Sabtu, Mei 2020
Sore, satu sampai dua jam sebelum berbuka.
Saya masih dengan rutinitas menghadap laptop sembari haha-hihi. Sengaja tidak mengaktifkan paket data agar tidak diganggu apa dan siapapun. Mencoba berhenti jadi phone-addict yang sulit jauh dari internet dan media sosial.
Kemarin, pesanan buku datang. Elok, menaikkan mood seketika. Saya mengambil beberapa gambar demi mengabari author-nim bahwa kirimannya sudah tiba.
Buka Instagram, aman jaya. Tidak ada problem berarti. Kemudian beralih ke WhatsApp dan di sinilah masalah bermula.
Ponsel tiba-tiba mati!
Masih positive thinking bahwa mungkin tidak tersambung dengan benar ke pengisi daya. Lalu kembali dinyalakan. Baru digunakan tak sampai dua menit, benda tersebut mati lagi. Masih berusaha tenang, mencopot dan memasang ulang pengisi daya. Di kesempatan ketiga, hal serupa terjadi. PANIK!
Terus dan terus dicoba, masih sama; nyala sebentar dan padam lagi.
Serius, kalau ponsel mendadak collapse di saat tak terduga, yang ada di otak cuma fokus ke satu hal; bagaimana caranya data di dalam perangkat internal diselamatkan?
Kontak, dokumen, berkas, belum lagi aplikasi-aplikasi yang menyimpan begitu banyak hal. FYI, tidak semua data-data terback-up di email. Saya termasuk orang yang hidup matinya separuh mengandalkan ponsel.
Beruntung, sehari sebelum drama ini, saya sudah memindahkan semua jawaban responden penelitian ke laptop (maklum, ponsel sudah tidak dapat disambungkan via USD, jadi harus mengirim file melalui bluetooth), lalu dua bulan kemarin juga sempat memindahkan ratusan tulisan dari Jotterpad ke laptop, iseng-iseng membawa berkah. Meski tentu beberapa tulisan terbaru telah entah apa kabarnya. Tidak sempat dicopy.
Bagi yang belum tahu, selama ini saya menggunakan aplikasi bernama Jotterpad untuk menulis via ponsel. Jadi tidak merepotkan harus buka laptop di berbagai tempat. Jumlah karakternya tak terbatas, beda dengan note ponsel.
Di hari yang sama pula, tulisan terakhir saya menggunakan Jotterpad terposting di blog. Padahal niatnya mau memposting kapan-kapan saja, kalau sempat. Ternyata itu satu dari sekian pertanda.
Sekarang, saya masih struggle untuk menyimpan sisa kontak yang tidak bisa diselamatkan oleh email sekalipun. Kontak yang awalnya mencapai tiga ribu lebih, sekarang entah berkurang berapa angka di belakang.
Another TMI, saya sebetulnya rada malas menyimpan nomor orang lain. Kalau sudah hilang begitu saja, biasanya akan selamanya begitu, tak berniat menyimpan lagi, kecuali ada kepentingan mendesak. (Ini bukan kebiasaan baik dan tidak patut dicontoh, sorry).
Sebenarnya merencanakan postingan di blog selanjutnya setelah tulisan sederhana kemarin adalah kabar baik. Tapi, dengan kondisi demikian dan lain hal, tidak yakin. Hahaha....
I'll be back with another project, anyway.
Siti Sonia Aseka
Ahad, 10 Mei 2020
*mengetik dengan sangat lama dan begitu banyak typo
Minggu, 10 Mei 2020
Sabtu, 09 Mei 2020
Entah Apa Namanya
Memasuki hari dengan satu angka terakhir bulan Mei.
Ramadhan telah lewat separuh, sedang musim tetap sama; seringnya mendung, kemudian hujan. Namun, hiruk-pikuk yang biasa ruah dari masjid-masjid, penjual takjil pinggir jalan, bahkan lalu lintas jelang maghrib tidak lagi seutuh tahun-tahun kemarin. Kali ini, jauh lebih sepi, lebih landai, walau khusyuk menjadi sebaik-baik manusia tetap ada; orang-orang semakin banyak mengingat 'pulang', kian bersiap, menjahit amal-amal yang sempat koyak.
Shubuh hari, entah mengapa teringat bahwa belum sama sekali mengisi blog setelah fiksi soal pelarian dan kehilangan terpublikasi, nyaris akhir bulan April.
Aplikasi menulis di dalam ponsel mendadak seolah terlupakan, sebab pemiliknya terlalu banyak menatap layar laptop. Berjam-jam, setiap hari. Menggantikan eksistensi kemudahan, mulai mencoba-coba hal sulit, memberi challenge pada diri sendiri.
Menulis, bagi saya selalu menjadi tempat terbaik mencurahkan isi kepala, tak melulu soal hati, apalagi drama kehidupan.
Terkadang, hanya dengan menerbitkan sesuatu, kita bisa mendadak merasa 'sehat'.
Target.
Sekarang, bukan hanya bergelut dengan senang dan tidak, atau mau-tidak mau, namun tentang kemampuan mengatur dan memproses ide. Dulu, saya hanya menulis bila dirasa perlu, tidak suka mendapat tekanan apalagi tantangan. Karena menulis adalah salah satu panggilan jiwa. Menulis dibawah paksaan justru hanya akan mengurangi kualitas berimbas pada esensi di dalam tulisan itu sendiri.
Namun, semakin ke sini, ternyata hal-hal demikian tak selalu terasa benar. Faktanya, menjadi produktif juga butuh dorongan, dengan dipaksa serta ditekan sebagai salah satu caranya.
Dengan menatap layar, membaca apa saja yang telah kita tulis hingga puluhan bahkan ratusan lembar, tindakan sejenis ini menstimulus otak demi menyusun alur baru serta kata hingga paragraf yang dituangkan sampai pada titik layak.
Kita semua tengah berupaya, melakukan ragam hal demi setidaknya mampu mengubah sesuatu. Meski standar yang ada dalam masyarakat tetap ganda, walau kita sendiri terkadang ragu soal pantas-tidaknya diri bermimpi dan menggantung lebih banyak andai-andai dibarengi doa, yang jelas kata biasa-biasa saja tidak pernah masuk dalam kamus semesta laiknya milik orang-orang putus asa.
Melampaui batasan, melompati anggapan apalagi sekedar mitos kosong yang membatasi diri agar tak hendak bermanfaat.
Kita harus mulai tekankan untuk meraih sekian banyak pencapaian hanya demi membanggakan diri sendiri, bukan agar orang-orang senang, atau membuat mereka terkesan. Cukup menjadikan diri sendiri patokan. Dengan persepsi demikian, bukankah kebahagiaan justru lebih mudah disambut ketimbang mengharap-harap apresiasi manusia?
Pada pukul enam lewat tak begitu banyak, suasana masih sepi, barangkali hamba-hamba Allah ini tengah pulas dibawa mimpi, atau sekadar menatap langit-langit, menghitung dosa dan memohon ampunan, atau duduk-duduk mengaji, melantunkan dzikir sembari menanti dhuha.
Sabtu, 9 Mei 2020
16 Ramadhan 2020
Ditulis dengan banyaknya sesak dan huru-hara dalam kepala.
Sesungguhnya rasa cemas dan khawatir hanya dapat diobati dengan istighfar, memperbanyak mengingat Allah. Kemudian berserah.
Siti Sonia Aseka
Ramadhan telah lewat separuh, sedang musim tetap sama; seringnya mendung, kemudian hujan. Namun, hiruk-pikuk yang biasa ruah dari masjid-masjid, penjual takjil pinggir jalan, bahkan lalu lintas jelang maghrib tidak lagi seutuh tahun-tahun kemarin. Kali ini, jauh lebih sepi, lebih landai, walau khusyuk menjadi sebaik-baik manusia tetap ada; orang-orang semakin banyak mengingat 'pulang', kian bersiap, menjahit amal-amal yang sempat koyak.
Shubuh hari, entah mengapa teringat bahwa belum sama sekali mengisi blog setelah fiksi soal pelarian dan kehilangan terpublikasi, nyaris akhir bulan April.
Aplikasi menulis di dalam ponsel mendadak seolah terlupakan, sebab pemiliknya terlalu banyak menatap layar laptop. Berjam-jam, setiap hari. Menggantikan eksistensi kemudahan, mulai mencoba-coba hal sulit, memberi challenge pada diri sendiri.
Menulis, bagi saya selalu menjadi tempat terbaik mencurahkan isi kepala, tak melulu soal hati, apalagi drama kehidupan.
Terkadang, hanya dengan menerbitkan sesuatu, kita bisa mendadak merasa 'sehat'.
Target.
Sekarang, bukan hanya bergelut dengan senang dan tidak, atau mau-tidak mau, namun tentang kemampuan mengatur dan memproses ide. Dulu, saya hanya menulis bila dirasa perlu, tidak suka mendapat tekanan apalagi tantangan. Karena menulis adalah salah satu panggilan jiwa. Menulis dibawah paksaan justru hanya akan mengurangi kualitas berimbas pada esensi di dalam tulisan itu sendiri.
Namun, semakin ke sini, ternyata hal-hal demikian tak selalu terasa benar. Faktanya, menjadi produktif juga butuh dorongan, dengan dipaksa serta ditekan sebagai salah satu caranya.
Dengan menatap layar, membaca apa saja yang telah kita tulis hingga puluhan bahkan ratusan lembar, tindakan sejenis ini menstimulus otak demi menyusun alur baru serta kata hingga paragraf yang dituangkan sampai pada titik layak.
Kita semua tengah berupaya, melakukan ragam hal demi setidaknya mampu mengubah sesuatu. Meski standar yang ada dalam masyarakat tetap ganda, walau kita sendiri terkadang ragu soal pantas-tidaknya diri bermimpi dan menggantung lebih banyak andai-andai dibarengi doa, yang jelas kata biasa-biasa saja tidak pernah masuk dalam kamus semesta laiknya milik orang-orang putus asa.
Melampaui batasan, melompati anggapan apalagi sekedar mitos kosong yang membatasi diri agar tak hendak bermanfaat.
Kita harus mulai tekankan untuk meraih sekian banyak pencapaian hanya demi membanggakan diri sendiri, bukan agar orang-orang senang, atau membuat mereka terkesan. Cukup menjadikan diri sendiri patokan. Dengan persepsi demikian, bukankah kebahagiaan justru lebih mudah disambut ketimbang mengharap-harap apresiasi manusia?
Pada pukul enam lewat tak begitu banyak, suasana masih sepi, barangkali hamba-hamba Allah ini tengah pulas dibawa mimpi, atau sekadar menatap langit-langit, menghitung dosa dan memohon ampunan, atau duduk-duduk mengaji, melantunkan dzikir sembari menanti dhuha.
Sabtu, 9 Mei 2020
16 Ramadhan 2020
Ditulis dengan banyaknya sesak dan huru-hara dalam kepala.
Sesungguhnya rasa cemas dan khawatir hanya dapat diobati dengan istighfar, memperbanyak mengingat Allah. Kemudian berserah.
Siti Sonia Aseka
Sabtu, 18 April 2020
Kei Te Kaainga Ahau, Ko Queenstown
Queenstown merupakan kota wisata di Otago bagian barat daya Pulau Selatan. Terletak di Danau Wakatipu, di kaki pegunungan. Kota terbesar di Otago Tengah, dengan jumlah penduduk lebih dari sembilan ribu jiwa.
Selama lima hari ini, Jasmine tidur cukup nyenyak. Bangun pukul tujuh pagi sedikit kurang atau lebih, menikmati sarapan dengan tenang, membersihkan diri, memeriksa perkiraan cuaca, lalu memutuskan untuk pergi ke mana demi menghabiskan jeda waktu yang tersedia.
Dua hari pertama, ia coba naiki Gondola ke Bob’s Peak, tinggi di atas Queenstown ke kompleks Skyline. Nikmati panorama dari puncak Southern Alps dan seluruh Danau Wakatipu. Cuma beberapa menit, namun kepalanya seolah berhasil diterobos angin kencang, sampai mampu banyak melupakan keping memori buruk, dan riuh pertanyaan kalang kabut.
Kemudian, tak ketinggalan coba mendatangi salah satu pemandian air panas atas rekomendasi Leo, sahabatnya. Berendam nyaris empat puluh lima menit, berharap otaknya matang sempurna, atau paling tidak melunturkan jejak-jejak ingatan tentang seseorang di Pulau Utara sana.
Pada sore hari, beberapa kali ia bersepeda, berkeliaran di Arrowtown, mengunjungi Lakes District Museum, atau sekedar duduk-duduk di tepi sungai, berkontemplasi.
Secara sederhana, Jasmine amat menikmati kesendirian yang dihidangkan. Spasi yang ia rentang sampai sulit dijangkau oleh kawan-kawannya di ibu kota, ternyata berhasil menghadirkan kembali logika terbaik setelah dibuat jungkir balik. Ia mematikan ponselnya, sengaja tidak menyentuh media sosial demi menghindari pertanyaan di mana dan mengapa. Dia terlalu lelah harus menjelaskan dan membuat orang-orang menarik kesimpulan secara acak.
Hari ini, ia menjadwalkan untuk pergi ke Gibbston. Mengunjungi kawasan budidaya anggur yang diapit, kadang-kadang tampak menonjol, di antara pegunungan sekis yang terjal dan jurang Kawarau River berbatu. Mungkin juga membeli beberapa potong keju, mencicipi susu domba atau malah menjadi bungy jumper satu hari. Ia butuh berteriak kencang, memaki di atas udara, atau apapun itu untuk mengeluarkan endapan angkara hasil dipupuk bertahun-tahun.
"Lain waktu, akan kutemani mencoba Canyon Swinging."
Leo sempat menjanjikan hal itu kala menjemput Jasmine di airport. Keduanya bahkan gegas menulis daftar destinasi wisata ekstrem apa saja yang akan dicoba. Sayang sekali, Leo punya pekerjaan yang harus diselesaikan, padat sampai akhir pekan. Membuat Jasmine harus rela menunggu. Ia tak sabar merasakan sensasi arung jeram dan berkuda juga.
Jasmine menempati sebuah villa milik keluarga Leo. Bangunan tingkat dua, tegak menjulang bersama konsistensi kayu-kayu cokelat sampai hitam, menghadirkan kesan hangat dan sensasi sebenar rumah. Bagaimanapun, Leo telah mendengar kisah yang dibawa temannya itu dari Auckland. Seperti biasa, melarikan diri. Terdesak oleh kenyataan dan sembunyi. Jasmine selalu demikian, tak berubah sejak masa sekolah menengah.
Makanya, Leo menawarkan paket liburan dengan iming-iming mengunjungi masa kecil mereka di Queenstown. Saat Jasmine menelepon dengan suara serak yang dipastikan hasil habis menangis semalaman, Leo tahu ia memang harus melakukan sesuatu.
Ia tidak paham mengapa perempuan tersebut bisa mendapatkan kisah pahit di Auckland, sebab selama ini, ia tahu bahwa sahabatnya menetap di Wellington bersama orangtua dan seorang adik. Melanjutkan pendidikan serta akan lulus sebentar lagi. Ia ingin bertanya. Namun, mood Jasmine tidak dalam keadaan stabil untuk membeberkan lebih banyak hal, selain permintaan tolong.
Lagipula, Leo merindukan sahabatnya. Empat tahun mereka tidak berjumpa, hanya saling melempar sepatah-dua patah kabar dari pulau berseberangan. Tidak pula terlalu mengikuti kegiatan dan mengetahui lingkar pertemanan macam apa yang mengikat masing-masingnya.
Kemarin, ketika mereka pulang dari menikmati keindahan Arrow River, Jasmine sempat menanyakan tentang camp-camp perkemahan yang mereka lalui demi sampai ke villa. Ada beberapa titik, menampilkan van-van mondar-mandir, bahkan SUV pulang-pergi. Aroma kayu bakar dan barbeque menguar samar-samar. Leo bilang, gelombang pendatang kadang kala lebih tertarik menegakkan tenda sendiri ketimbang harus mencari penginapan yang sulit dijangkau. Juga untuk alasan mencintai alam, beberapa orang lebih suka tertidur berselimut bintang-bintang daripada mencium aroma pewangi buatan yang berdisfusi dengan udara.
"Kamu mau berkemah juga?"
Jasmine mengangguk semangat. "Mau!"
Leo tertawa senang. "Okay, akhir pekan ini setelah semua tugasku selesai, kita akan pergi mencari tempat berkemah yang nyaman."
"Kita harus beli banyak daging dan sosis juga!"
"Iya."
"Lalu, jagung bakar. Iya, aku suka jagung bakar!"
"Tentu."
"Bermain uno, truth or dare, pokoknya semua permainan yang tidak sempat kita lakukan selama empat tahun, harus kita coba!"
"Apapun untukmu."
Jasmine bahagia. Sangat. Rencana menyenangkan yang dibuat bersama Leo selalu happy ending. Mood-nya meningkat, akal sehatnya seolah kembali, dan dia untuk beberapa saat berharap waktu seketika berhenti. Ia ingin menetap di Queenstown selamanya, jauh dari hiruk-pikuk, jauh dari kenangan, dan jauh dari seseorang yang membuat lukanya kian lebar.
"Kamu tahu betapa bahagia aku bisa kembali kemari, bukan?"
Jasmine mengudarakan itu ketika tiba di villa. Mengatakan beberapa ucapan selamat malam dan terima kasih seperti yang lalu-lalu, sebelum Leo akan melaju lagi, pulang ke rumah, lantas menemui ia pagi-pagi. Sarapan bersama, melakukan beberapa hal sesuai permintaan sahabatnya.
"Queenstown memang selalu dapat membujukmu pulang. Tinggalah lebih lama lagi. Aku tidak keberatan sama sekali."
Sungguh, Jasmine ingin mengangguk saat itu juga. Ia memang ingin tinggal selama mungkin. Menghabiskan seluruh sisa liburan dari semester yang menyebalkan. Melupakan masalah yang sengaja ia tinggalkan di dalam lemari kamar di rumah sampai berdebu dan usang.
"Kamu coba merayuku lagi, huh?"
Leo terbahak, namun juga mengangguk. Pemuda satu itu selalu melakukan banyak hal yang mampu mengembalikan Jasmine ke tempat semestinya.
"Sebesar aku menginginkanmu tetap bertahan di sini, sebesar itu pula aku tahu kamu masih sulit untuk melepaskan yang telah pergi."
Jasmine tertawa hambar. Sedikit tersindir dan menghalau udara di hadapan wajah. Omong kosong milik Leo seperti yang ia kenal, tidak pernah terasa benar-benar kosong.
"Percaya kan, bahwa Queenstown punya sisi magis yang bisa menyembuhkan luka jenis apa saja?"
Jasmine mengangguk setuju, membalas jenaka. "Ya, tentu. Bahkan lebih besar dari kepercayaanku terhadap mitologi Māori."
Leo, bagaimanapun, merasa tidak mungkin bila harus terus berdiam diri. Ia mempelajari sahabatnya tanpa disadari. Menerka dengan logika, menarik konklusi dan mendekatkan fakta dengan beberapa email dari Rosella--adik Jasmine, yang mendadak menanyakan keberadaan kakaknya.
"Hei, mau dengar sedikit saran dariku?"
Puan di samping menatap penasaran, mengangguk kecil dengan mata bulat yang sempat Leo percaya mengandung satu sampai dua rasi bintang.
"Sometimes, you have to be willing to let go of the grips of the hands that have been held by someone else's. It's better to start everything from scratch with a new person, rather than looking after someone who doesn't want to be looked. The relationship is not a piece of rope that can be easily broken by a pair of scissors. But, if the sense of belonging to one another only ends up hurting, then use existing commitments to reinforce; love is not present just to hurt one even both. Let go, let it be. Then you will cry once, to laugh as much as possible afterwards."
Palembang, 17 April 2020
Siti Sonia Aseka
Image by Gerard Walker/Getty Images
Selama lima hari ini, Jasmine tidur cukup nyenyak. Bangun pukul tujuh pagi sedikit kurang atau lebih, menikmati sarapan dengan tenang, membersihkan diri, memeriksa perkiraan cuaca, lalu memutuskan untuk pergi ke mana demi menghabiskan jeda waktu yang tersedia.
Dua hari pertama, ia coba naiki Gondola ke Bob’s Peak, tinggi di atas Queenstown ke kompleks Skyline. Nikmati panorama dari puncak Southern Alps dan seluruh Danau Wakatipu. Cuma beberapa menit, namun kepalanya seolah berhasil diterobos angin kencang, sampai mampu banyak melupakan keping memori buruk, dan riuh pertanyaan kalang kabut.
Kemudian, tak ketinggalan coba mendatangi salah satu pemandian air panas atas rekomendasi Leo, sahabatnya. Berendam nyaris empat puluh lima menit, berharap otaknya matang sempurna, atau paling tidak melunturkan jejak-jejak ingatan tentang seseorang di Pulau Utara sana.
Pada sore hari, beberapa kali ia bersepeda, berkeliaran di Arrowtown, mengunjungi Lakes District Museum, atau sekedar duduk-duduk di tepi sungai, berkontemplasi.
Secara sederhana, Jasmine amat menikmati kesendirian yang dihidangkan. Spasi yang ia rentang sampai sulit dijangkau oleh kawan-kawannya di ibu kota, ternyata berhasil menghadirkan kembali logika terbaik setelah dibuat jungkir balik. Ia mematikan ponselnya, sengaja tidak menyentuh media sosial demi menghindari pertanyaan di mana dan mengapa. Dia terlalu lelah harus menjelaskan dan membuat orang-orang menarik kesimpulan secara acak.
Hari ini, ia menjadwalkan untuk pergi ke Gibbston. Mengunjungi kawasan budidaya anggur yang diapit, kadang-kadang tampak menonjol, di antara pegunungan sekis yang terjal dan jurang Kawarau River berbatu. Mungkin juga membeli beberapa potong keju, mencicipi susu domba atau malah menjadi bungy jumper satu hari. Ia butuh berteriak kencang, memaki di atas udara, atau apapun itu untuk mengeluarkan endapan angkara hasil dipupuk bertahun-tahun.
"Lain waktu, akan kutemani mencoba Canyon Swinging."
Leo sempat menjanjikan hal itu kala menjemput Jasmine di airport. Keduanya bahkan gegas menulis daftar destinasi wisata ekstrem apa saja yang akan dicoba. Sayang sekali, Leo punya pekerjaan yang harus diselesaikan, padat sampai akhir pekan. Membuat Jasmine harus rela menunggu. Ia tak sabar merasakan sensasi arung jeram dan berkuda juga.
Jasmine menempati sebuah villa milik keluarga Leo. Bangunan tingkat dua, tegak menjulang bersama konsistensi kayu-kayu cokelat sampai hitam, menghadirkan kesan hangat dan sensasi sebenar rumah. Bagaimanapun, Leo telah mendengar kisah yang dibawa temannya itu dari Auckland. Seperti biasa, melarikan diri. Terdesak oleh kenyataan dan sembunyi. Jasmine selalu demikian, tak berubah sejak masa sekolah menengah.
Makanya, Leo menawarkan paket liburan dengan iming-iming mengunjungi masa kecil mereka di Queenstown. Saat Jasmine menelepon dengan suara serak yang dipastikan hasil habis menangis semalaman, Leo tahu ia memang harus melakukan sesuatu.
Ia tidak paham mengapa perempuan tersebut bisa mendapatkan kisah pahit di Auckland, sebab selama ini, ia tahu bahwa sahabatnya menetap di Wellington bersama orangtua dan seorang adik. Melanjutkan pendidikan serta akan lulus sebentar lagi. Ia ingin bertanya. Namun, mood Jasmine tidak dalam keadaan stabil untuk membeberkan lebih banyak hal, selain permintaan tolong.
Lagipula, Leo merindukan sahabatnya. Empat tahun mereka tidak berjumpa, hanya saling melempar sepatah-dua patah kabar dari pulau berseberangan. Tidak pula terlalu mengikuti kegiatan dan mengetahui lingkar pertemanan macam apa yang mengikat masing-masingnya.
Kemarin, ketika mereka pulang dari menikmati keindahan Arrow River, Jasmine sempat menanyakan tentang camp-camp perkemahan yang mereka lalui demi sampai ke villa. Ada beberapa titik, menampilkan van-van mondar-mandir, bahkan SUV pulang-pergi. Aroma kayu bakar dan barbeque menguar samar-samar. Leo bilang, gelombang pendatang kadang kala lebih tertarik menegakkan tenda sendiri ketimbang harus mencari penginapan yang sulit dijangkau. Juga untuk alasan mencintai alam, beberapa orang lebih suka tertidur berselimut bintang-bintang daripada mencium aroma pewangi buatan yang berdisfusi dengan udara.
"Kamu mau berkemah juga?"
Jasmine mengangguk semangat. "Mau!"
Leo tertawa senang. "Okay, akhir pekan ini setelah semua tugasku selesai, kita akan pergi mencari tempat berkemah yang nyaman."
"Kita harus beli banyak daging dan sosis juga!"
"Iya."
"Lalu, jagung bakar. Iya, aku suka jagung bakar!"
"Tentu."
"Bermain uno, truth or dare, pokoknya semua permainan yang tidak sempat kita lakukan selama empat tahun, harus kita coba!"
"Apapun untukmu."
Jasmine bahagia. Sangat. Rencana menyenangkan yang dibuat bersama Leo selalu happy ending. Mood-nya meningkat, akal sehatnya seolah kembali, dan dia untuk beberapa saat berharap waktu seketika berhenti. Ia ingin menetap di Queenstown selamanya, jauh dari hiruk-pikuk, jauh dari kenangan, dan jauh dari seseorang yang membuat lukanya kian lebar.
"Kamu tahu betapa bahagia aku bisa kembali kemari, bukan?"
Jasmine mengudarakan itu ketika tiba di villa. Mengatakan beberapa ucapan selamat malam dan terima kasih seperti yang lalu-lalu, sebelum Leo akan melaju lagi, pulang ke rumah, lantas menemui ia pagi-pagi. Sarapan bersama, melakukan beberapa hal sesuai permintaan sahabatnya.
"Queenstown memang selalu dapat membujukmu pulang. Tinggalah lebih lama lagi. Aku tidak keberatan sama sekali."
Sungguh, Jasmine ingin mengangguk saat itu juga. Ia memang ingin tinggal selama mungkin. Menghabiskan seluruh sisa liburan dari semester yang menyebalkan. Melupakan masalah yang sengaja ia tinggalkan di dalam lemari kamar di rumah sampai berdebu dan usang.
"Kamu coba merayuku lagi, huh?"
Leo terbahak, namun juga mengangguk. Pemuda satu itu selalu melakukan banyak hal yang mampu mengembalikan Jasmine ke tempat semestinya.
"Sebesar aku menginginkanmu tetap bertahan di sini, sebesar itu pula aku tahu kamu masih sulit untuk melepaskan yang telah pergi."
Jasmine tertawa hambar. Sedikit tersindir dan menghalau udara di hadapan wajah. Omong kosong milik Leo seperti yang ia kenal, tidak pernah terasa benar-benar kosong.
"Percaya kan, bahwa Queenstown punya sisi magis yang bisa menyembuhkan luka jenis apa saja?"
Jasmine mengangguk setuju, membalas jenaka. "Ya, tentu. Bahkan lebih besar dari kepercayaanku terhadap mitologi Māori."
Leo, bagaimanapun, merasa tidak mungkin bila harus terus berdiam diri. Ia mempelajari sahabatnya tanpa disadari. Menerka dengan logika, menarik konklusi dan mendekatkan fakta dengan beberapa email dari Rosella--adik Jasmine, yang mendadak menanyakan keberadaan kakaknya.
"Hei, mau dengar sedikit saran dariku?"
Puan di samping menatap penasaran, mengangguk kecil dengan mata bulat yang sempat Leo percaya mengandung satu sampai dua rasi bintang.
"Sometimes, you have to be willing to let go of the grips of the hands that have been held by someone else's. It's better to start everything from scratch with a new person, rather than looking after someone who doesn't want to be looked. The relationship is not a piece of rope that can be easily broken by a pair of scissors. But, if the sense of belonging to one another only ends up hurting, then use existing commitments to reinforce; love is not present just to hurt one even both. Let go, let it be. Then you will cry once, to laugh as much as possible afterwards."
Palembang, 17 April 2020
Siti Sonia Aseka
Image by Gerard Walker/Getty Images
Rabu, 08 April 2020
Trilogi Bagian 3: Galaksi
Sepanjang hidup, Galaksi tidak pernah merasa benar-benar sedih. Baginya, menderita atas takdir baik yang gagal setelah berupaya, sama sekali tidak mampu mengubah apa-apa. Ia bukannya si sempurna yang punya semua dalam genggaman. Ia bukan anak emas yang lahir dari sepasang berlian. Dia Galaksi, hanya Galaksi.
Jika bicara soal sempurna, barangkali Kejora, sepupunya, adalah definisi paling benar, paling dekat. Meski terkadang, Galaksi tak dapat singkirkan rasa janggal tiap tangkap tawa riang si gadis yang justru selalu terdengar hampa.
Kemudian, setelah satu telepon terakhir berisi percakapan aneh mereka soal surga dan neraka, Galaksi mendadak sadar; Kejora tengah susah payah obati jiwanya yang patah, meski gagal dan malah makin terhempas hingga kacau balau, berserakan.
Untuk pertama kali dalam hidupnya, Galaksi meneteskan air mata. Bukan, bukan soal kepergian. Bukan soal raga ringkih yang tak mampu lagi ia lihat dalam sekali lipatan jarak, namun tentang ketidakmampuan menyelamatkan meski sekedar mengulurkan tangan.
Lantas, di pemakaman hari itu, Galaksi mengangkat payung hitamnya tinggi-tinggi. Pandangi nisan bersama hati sesak dan sakit. Sekarang, apa yang bisa ia perbaiki?
Namun, nyaris. Nyaris kakinya melangkah pergi, sepasang netranya menangkap sosok asing. Mata tajam yang redup, wajah pucat namun tidak terlihat rusak sama sekali. Kekosongan yang tercipta barangkali adalah pertama dan satu-satunya pedih atas kehilangan dan penyesalan.
Lagi, untuk pertama kali, Galaksi sadar, ia tidak benar-benar sendiri. Untuk pertama kalinya, ia tahu, dirinya memiliki sesuatu untuk digenggam setelah telapaknya tandus dan gersang.
Untuk pertama kali ia pikir, kali ini, ia tidak terlambat membuat keputusan dengan benar. Akan ia ulurkan tangan sampai disambut suka cita tanpa ada yang harus pergi dan hilang. Karena sungguh, ia tak siap untuk dihabisi kerinduan, dilibas angan-angan dan berakhir mati sebelum ciptakan sebentuk manis yang telah lama usang.
Palembang, 8 April 2020
Siti Sonia Aseka
Trilogi Bagian 2: Semesta
Semesta barangkali mengingat impian ibu tentang keagungan namanya. Yang tak tertandingi, tanpa batas, luas bagai lapang dada milik yang Esa; Semesta Raya. Tapi kemudian, bertahun setelah hari itu membuatnya terbang ke angkasa, Semesta mulai berpikir; mungkin memang sejak awal, ibu tidak perlu menggantung harapan setinggi bintang padanya.
"Tahu tidak apa eksistensi cendala terkonyol di dunia ini?"
"Apa?" Kala itu, Kejora membuat Semesta menebak-nebak kelabu dibalik mentari jelang siang.
"Saat kesempurnaan adalah tuntutan, namun mencapainya justru berbuah hinaan."
Semesta terbahak. Keras sekali. Hari itu ia tidak sedikitpun menangkap makna utuh dari kalimat getir milik Kejora.
Namun, setelah Kejora bahkan menemukan langit abadinya, bercahaya layak dan menyinari redup dalam hati temaram meski harus terkubur di dasar tanah, Semesta baru menyadari; sekeras dan sehebat apapun ia berusaha memenuhi keinginan semua orang, itu bahkan tidak akan mendekati cukup untuk memuaskan mereka.
Semesta harusnya mengerti lebih awal. Perempuan itu lebih baik menelan pahit dari kalimat milik Kejora sebelum teman baiknya pergi dibawa lari takdir atas sebuah insiden konyol persis ucapannya; "Aku sudah tidak ingin menerima permintaan yang bahkan tidak mampu kuwujudkan."
Atas alasan itu, Semesta barangkali memang tak berminat jadikan Galaksi sebagai rekan. Tidak, dia tidak siap kehilangan lagi. Tidak akan pernah. Namun, sosok itu, sekeras apapun Semesta mendorong bersama tatap dan ucap paling keji, Galaksi tak pernah sekalipun berniat angkat kaki.
"Hei, katanya kamu ahli dalam Antropologi, ya? Aku suka sih pelajaran itu, tapi sulit. Mau mengajarkanku, tidak?"
"Tidak."
Semesta melengos. Habiskan cepat-cepat sepotong terakhir martabaknya demi enyah dari hadapan pemuda itu.
"Buset, gitu amat."
Andai Kejora ada di sini, Semesta mungkin tak perlu repot meladeni presensi orang-orang yang sama sekali tak hendak ia temui. Kejora, sesuai namanya; bersinar, menyilaukan, dan tak ragu bagikan cahaya kepada redup milik sekitar, termasuk Semesta tentu saja.
"Tahu tidak kalau semesta dan galaksi selalu punya hubungan?"
Dahi Semesta mengernyit. Galaksi tersenyum lebar, menyaksikan setitik binar tanya dari sepasang netra milik teman barunya.
"Mau tahu jawabannya? Kamu harus bersedia mengajariku Antropologi dulu. Nanti, kita bisa bahas soal tata surya bila perlu."
Semesta tertawa dalam benak. Pola klise yang sudah dapat ia duga seharusnya. Jadi di sana, menatap tanpa ekspresi, menghabiskan sisa lelahnya pada segelas es teh, Semesta gesit melarikan diri. Buat renggang spasi, sengaja ciptakan jarak.
Semata agar dongeng tentang satu kesatuan konstelasi hingga kumpulan awan tidak berhasil mampir, hancurkan jiwanya, lagi dan lagi.
Palembang, 8 April 2020
Siti Sonia Aseka
Langganan:
Postingan (Atom)
Merespons Fatwa HARAM Vasektomi yang dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia
Sepekan lalu, MUI melalui akun Instagram resminya, merilis tanggapan mengenai kebijakan yang diberlakukan oleh Gubernur Jawa Barat, yaitu: m...
-
Sepekan lalu, MUI melalui akun Instagram resminya, merilis tanggapan mengenai kebijakan yang diberlakukan oleh Gubernur Jawa Barat, yaitu: m...
-
Jadi, pada senja yang nyaris rebah itu, ku telusuri jalanan padat lagi sempit. Demi satu porsi Gelato yang habis ditelan ingin, pada mas...
-
Jadi, karena beberapa waktu belakangan banyak sekali hal yang terjadi, dan kepala saya jujur saja tidak bisa menampung segalanya dengan baik...




