah pecah dalam waktu bersamaan.

"Kurang ajar!" Kina mengepalkan tinju, siap menggertak dan memaksa sang lawan mundur. Perempuan itu sejenak menarik napas keras, merasa sesak. Kenapa pula ia harus bertemu salah satu makhluk Tuhan paling tidak paham situasi disaat kondisi genting begini?

"Eits... anarkis banget. Butuh aqua? Sini-sini, papa belikan, nak."

Kina mendecih, sejenak kehilangan alasan untuk marah dan memilih mengabaikan sosok yang perlahan mengambil tempat duduk di sampingnya. Menghadap pelaminan, menyoroti lalu lalang serta hiruk pikuk.

"Kenapa rasanya seolah balik ke masa kuliah, ya?"

Kina menoleh, mendapati seraut wajah yang sarat akan rindu tengah coba mencari celah demi mengenang masa lalu.

"Hebohnya, lebaynya, alay mereka. Well, walau gue bukan tipe dari semua yang baru disebutkan, ya. Tapi, merasa gitu gak sih?"

Kina tersenyum kecil, lantas ikut mengingat-ingat. Dulu sekali, kala mereka masih total melajang dan menghadiri undangan pernikahan para kakak tingkat, tingkah konyol khas anak kost selalu mewarnai setiap acara yang harusnya sakral macam itu. Prinsip mahasiswa; asal gratis, apapun hantam!

"Lo lupa siapa yang dulu bolak-balik dari meja hidangan ke tempat duduk demi dapat makan gratis sampai puas? Plis, jangan sok polos."

Kina mencerca, terkesan mengejek. Pemuda satu ini memang butuh dihajSebab, kepercayaan bukan sesuatu yang dapat dibeli di toko kelontong, bukan pula hal yang dijajakan murah meriah di gerai kaki lima. Malah, lebih jauh, kepercayaan tidak pernah ditawarkan cuma-cuma, tidak ditemukan tanpa sengaja di tengah jalan, pun dapat dipetik suka-suka berapapun kebutuhannya.

Atas alasan tersebut, Kina tidak pernah bisa seutuhnya yakin tentang percaya. Baginya, hal-hal semacam itu bukan satu dari sekian rasionalitas manusia sehingga amat mudah dibodohi lantas hidup dalam kepura-puraan, memanjangkan harapan. Menghapus sekian sisi paling realistis demi membangun angan-angan. Kina selalu berpegang pada logika bahwa asa tidak patut diberi tempat, karena betapapun ia ingin, berapa banyak ia berusaha, pengkhianatan, kecewa, rasa sakit dan luka yang menganga selalu tiba di akhir kisahnya.

Dan perempuan itu sungguh merasa cukup.

Larut dalam sibuk, keras terhadap diri, menikmati sekian tekanan, menjadikan pekerjaan sebagai cinta sejati. Sebab hanya dengan begitu, segala jejak yang tertinggal, sekian darah yang mengering, serta amarah yang meningkat tinggi mampu ia paksa sembunyi, dapat ia takut-takuti.

Barangkali.

"Usiamu sudah dua puluh enam, loh. Tidak berminat menyusul teman-teman yang telah naik pelaminan?"

Kina tersenyum ganjil.

Ah, dari mana ia harus membalas tanya terkesan penghakiman macam ini? Sebanyak apa lagi alasan yang harus ia kuak, agar tak seorangpun berani menghampiri hanya demi melontarkan caci maki?

"Proposalmu?"

Kina tertawa kering, terdengar muak dan tercekik. Fakta bahwa orang lain seolah memahami segalanya, kenyataan bahwa semua hal ini tak semudah kelihatannya.

Menikah bukan soal perlombaan siapa yang cepat, siapa yang lebih dahulu atau siapa yang mampu bersaing demi mendapatkan siapa. Lebih dari itu, menikah adalah tentang menyeimbangkan yang oleng, berbagi sekian kekurangan selain untuk memperindah kelebihan.

Jadi, masih dengan senyum yang berusaha ia ukir sedemikian rupa, Kina menarik diri dari gerombolan, menyepi. Melenyapkan keinginan untuk pulang, mengusir jauh luka lama yang dipaksa menganga. Bila bukan karena ini adalah hari bahagia sahabat baiknya, jika tidak memikirkan betapa buruk pikiran lari yang sempat mampir ke dalam kepala, perempuan tersebut pasti telah memutuskan untuk memesan jasa transportasi kekinian melalui salah satu layanan taksi online dan pulang menuju rumah.

Untuk hari ini, saat ini saja, ia harus menumbuhkan ketinggian sabar.

"Hei, tumben masih jadi satu dari sekian personil yang bertahan?"

Kina menoleh demi mendapati presensi pemuda dengan senyum paling menyebalkan dan selalu tampak seolah menganggapnya sebagai boneka kaca yang mudah pecah dalam waktu bersamaan.

"Kurang ajar!" Kina mengepalkan tinju, siap menggertak dan memaksa sang lawan mundur. Perempuan itu sejenak menarik napas keras, merasa sesak. Kenapa pula ia harus bertemu salah satu makhluk Tuhan paling tidak paham situasi disaat kondisi genting begini?

"Eits... anarkis banget. Butuh aqua? Sini-sini, papa belikan, nak."

Kina mendecih, sejenak kehilangan alasan untuk marah dan memilih mengabaikan sosok yang perlahan mengambil tempat duduk di sampingnya. Menghadap pelaminan, menyoroti lalu lalang serta hiruk pikuk.

"Kenapa rasanya seolah balik ke masa kuliah, ya?"

Kina menoleh, mendapati seraut wajah yang sarat akan rindu tengah coba mencari celah demi mengenang masa lalu.

"Hebohnya, lebaynya, alay mereka. Well, walau gue bukan tipe dari semua yang baru disebutkan, ya. Tapi, merasa gitu gak sih?"

Kina tersenyum kecil, lantas ikut mengingat-ingat. Dulu sekali, kala mereka masih total melajang dan menghadiri undangan pernikahan para kakak tingkat, tingkah konyol khas anak kost selalu mewarnai setiap acara yang harusnya sakral macam itu. Prinsip mahasiswa; asal gratis, apapun hantam!

"Lo lupa siapa yang dulu bolak-balik dari meja hidangan ke tempat duduk demi dapat makan gratis sampai puas? Plis, jangan sok polos."

Kina mencerca, terkesan mengejek. Pemuda satu ini memang butuh dihajar sampai babak belur oleh kenyataan, biar sadar.

"Yaaaa... kan ngambil banyak buat lu juga. Jangan pura-pura lupa!"

Kina tertawa, mengangguk-angguk kemudian. Benar. Ia tidak akan lupa hal satu itu. Mereka bahkan sibuk menyantap makanan ketika yang lain getol ingin berfoto dengan mempelai.

Ah, masalah foto doang mah, gampang.

Itu alibi, sebenarnya. Sebab di akhir acara, ketika semua orang telah mendapatkan apa yang mereka inginkan demi mengunggah apa saja di sosial media, Kina dan Kano terpaksa berfoto berdua dengan mempelai sebab diancam dengan bobot, "Kalau nggak foto, tak sumpahin lama nyusul, loh."

Padahal ukuran lama itu berbeda-beda setiap orang.

Jadilah dengan senyum yang terpatri dibuat-buat, perpaduan antara kekenyangan dan malas karena dijodoh-jodohkan oleh kawan-kawan lain yang mendadak jadi penonton bayaran, mereka menyelesaikan satu sesi yang dibuat sesingkat mungkin. Sialnya, justru foto penyebab doa-doa tanpa sengaja itu yang dipublikasikan dan jadi bahan perbincangan.

Itu dulu, dulu sekali.

Sekarang? Kina tidak yakin. Namun, beberapa kali, setelah mereka dihadapkan pada jarak, perbedaan profesi, pertemuan yang berlangsung dalam sekian waktu setahun, beberapa pertanyaan itu masih seringkali mampir.

"Kenapa tidak dengan Kano saja, sih? Kan sama-sama masih melajang, tuh. Dia juga sepertinya nungguin kamu."

Sepertinya.

Kina tertawa keras, menampik cepat.

"Nantilah, menikah bukan prioritas untuk sekarang."

"Ya jadi kapan? Prioritasmu itu selalu kantor, kantor dan kantor."

"Selagi aku baik-baik saja, sepanjang aku masih bisa bahagia dengan upaya yang kubuat sendiri, menikah bukan hal yang harus dipusingkan. Lagipula, tidak semerta dengan menikah segala permasalahan dunia ini luntur tanpa sisa. Malah akan bertambah lebih banyak, lebih pelik. Memikirkan masalahku sendiri saja sudah pusing setengah mati, ini mau ditambah mengurusi orang lain beserta masalah-masalah hidupnya? Haduh, tidak deh. Terima kasih."

"Ya minimal kalian saling membantu dalam memecahkan masalah, punya teman berdiskusi, bisa saling mendukung dan memotivasi."

Kina menggeleng, menatap sepiring sosis dan nugget di hadapannya tanpa minat. Masih dengan perasaan yang sama; terluka, lelah, ingin menghilang sejenak dari tanya soal, "Kapan?"

"Malah melamun." Kano melayangkan satu tangan di depan wajah Kina. Membuat yang tengah diajak bicara kembali ke saat di mana dunianya berputar dalam fase "menonton pertunjukan."

"Sudah sepi, ayo foto dulu. Karina pasti ingin sahabatnya terabadikan dalam bidikan kamera juga."

Kina menatap Kano sejenak, melemparkan anggukan pelan sebelum berjalan bersama demi menyapa dan mengucapkan selamat pada mempelai.

Karina cantik sekali.
Sejujurnya, dia memang selalu cantik. Namun hari ini, kecantikan itu bahkan paripurna sebab ada seseorang yang berdiri tegak di sampingnya, memamerkan senyum bahagia yang sama, menyambut Kina dan Kano dengan keramahan tak beda.

Sempurna.

Kina berdiri kikuk.

Tepat saat kamera siap dibidik, sedetik setelah blitz itu menerpa matanya, Kina yakin bila ia mendengar Kano berujar sungguh-sungguh, "Jadi, kapan kita bisa mulai memikirkan tanggal, Kina?"

Ah, kenapa begitu tiba-tiba?
Itu tadi pasti hanya bercanda. Benar, kan?

Namun, mengapa ia malah dengan bodohnya percaya?


Indralaya, 5 April 2019
Siti Sonia Aseka

Merespons Fatwa HARAM Vasektomi yang dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia

Sepekan lalu, MUI melalui akun Instagram resminya, merilis tanggapan mengenai kebijakan yang diberlakukan oleh Gubernur Jawa Barat, yaitu: m...