Kamis, 20 Mei 2021
Seingatku...
Jumat, 23 April 2021
jarak.
"Jadi, selamat tinggal?"
"Ya," aku menyahut, separuh getir. "Selamat tinggal."
Pada rentang dua pulau, lautan tempat ia memandang dari balik jendela pesawat barangkali akan menyimpan megah perasaan yang tak pernah mampu dikuapkan. Tentang hati yang sempat sesak oleh rimbun kasih sayang, mengenai takdir yang buat tergugu malam-malam, atau saat sepasang mata bertemu pada sebuah garis lurus; lelah, luka, putus asa.
Lelaki tersebut menarik kopernya di sepanjang jalur menuju terminal keberangkatan. Pandangnya sendu, rautnya sayu, tubuhnya kuyu, dan senyumnya layu. Beberapa kali mengalihkan tatap, menolak menyelami kedalaman mataku yang dulu selalu ia puja.
Kadang, beberapa hal justru terasa luar biasa sialan di saat-saat terakhir. Kala semua pihak tahu tidak ada yang bisa mengubah apa-apa. Kesempatan bukan sembarang benda temuan di sisi jalan atau toko-toko kelontong.
Usai saja, cukup. Tanpa penjelasan lebih lanjut, tanpa penjabaran memusingkan kepala, tanpa histeria yang akan membuat ia, kami, berubah pikiran dan pilih bertekuk lutut pada cinta.
"Kita tegak berpondasikan logika." Katanya, dahulu. Aku setuju.
Sebab itu, tidak pernah ada kata mengalah termasuk soal menetap atau tinggal.
Selepas hari ini, sedetik setelah pesawat lepas landas, akan kutemukan diriku kembali sibuk di antara bilik gedung berlantai dua puluh lima. Menatap layar maya seharian, menyesap bercangkir-cangkir kopi, mengakrabi kemacetan, klakson kendaraan, serta makan malam di sebuah kedai nasi goreng langganan. Memeriksa ponsel seperlunya, diburu rapat, dikejar deadline, dijejali target-target baru yang wajib dicapai.
Jarak jelas ada. Toh, dua pulau bukan spasi yang mampu ditempuh dengan sekadar lima langkah kaki.
Kemudian, aku dan ia akan terbiasa. Benar-benar terbiasa tanpa kehadiran masing-masingnya, terbiasa sendiri, kembali menjadi diri kami sebelum ceruk waktu mempertemukan. Kembali hampa dan tak masalah.
"Grief is the price we have to pay for love."-Queen Elizabeth II
Palembang, 22 April 2021
Siti Sonia Aseka
Kamis, 22 April 2021
Konflik Myanmar; Permasalahan Etnik, Bukan Agama
Kamis, 01 April 2021
Delos & Onyx
Rasanya aneh saat segala sesuatu menjelma repetitif dalam kepalamu. Seperti bunyi ranting patah disertai sepasang tungkai yang menginjaknya, atau ketika sebuah palu diketuk tiga kali, menandakan akhir atas sebuah putusan baru.
Aku tidak mengerti.
Bagaimana denganmu?
Tetapi katanya, kita memang tidak perlu memahami apa-apa. Karena pada petal-petal flamboyan di sepanjang setapak tempat dua suara saling melantunkan syair-syair tentang hidup, ada lentera dari pekarangan sebuah rumah. Sudi menuntun kita tiba, lapang dada menanti celoteh manusia dengan netra diisi badai; melempar tawa meski air mata merebak dengan kepala kacau dipenuhi sekelumit emosi, sebagian besarnya; angkara.
Aku tidak mengerti.
Kau?
Pada suatu pagi aku mengetuk pintu rumahmu, menyusuri trotoar pendek yang basah selepas hujan semalam.
Tidak sampai ketukan ketiga dan engkau muncul dengan wajah kelewat gundah. Umpama monster pemakan mimpi baik telah menyusup di kamarmu, menelan sisa kenangan indah yang mati-matian kau pertahankan dengan sepasang tangan kurus lagi lunglai.
Tetapi aku tidak datang hanya untuk menghibur manusia di tengah gersang harapan. Aku bukan oasis, dan dirimu bukan Sahara yang pernah sedemikian kudamba. Kita hanya dua orang, sempat berada pada satu proses panjang sebelum tiba pada sebuah konklusi sederhana; adalah benar bahwa tidak perlu repot menyusupkan jemari pada telapak masing-masingnya.
Hari beranjak siang namun bulan tetap betah; mengamati terang-terangan, menunggu kita angkat bicara dan kembali jadi rumah untuk hati yang sudah lama hampa. Tetapi, aku menatap sengit, menggertak, membuat awan bergerak cepat menghalangi bulan yang merasa malu pada semesta,
pada kita.
Tidak benar bahwa kusesalkan setiap memori pada bingkai-bingkai foto di dalam rumah. Barangkali kau terlalu malas untuk mengenyahkan presensi senyuman manis kita berdua, atau sekadar lupa bahwa sudah tidak ada lagi yang perlu diingat. Kecuali, bagaimana dirimu sendiri melepaskan satu senyum lega setelah berhasil membuatku merasa terbuang bertahun silam.
Hei, tapi, tidak. Aku tidak datang untuk mengingatkanmu pada dosa-dosa masa lampau, atau bagaimana jalinan kita yang semula merah muda, malah berubah membiru.
Aku sudah berjanji padamu untuk bahagia dan menjadi utuh, aku sudah berjanji pada diri sendiri untuk berlari sejauh mungkin dari probabilitas menyebalkan tentang kegagalan mempertahankan riak-riak tekad. Sebab itu, kusimpan kenangan yang rutin tandang pada malam-malam kelam, menitipkannya pada lagu-lagu sendu, menangkap satu per satu lalu mengurung mereka pada sebuah kotak usang di sudut paling terpencil.
Hatiku sudah mati. Aku yakin sekali. Bukan karenamu, tentu. Tetapi karena diriku tahu setelah disakiti berkali-kali dan menelan pahit sampai muak, aku tidak juga cukup berani untuk mendepakmu dari daftar prioritas.
Eksistensimu itu mengganggu sekaligus kurindukan, tahu?
Setidaknya, hingga beberapa waktu lalu. Kala pagiku seperti biasa dipenuhi aroma kopi berwarna pekat, langit mendung, serta loper koran yang melempar gulungan kertas sampai membentur pintu. Seseorang datang saat getir merambat cepat, membangunkanku yang tertidur di tengah pesta pora dunia, tersenyum manis melengkapi kopi yang sengaja kuseduh tanpa gula.
Coba katakan, bagaimana mungkin aku tidak menyambutnya dengan tangan terbuka?
Maka hari ini, aku kembali. Menyapamu seringan belasan tahun tertinggal, menganggap seolah tidak pernah ada jejak lumpur di sepanjang pasir pantai tempat kita pernah menata masa depan yang tidak akan pernah jadi nyata.
Lukanya masih ada, berbekas. Basah dan pedih, merah, menganga.
Tetapi, seseorang sudah datang. Tanpa sibuk kutunggu, tanpa repot kunanti. Menawarkan perbaikan yang tak pernah kupikir ada apalagi perlu.
Berbeda denganmu, ia memberiku tempat tanpa pusing kuminta.
Kali ini, aku mengerti.
Iya, aku benar-benar mengerti.
Seseorang ini, syukurlah, bukan engkau.
Palembang, 31 Maret 2021
Siti Sonia Aseka
Senin, 22 Maret 2021
Defence Mechanism
Sosok itu masih sama gelap dan muram, lebih kelam dari malam… persis seperti yang terakhir kali kuingat.
Terkadang, ia menyeringai, menatap lapar, kemudian di waktu lain hanya akan duduk diam di tepian jendela. Memandang langit biru, atau hujan yang betah turun menghantam rumpun melati di pekarangan belakang rumah.
Ia biasa berkeliling, mengamati bingkai-bingkai foto, ikut mendengar lagu-lagu sendu, ada di sampingku membaca ratusan email yang masuk setiap hari.
Saat aku nyaris lelap, dibuai kantuk, ia akan duduk termenung di bibir ranjang, melamun jauh, ikut menyelinap ke balik selimut sembari melantunkan dosa-dosa, angkara yang terpendam, kekecewaan, rasa sakit, hingga luka yang kukira sudah lama mengering. Ia mendikte satu per satu, tanpa kecuali, berulang-ulang, hingga menjelma lullaby yang kerap kunanti sebagai alat menjemput potongan mimpi.
"Menyebalkan bukan?" ujarnya, kalem.
"Siapa?" aku mendongak dari gawai yang kutekuni. Mendapati ia menatap dengan sorot mengejek. "Kau?" aku memandang sinis, lantas menghela napas berat.
Tetapi, alih-alih tersinggung, sosok itu malah terbahak keras, menyeka air mata yang timbul di pelupuk, lalu menyambar. "Yang benar saja," ia diam, aku pun sama. Detak jam dinding menggema di sepenjuru ruangan. Pukul delapan pagi, dan aku belum juga beranjak demi menelan sarapan.
"Kau membencinya?" si kelam menyambung lagi. Masih dengan sorot ingin tahu.
"Siapa, sih?" aku menggertak, jengah.
"Oh, ayolah," ia tersenyum timpang, menaikkan sebelah alis demi memojokkan lawan bicara. "Aku bisa merasakan jantungmu menggila di salam sana. Kau pasti membenci orang itu setengah mati."
Aku tertegun, mendadak lelah.
Kebencian, ya?
Dulu, aku ingat ibu pernah berkata, perasaan tak suka hanya akan menghancurkanmu tanpa sisa, seperti lilin yang membakar dirinya sendiri, serupa. Terang, tak tersentuh, namun mudah padam, mudah… lenyap.
"Wow," sosok tersebut bersiul lirih, tepat di telingaku. "Lihat, orang ini benar-benar tidak sopan. Coba tebak, manusia tidak beradab harusnya diletakkan di mana?"
Aku mengepalkan tangan, mengakibatkan buku jari memutih, menancapkan kuku kuat-kuat hingga menghasilkan bercak darah samar.
Di mana?
Di mana?
Kepalaku pening. Kamarku mendadak gelap. Hujan di luar berubah badai besar yang mendobrak kaca jendela, menerbangkan gorden, membuat ranting pohon mengetuk kedinginan sekaligus kepayahan. Beku.
"Kau harus berhenti berpura-pura." sosok hitam tersebut berjalan pelan, mengitari meja, melompat-lompat riang sesekali. Senyumnya masih merekah sempurna. "Kau jelas tidak baik-baik saja. Orang itu menyakiti hatimu, melukai perasaanmu, berdansa di atas lantai yang terbuat dari sisa-sisa niat baikmu. Kau… sekarat."
Ia berhenti pada satu garis lurus demi menatapku yang bernapas tersendat-sendat.
"Menyedihkan." ia mendengus, keji. "Menjadi orang baik, katamu?" ada tawa sumbang mengudara setelah pertanyaan tersebut masuk secara tajam, melubangi akal sehat. "Dengar, dunia adalah tempat paling menjijikkan yang pernah kutemui. Kau harus paham. Bayi merah nan manis sekali pun punya tendensi menjadi penjahat dua detik setelah ia dilahirkan. Dan kau yang sudah muak menelan kekejaman mereka harusnya tahu, adalah mustahil sekaligus tidak berguna berjuang menjadi malaikat dan berharap dihargai."
Dihargai, katanya?
Aku menggeleng, menepis.
"Kau… menipu dirimu sendiri." sosok yang sudah lama diam kecuali hadir menemani dengan bait-bait lullaby terlihat diliputi angkara dan berantakan.
Memang siapa yang tidak?
Aku juga sama… berantakan. Tidak ada yang baik-baik saja di sini. Tidak pernah ada.
Ingatanku semerta melesat pada pembicaraan diam-diam, ejekan di belakang punggung, penghakiman, tatapan merendahkan, rumor, hingga sabotase yang dulu kerap tandang… masih, masih membayang jelas dan siap menerkam.
"Kau bahkan tak nyata," aku mengubah posisi duduk yang mulai tak nyaman. "Bagaimana bisa kau menyimpulkan keadaanku seolah lebih tahu segalanya ketimbang diriku sendiri?"
"Tidak nyata bukan berarti tak ada." ia menepis. Berjalan mendekati jendela yang terkatup. "Omong-omong, cuacanya cerah sekali."
Aku mengernyit, ngeri. Petir menyambar beberapa sekon kemudian, lantas membuat telapak di bawah sana terlonjak, nyaris memacu langkah bersembunyi di balik tumpukan bantal.
Kami diam untuk beberapa saat sebelum ia kembali berceloteh.
"Menangislah saat kau berduka, tertawalah bila kau bahagia, marahlah ketika keadaan mendesak dan menekanmu, ungkapkan isi hatimu, jangan hanya diam. Berhenti jadi samsak tinju yang siap dipukuli oleh keegoisan orang lain."
Ego, kemarahan.
Aku menemukan diriku mengerut takut. Letih berusaha banyak hanya demi mendapati sejumput pengakuan, getir menyadari bahwa tak pernah ada tempat yang sudi menampung sisi gelapku sementara semua berebut menjadikanku alat hanya karena aku terlihat sempurna.
Dunia ini… menyeramkan. Dan manusia yang menghuninya bahkan melampaui ekspektasiku tentang neraka.
"Aku akan mengatakan sesuatu," katanya, serak, namun tajam. "Aku tidak hadir untuk menyaksikanmu mati pelan-pelan. Aku tidak pula datang untuk membantu. Aku bukan kedua hal itu. Aku adalah apa yang kau tumbuhkan. Kebencian, dendam, amarah, tekad. Aku harusnya menjadi pohon berdaun lebat yang mampu menaungimu."
"Lalu, kenapa kau-"
"Maukah kau mendengarku?" ia memotong, terdengar sebal. "Aku baru saja akan menjadi makhluk bijak, tahu?"
Aku tersenyum tipis, tipis sekali sampai kupikir ia tak dapat menangkapnya.
"Baik, lanjutkan."
"Tetapi, aku malah tumbuh dengan jutaan rasa sakit tiada akhir. Hanya rasa sakit saja. Sederhananya, alih-alih menaungimu, aku malah menjelma sekadar ketakutan dan rasa cemas. Aku tidak bisa menjadi tameng untukmu."
Penjelasan tersebut membeberkan semuanya, bukankah?
"Apa boleh buat?" ia mencibir, "Lain kali, cobalah bawakan semangkuk keberanian yang dibumbui hasrat agar aku bisa bergerak. Agar aku setidaknya berguna. Bukan malah terkurung di sini, menyaksikan kau membentuk koping tak sehat agar dicintai semua orang."
Dicintai dan semua orang. Kata-kata tersebur agaknya tidak cocok berada dalam satu kalimat yang sama, bukan?
"Diperalat, dimanfaatkan, kemudian dibuang saat dirasa tak lagi berharga. Kau bukan sampah. Bukan rongsokan."
"Tetapi memang apa lagi yang bisa kulakukan?" aku mendorong kursi, meletakkan gawai yang menjadi sumber segala masalah ke atas meja belajar, lalu menghampiri ranjang dan rebah begitu saja.
"Aku tidak bisa mengendalikan apa yang orang-orang pikirkan. Aku hanya bisa mengendalikan diriku sendiri. Bersiap dan bersedia menjadi banyak hal sebelum dibuat ibarat bukan apa-apa. Segala sesuatu punya limit."
"Jadi, kau menerimanya? Apa yang kau utarakan tadi secara tersirat adalah sama seperti; untuk apa makan bila akhirnya mati."
Benar. Benar sekali.
Aku menemukan suara berderak patah dari rongga dada. Pemikiran baru terangkut naik, kedalaman samudera tempat setiap kenangan buruk tenggelam utuh bersama bahtera penyelamat agaknya mulai kuragukan kembali.
Benarkah aku sudah menguburnya dengan rapi? Benarkah aku telah benar-benar lupa demi sepercik pengampunan? Benarkah aku sudah benar-benar naik ke atas sekoci dan mencari daratan baru, menyambut jalur berbeda, bertemu peta yang lain, atau masih terapung sampai kehilangan arah, terombang-ambing, nelangsa dan basah kuyup?
Tidak.
Tidak… tentu saja, tidak, kan?
"Tidakkah kau mengerti? Aku adalah kau." sosok itu menatap dingin, kelewat dingin. Mengalahkan rasa beku akibat hujan, membuat lupa pada keras ranting pohon yang mengetuk kaca jendela, membuat abai pada lantai yang berhasil menjadikan telapak menggigil dan lelah.
"Denganku, kau takkan lagi tertindas. Bersamaku, akan kita temukan cara agar manusia berhenti bersikap superior dan mati-matian menyala terang hanya demi membakar dan menghanguskan. Berdua, selalu ada cara yang benar dan segala rasa sakit ini perlahan musnah. Hanya bila kau mengizinkanku tetap tinggal."
Perasaanku berubah sulit. Ada hembusan angin kencang berputar-putar di sepenjuru ruangan. Aneh. Padahal, jendela tertutup rapat. Meski hujan berkelebat bak badai di luar sana, kehangatan absolut harusnya tak lekang apalagi pudar. Kamar ini terisolir. Diriku terisolir.
Sebuah tawaran. Datang tepat ketika aku nyaris pecah berserakan. Apa lagi yang kutunggu? Sebab saat yang sempurna untuk mewujudkan rencana memang tak pernah ada. Cepat atau lambat, semua akan kembali bergerak di luar kendali, aku akan habis dibawa gelombang massa dan hanyut oleh keserakahan.
Dan apa katanya tadi?
Rasa sakit akan musnah?
Benarkah?
"Bagaimana jika aku menolak?"
"Well," ia memandang rumit, bola matanya yang pekat mengamati lekat. Ketenangan ganjil tersebut membuatku bergidik pada beberapa detik kelewat singkat.
"Petarung yang tangkas dengan senang hati mati tanpa penyesalan. Sementara pecundang dalam arena lebih memilih hidup bersama pelarian panjang, tersisih, lalu dilupakan."
"Aku bukan keduanya."
"Maka, pilih salah satu."
Ia tersenyum, aku mendadak didera kantuk. Mataku berat, air mataku turun pelan-pelan. Tergugu dan terantuk realita. Ini bukan mimpi. Aku tidak sedang bermimpi buruk. Memori itu nyata, masa lalu yang sempat kukira telah lesap ternyata masih menggelora dan berkobar. Perasaan ini, keadaan ini, bukanlah bayang-bayang semata.
"Tetap tinggal. Bertumbuhlah." putusku kemudian. Langit-langit kamar semerta redup. Air mataku membasahi bantal dan mengaburkan pelupuk.
"Bila dengan demikian aku bisa menjemput hakku dan berjalan di atas setapak lurus menuju sebenar-benar bahagia, maka, mengapa tidak?"
Palembang, 22 Maret 2021
Siti Sonia Aseka
Merespons Fatwa HARAM Vasektomi yang dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia
Sepekan lalu, MUI melalui akun Instagram resminya, merilis tanggapan mengenai kebijakan yang diberlakukan oleh Gubernur Jawa Barat, yaitu: m...
-
Sepekan lalu, MUI melalui akun Instagram resminya, merilis tanggapan mengenai kebijakan yang diberlakukan oleh Gubernur Jawa Barat, yaitu: m...
-
Jadi, pada senja yang nyaris rebah itu, ku telusuri jalanan padat lagi sempit. Demi satu porsi Gelato yang habis ditelan ingin, pada mas...
-
I strongly believe that human beings, as anything, have and need a platform as a medium to convey their voice in order to empower and benefi...




